Suami Sewaan

Suami Sewaan
Fitting baju


__ADS_3

Acara pertunangan berjalan dengan lancar, sepanjang acara Kinar berusaha tersenyum, namun Dimas hanya diam dan menjawab seperlunya saat keluarga Kinar berbicara dengannya, untuk menutupinya Kinar yang over aktif membantu menjawab pertanyaan mereka.


Akhirnya selesai sudah acara lamaran sekaligus pertunangan mereka, Kini kinar sudah berada di kamarnya setelah sibuk membantu membereskan ruang tamu sehabis acara.


Kinar merebahkan tubuhnya yang terasa kaku, ia menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terlihat sedih.


Dalam beberapa hari kedepan ia akan menikah dengan seorang pria yang tidak pernah ia cintai, namun Kinar berjanji dalam hati ia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Dimas.


Kinar menatap bingkai foto yang tergeletak di atas meja belajarnya


Foto dirinya dan kedua orangtuanya sedang memeluknya, tangis Kinar pecah, ia menangis tanpa suara membelai wajah pada foto tersebut.


Kemarin ia sudah menerima uang yang di janjikan oleh Mariska, Kinar sudah memberikan semua ya pada dokter Nugraha dan meminta beliau segera mencari donor untuk mamanya, kebetulan sekali ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya dan cocok untuk Anggi, Kinar tak tahu siapa orang tersebut, karena orang tersebut menyembunyikan statusnya.


Pandangan mata Kinar tertuju pada foto di sampingnya, ia kemudian menutup foto tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, beserta bingkai fotonya


Kinar duduk di meja belajarnya dan kembali menangis.


Hatinya tercabik-cabik karena melihat foto tersebut.


”,Biarkan semuanya berakhir disini, kamu ataupun aku tidak ditakdirkan bersatu” ucap Kinar lirih kemudian membawa bingkai foto mama dan papanya ke tempat tidur, memeluknya hingga ia tertidur.


Keesokan harinya


Pagi-pagi sekali Mariska sudah menghubunginya, ia meminta Kinar pergi ke perusahaan Dimas, mereka akan melakukan fitting baju pengantin.


Kinar tak tahu harus beralasan apa lagi, ia hanya menyetujuinya, namun setelah panggilan berakhir ia menyesal sudah setuju datang ke kantor Dimas.


Kinar sangat tahu sekali jika Dimas sangat membencinya bahkan mungkin ia membenci Kinar sampai ke tulang sumsumnya.


Dengan enggan Kinar melajukan kendaraanya menuju perusahaan milik Dimas, ia berpakaian sederhana, pakaian yang biasa ia pakai


Sesampainya di resepsionis , Kinar langsung bertanya di mana ruangan Dimas berada


”Selamat siang Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang resepsionis


”Siang mba, saya mau menemui pak Dimas” ucap Kinar mengulas senyum


”Pak Dimas yang mana ya mba? pak Dimas manager? tapi beliau sedang cuti karena istrinya melahirkan” ucap si resepsionis


”Bukan-bukan pak Dimas itu, tapi ok Dimas putra Brahmantyo" ucap Kinar menyebut nama panjang Dimas


”Apa ibu sudah buat janji? karena jika ingin menemui Presdir harus buat janji dulu bu” ucap si resepsionis menjelaskan


”Kenapa Des? tanya rekannya yang sedari tadi memperhatikan”

__ADS_1


"Ini mba, ibu nya mau bertemu dengan pak Presdir, tapi belum buat janji” ucap resepsionis yang bernama Desi


Rekan Desi menatap Kinar dari atas hingga bawah dan tersenyum mengejek.


Ia melihat Kinar dengan pandangan merendah, Kinar yang ditatap jadi serba salah di buatnya


”Desi, lain kali kalau ada orang bau bertemu dengan pak Presdir kita kamu juga harus lihat dulu orangnya siap? jangan main iyakan saja, terlebih harus jelas siapa mereka.


Presdir tidak bisa menerima sembarangan orang atau kamu mau dipecat????" ucap resepsionis senior bernama Weta


"Maaf mba, saya hanya bersikap ramah karena tugas kita sebagai resepsioni" ucap Desi


"Kamu anak baru dikasih tahu malah ngelawan" Dengus Weta tak senang


"Sudah mba, biar saya tunggu di sini saja"ucap Kinar berusaha melerai kedua resepsionis itu, Kinar kasihan melihat resepsionis junior itu di gertak seniornya


Kinar kemudian duduk di ruang tunggu, berharap Dimas akan segera turun ke lobby.


