
Anggi berkeliling dari toko satu ke toko lainnya, membeli semua pakaian dan mainan untuk kedua buah hatinya, ia juga sudah merapihkan rambut Kinar, walau dengan usaha keras karena Kinar meronta ketakutan.
Dan berakhir bermain di arena anak, wajah Kinar terus tersenyum, nampak kebahagiaan di wajah polosnya itu, mungkin ini pertama kalinya ia bermain di tempat seperti ini,
"aku akan sering membawamu ketempat bermain, hingga kamu bisa lupa kepedihan hidupmu nak" ucap Anggi dalam hati, ia menyeka air mata yang tak sengaja merembes keluar
"Aku merasa mengadopsinya adalah keputusan paling tepat yang aku pernah ambil dalam hidupku, mba Widya, aku akan menyayangi dan merawat anak mu seperti anakku sendiri, aku janji. Semoga kamu tenang di alam sana mba”ucap Anggi lirih
Anggi pulang sambil menggandeng tangan kecil Kinar, sementara Aisya berada dalam gendongan Prapti.
Kinar berbinar senang saat Anggi mengajaknya naik mobil.
Sepanjang perjalanan Kinar berdiri memandang pemandangan yang mereka lalui, matanya berbinar senang sambil sesekali menunjuk-nunjuk mobil atau apapun yang dilihat nya.
Kinar menunjuk sambil berbicara yang Anggi tak ketahui, maklum di usianya yang sudah akan menginjak dua tahun, ia belum bisa berbicara jelas.
”Kinar senang? besok kita jalan-jalan lagi ya. Sekarang kita pulang dulu, karena dedek Aisya sudah cape, mama juga cape” ucap Anggi lembut membelai rambut Kinar. Gadis kecil itu mengangguk mengerti, sambil menunjuk ke arah Aisya
Sesampainya di depan rumah, Anggi menggandeng tangan Kinar, namun gadis kecil itu terdiam menatap rumah Anggi, ia terlihat ragu-ragu.
”Sekarang Kinar tinggal sama mama dan dedek Aisya” Kinar masih diam menatap lurus kearah rumah, ada trauma tersendiri yang masih membekas di hatinya.
”Kinar takut ya? kan ada mama , Kinar gak usah takut”
bujuk Anggi, Kinar memegang kencang tangan Anggi, wajahnya tegang.
Anggi membelai rambutnya, ia mengeluarkan coklat dari tasnya dan menyerahkannya pada Kinar, lalu setelah Kinar fokus pada coklat di tangannya, ia menggendong Kinar dan membawanya masuk kedalam rumah.
Kinar mendekap erat Anggi, ia mengintip dari balik rambut Anggi dan lama kelamaan pelukannya melonggar.
Anggi menggendong Kinar menuju kamar yang ia siapkan, semuanya serba dadakan, hanya sehari saja ruang sebelah kamar bekas Widya tinggal sudah berubah jadi kamar gadis kecil bernuansa putri
Kinar melepaskan pelukannya pada Anggi.
Anggi lalu menurunkan Kinar, gadis itu menatap Anggi seolah meminta persetujuan, Anggi tersenyum mengangguk, Kinar langsung berlari menaiki tempat tidurnya, lalu turun menuju sudut ruangan dimana tersusun banyak boneka berjejer rapih, ia memeluk satu persatu dan meletakkannya kembali.
__ADS_1
Namun saat malam menjelang tidur Kinar tak mau jauh dari Anggi, terpaksa Anggi membawanya tidur di kamarnya karena tak mungkin Anggi meninggalkan Aisya yang masih menyusu ASI padanya.
Beberapa hari kemudian
Sudah tiga hari Anggi tidak menjenguk Satria, ia sibuk mengurus dua buah hatinya. Kini Kinar sudah ceria, bobot tubuhnya pun berlangsung naik.
Wajah Kinar yang tirus kini sudah mulai terlihat segar.
Anggi mendatangkan terapis khusus untuk perkembangan Kinar, ia juga belajar mengucap beberapa kata, Anggi mendampingi Kinar saat ia belajar. Anggi sengaja menambah seorang baby sitter yang khusus mengawasi dan membantu ia merawat Kinar
Sementara di rumah sakit, Satria terus saja menatap pintu ruang rawatnya. Sudah sejak kemarin ia di pindahkan keruangan rawat biasa. Ia belum bisa melihat jelas, ia berharap bisa segera melihat dan mengejar cinta Anggi, menebus segala kesalahannya pada Anggi di masa lalu.
