
"Hei apa karena aku ingin mencari kakak ipar untukmu membuatmu cemburu hingga menangis? " goda Brams lagi
Anggi memukul pelan dada bidang pria di depannya itu, pria sempurna namun Allah tidak mengetuk hatinya untuk mencintai pria itu walau Anggi berusaha mencintainnya, tapi pada akhirnya ia hanya menganggap Brams kakak.
Anggi memeluk Brams dan menangis. ia meluapkan semua emosi nya dalam dekapan Brams
"Menangislah jika memang bisa membuatmu lebih baik" bisik Brams sambil membelai rambut Anggi
Anggi meluapkan emosi yang selama ini dipendamnya, ia menangis tersedu-sedu dalam dekapan Brams.
Brams hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi melihat wanita yang di cintainya terluka begitu dalam, sakit rasanya.
Bila ia boleh memilih, lebih baik sakit karena luka luar di bandingkan sakit melihat orang kita cintai menangis, tak berdaya.
Setelah beberapa saat akhirnya tangis Anggi reda, ia sudah bisa menguasai dirinya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap tajam penuh dengan amarah ke arah mereka berdua
pasalnya jika orang lain yang melihat pasti akan mengira mereka berdua sedang berselingkuh karena posisi mereka yang terlihat intim
Brams menghapus air mata di pipi Anggi dengan lembut. menengadahkan wajah Anggi menghadapnya
"Dasar wanita ja**ng, keliatannya aja alim, aku sungguh kecewa sama kamu Nggi, di saat aku sibuk mencari Widya kamu malah tak perduli keadaan Widya, malah asik bermesraan dengan pria lain di kamarmu, sungguh tak punya hati" ucap seseorang yang berdiri memandang kedalam kamar Anggi dengan tangan terkepal, orang itu tak lain adalah Satria yang setelab dari rumah Tia menyadari kesalahannya bergegas pulang kerumah. Satria membatalkan pencariannya ke rumah Evi karena ia teringat Anggi yang ia tinggalkan di bandara beberapa waktu lalu.
Namun saat ia sampai di rumah dan menuju kamar Anggi, betapa terkejutnya ia mendapati laki-laki lain berada di kamar Anggi, sedang memeluk istrinya yang menangis, terlihat sekali si pria yang begitu mencintai istrinya.
Satria sengaja tidak mengganggu mereka, karena ia ingin tahu sampai seberapa jauh kelakuan bejad Anggi, hingga Brams menengadahkan wajah Anggi, Satria tak kuasa menahan emosi nya, ia cemburu dan merasa di khianati.
Dengan geram Satria keluar rumah dan memacu kendaraannya seperti kesetanan, ia hanya ingin sendiri saat ini, hatinya tak menenti kecewa, kehilangan, hampa
Hingga akhirnya kendaraannya sampai di sebuah rumah yang tak lain adalah kediaman nya dulu bersama Widya, ia melangkah masuk dan menutup diri di kamar
begitu banyak kenangan dirinya dan Widya dalam rumah ini.
__ADS_1
Satria merutuki dirinya sendiri yang membiarkan Widya pergi.
Satria berfikir keras bagaimana dan kenapa Widya meninggalkannya saat mereka akan memiliki anak buah pernikahan mereka
Hingga Satria dengan geram memukul mukul kan tangannya ke tembok hingga darah bercucuran
"Ini semua gara-gara Anggi, aku yakin Widya pergi karena Anggi" ucap Satria penuh benci
hingga akhirnya Satria tumbang tak sadarkan diri.
Sementara di kediaman Anggi
Brams berusaha menenangkan Anggi yang masih menyisakan isakan kecil
"Jangan nangis lagi ok, gue janji akan menjaga loe, jadi kalau loe punya masalah, cerita sama gue.
Bukan kah loe udah anggap gue saudara laki-laki loe.