Satu jam sudah berlalu, namun Dimas tak kunjung turun ke lobby, hingga ekor matanya melihat Damar yang berjalan santai masuk menuju lift dengan tergesa-gesa Kinar bangkit dan berjalan, berusaha mengejar Damar, namun seorang security menghentikannya, Kinar memohon diizinkan naik namun security melarangnya


Damar yang mendengar keributan melihat kebelakang dan melihat calon kakak iparnya sedang berdebat dengan security


Ia urung naik lift dan keluar lagi mendekati Kinar


"Kak Kinar? kok kakak ada di sini?" tanya Damar


"Ayo kak, ikut aku" ajak Damar menarik tangan Kinar


Damar membawa Kinar menuju resepsionis


"Siang mas Damar"Sapa Weta ramah namun ia langsung menatap sinis pada Kinar yang berdiri di samping Damar.


"Mba Weta tolong perhatikan dan beritahu semua resepsionis yang bertugas ya.


perkenalkan beliau ibu Kinar, Bu Kinar adalah calon istri kak Dimas, dengan kata lain beliau adalah calon istri pemilik perusahaan ini.


Saya gak mau kejadian kak Kinar menunggu dan tidak di perbolehkan masuk terulang kembali, apa mba Weta paham. untu hari ini saya masih toleran” ucap Damar tegar, sikap selengean nya hilang berganti wibawa. Kinar kagum dengan sikap Damar.


"Maafkan kami Bu" ucap Desi langsung menunduk


"Tak apa bukan salah kalian, ayo Damar, aku takut mas Dimas sudah menanti diatas” ucap Kinar.


Mereka lalu menaiki lift menuju lantai teratas di gedung tersebut.


Saat memasuki lantai teratas yang merupakan ruangan presiden direktur. Tiga sekertaris di ruangan tersebut terlihat langsung berdiri begitu melihat Damar, salah satunya bangkit dan menyambut Damar.

__ADS_1


"Siang mas Damar” Sapa sekertaris Dimas yang senior, ia sudah bekerja semenjak papa mereka masih hidup.


"Pagi Tante Amel, apa kak Dimas ada?” tanya Damar


"Ada di dalam mas, sepertinya mood nya sedang buruk, sejak pagi marah-marah" bisik Amel pelan


”Ayo silahkan" ucapnya ramah lalu menuntun mereka menuju ruangan kerja Dimas.


Tok tok tok


Bu Amel mengetuk pintu ruangan kerja Dimas dan kemudian membukanya setelah terdengar perintah dari dalam


Ruangan tersebut terbuka dan nampak Dimas sedang duduk di kursi kebesarannya wajahnya yang serius terlihat sangat mengintimidasi siapapun yang melihatnya, aura seorang pemimpin menyeruak


"Kak, kenapa kakak tidak meminta Bu Amelenjemput Kinar di bawah, dia sudah menunggu di lobby selama satu jam" ucap Damar kesal


Dimas mengangkat wajahnya memandang adiknya kemudian Kianr sekilar, lalu kembali fokus pada berkas yang ada di meja kerjanya


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Dimas tanpa menoleh


"Aku diminta mama ke kantormu, kita akan fitting pakaian, mama menunggu kita di butik A


”Aku tak bertanya padamu"ucap Dimas mengejek


”Mama memintaku segera ke sana, kamu anak durhaka membuat mama menunggu kamu sampai satu jam lebih" ucap Damar tak senang


"Ini semua bukan salahku, tapi wanita itu yang datang telat"ucap Dimas menimpa kesalahan pada Kinar


membuat Kinar menunduk malu karena merasa bersalah


"Maaf" ucap Kinar lirih


"Gak perlu minta maaf kak Kinar ga salah, kak Dimas aja sepertinya yang sengaja membuatmu menunggu di bawah, atau jangan-jangan dia mau ingkar janji" ucap Damar mengejek kakaknya


"Kalau kamu datang ingin membuatku marah, kamu salah orang"


"Terserah, cepat kalian pergi ke butik A, kalian membuat mama menunggu lama, ingat kesehatan mama belum sepenuhnya membaik" ucap Dinar sengaja menekankan kesehatan mamanya agar Dimas melunak, dan benar saja Dimas langsung bangkit, meraih jas nya dan berjalan melewati Damar dan Kinar


Dimas kemudian menoleh ke belakang dan menatap Kinar tajam


"Apa kau mu membuat mertuamu lelah menunggu???? tunggu apa lagi, cepat" ucap Dimas lalu kembali berjalan menuju lift, dengan setengah berlari Kinar menyusul Dimas


"Mas tunggu" ucap Kinar mengejar Dimas


Siang itu, berita tentang calon istri Dimas menyebar di perusahaannya, mereka banyak yang kecewa, sakit hati dan terkejut. pasalnya yang mereka ketahui calon istri Presdir mereka adalah seorang model ternama yang sangat cantik, mengapa justru kini di kabarkan akan menikah dengan wanita bias-biasa saja.

__ADS_1


Semua kabar itu berhembus dari Weta, resepsionis yang membenci Kinar, Karena gara-gara Kinar, ia jadi di tegur Damar dan membuatnya malu di depan para juniornya


__ADS_2