”Anggi tidak akan datang hari ini, ia membawa Kinar ” ucap Bagus tiba-tiba
”Kinar? siapa Kinar? setahuku anakku bernama Aisya” ucap Satria mengerutkan alisnya berfikir
”Aduh mampus gue kelepasan ngomong, gue lupa kalau Anggi belum cerita semua,alasan apa ya?”
Bagus panik, ia keceplosan bicara
Satria menatap tajam Bagus yang terlihat serba salah, Bagas terlihat berfikir mencari alasan yang tepat untuk menutupi kesalahannya
”Kak, kak Bagus, aku tahu kau bohong kak” teriak Satria, ia berusaha bangkit, namun pandangannya yang masih belum jelas membuatnya terjatuh dan hingga kepalanya kembali terantuk meja hingga ia tak sadarkan diri
Bagus yang mendengar suara Satria terjatuh langsung berlari ke dalam kamar rawat Satria, dan mendapati Satria tergeletak di lantai
"Satriaaaa,bangun Sat"panggil Bagus panik.
Bagus lalu memanggil suster, tak lama suster datang dan memeriksa lalu selang beberapa menit dokter Krisno datang, ia memeriksa Satria dengan teliti.
Setelah dokter Krisno memeriksa, Bagus langsung menghampirinya
"Bagaimana keadaan Satria dok? tanya Bagus khawatir
”Keadaannya batik, hanya luka akibat kecelakaan beberapa waktu lalu masih ada dan kini ia terbentur, saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut" ucap Dokter Krisno lalu ia meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Beberapa suster mempersiapkan Satria untuk di bawa keruangan lain, untuk menjalani scanning kepala
Bagus mengabari Putu dan Anggi, termasuk Ridwan, setelah satu jam kemudian mereka semua tiba dalam waktu yang hampir bersamaan
”Bagaimana kejadiannya sampai dia jatuh?" tanya Putu begitu sampai
”Maaf pa, semua gara-gara Bagus kelepasan menyebut nama Kinar. Bagus langsung pergi karena takut Satria bertanya lebih, dan ternyata Satria berusaha bangun dan terantuk pinggiran meja hingga ia jatuh pingsan dilantai” ucap Bagus menundukkan kepalanya
”Ini semua bukan kesalahanmu, kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja”ucap Putu pelan
”Pa, sebaiknya papa dan mama duduk saja, Ridwan akan mencari informasi”ucap Ridwan kalau berjalan menuju ruang kerja dokter Krisno
Beberapa saat kemudian Ridwan kembali, wajahnya tidak terlihat tegang sama sekali, mereka semua berharap kabar yang dibawa oleh Ridwan bisa menenangkan hati mereka
”Bagaimana nak, apa yang kamu dapat? tanya Putu tak sabaran
”Berita baiknya Satria tidak cidera parah karena kejadian barusan dan kemungkinan trauma akibat kecelakaan yang mempengaruhi matanya akan berangsur membaik” ucap Ridwan
”Alahamdulillah”ucap semua orang
”Namun” Ridwan terdiam, ia menatap Anggi lalu kedua orangtuanya bergantian
”Namun apa nak, katakan, kami harus tahu dan kami siap mendengarkanmu” ucap Putu
”Katakan kak, jangan buat aku jantungan” ucap Anggi menimpali.
Anggi merasa Ridwan ragu mengatakan dan ini mungkin ada kaitannya dengan dirinya
Ridwan menarik nafas, ia menghembuskan ya dengan kasar
”Satria mengalami amnesia sementara” ucap Ridwan lirih
”Astaghfirullah” ucap semua terkejut
”Tapi hanya beberapa kejadian tidak semuanya. Dia masih mengenaliku, namun ia tak tahu mengapa ia berada di rumah sakit” ucap Ridwan pelan
__ADS_1
” Aku ingin menemuinya”ucao Anggi langsung
”Sebentar lagi, Satria akan di bawa kembali ke kamarnya, sebaiknya kita semua menunggunya di kamar, aku akan tetap disini menemaninya, aku harap jangan ada yang membuatnya tertekan, kita biarkan ia mengingat semuanya perlahan. Memory yang ia dapat mendadak akan membuatnya mengalami sakit kepala hebat, khususnya kamu Anggi, kakak rasa kamu harus mempersiapkan dirimu” ucap Ridwan menatap Anggi, Anggi mengangguk pelan, yang terpenting kesembuhan Satria