Sebagai kakak laki-laki loe udah kewaiban gue melindungi loe dan loe harus dengar apa kata kakak loe ini"
"Nah gitu doang, senyum kalau sedih lagi bisa-bisa muka loe nanti saingan sama mbok inah" seloroh Brams membuat bibir Anggi mengerucut
"Enak aja" ucapnya kesal membuat Brams tertawa terbahak-bahak sambil mengacak-acak rambut Anggi.
"Gue dah suruh orang buat ikuti Satria, beberapa waktu lalu ia melihat Satria di rumah seseorang dan terlihat akrab"
"Mungkin itu sahabat mba Widya, aku pernah dengar kalau Widya memiliki beberapa sahabat dekat, dan salah satunya baru menikah beberapa bulan lalu"
"Mungkin" ucap Brams cuek mengangkat bahunya malas
Drrrtttttt Drtttttt Drtttttttt
Ponsel Brams bergetar, ia segera mengangkat panggilan telepon dari seseorang, terlihat alisnya berkerut dan menyudahi pembicaraan mereka dengan cepan dan memasukkan kembali ponselnya dalam saku kemeja nya
__ADS_1
"Siapa? " Tanya Anggi penasaran
"Sebaiknya kamu ikut aku kesuatu tempat"
"Untuk apa? aku tak mau jika tidak jelas kemana kita akan pergi"
"Ini tentang suamimu? apa masih gak mau ikut?"ucap Brams cuek, ia bangkit lalu berjalan keluar dari kamar Anggi
"Brams tunggu aku ganti baju sebentar" teriak Anggi karena melihat Brams sudah menjauh
Beberapa saat kemudian
Kendaraan yang mereka naiki berhenti di sebuah rumah yang Anggi kenal, rumah yang dahulu di tempati oleh Satria dan Widya
"Apa suamiku di dalam? " tanya Anggi ragu, pasalnya semua lampu rumah masih padam
"Menurut anak buahku, suamimu sore tadi masuk kedalam rumah ini dan lihat, itu kendaraannya" ucap Brams menunjuk mobil yang terpakir di garasi dengan rapih
"Anggi turun dari mobil lalu melangkah memasuki rumab tersebut, ia membalikkan badan nya tiba-tiba
"Brams, bisakah kamu menungguku sebentar saja sampai aku yakin suamiku di dalam baik-baik saja"
"Baiklah, cepat masuk temui suami mu" ucap Brams, ada nada getir di suaranya, jika Saja wanita ini lebih memilihnya, Brams bisa memastikan Anggi bahagia bersama nya.
Tubuh Anggi sudah menghilang ke dalam rumah, satu persatu lampu dalam rumah itu menyala, lalu ia menuju kamar yang menjadi kamr Satria dan Widya dulu.
Gelap gulita dan tak terdengar suara apapun, Anggi mencari sakler lampu dab menyalahkannya
Beberpa detik matanya beradaptasi dengan perubahan, ia mengerjab beberapa kali hingga pandangannya tertumpu pada sosok seseorang yang tergeletak di lantai dengan darah di tangannya
"Mas Satriaaaaaa" teria Anggi histeris sambil menangis mendapati suaminya berlumuran darah
Brams yang mendengar teriakan Anggi secepat kilat menyusul Anggi masuk ke dalam rumah, Brams melihat Anggi yang menangis dan memeluk suami nya, ia memeriksa kondisi Satria, lalu mengangkat Tubuh Satria di bantu oleh Anggi
__ADS_1
Brams langsung memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat, sementara dari balik spion mobil, ia melihat Anggi yang menangis meratapi suaminya, Wanita itu sangat ketakutan melihat kondisi Satria, ia terus saya membelai wajah suaminya dengan penuh cinta, berharap Satria membuka matanya
"Andai aku pria yang menjadi suamimu, sungguh aku pria yang paling beruntung di dunia, namun pria itu tak pantas kamu tangisi Nggi" gumam Brams dalam hati