Suami Sewaan

Suami Sewaan
Tak Ada Penyesalan


__ADS_3

Suasana di ruang makan penuh canda dan tawa, Farel sehabis di takuti papanya langsung makan dengan lahapnya, membuat Ayu tersenyum bahagia melihat cucunya menyukai masakannya


Tak lama kemudian Bagus datang dengan Prapti.


Usia kandungan Prapti yang menginjak sembilan bulan membuatnya kesulitan berjalan, terlebih dokter mengatakan jika anak dalam kandungannya kembar, sehingga lengkaplah kebahagiaan mereka.


Namun karena kondisi kesehatan Prapti yang kurang baik semenjak hamil, mengharuskan ia banyak di tempat tidur untuk istirahat.


”Assalamu'alaikum” sapa Prapti dan Bagus bersamaan


”Wa'alaikum salam” jawab semua orang serentak


Bagus dan Prapti menyalami kedua tuanya. lalu Ridwan dan istrinya


Bagus membantu Prapti untuk duduk, ia sangat kasian melihat istrinya yang kesusahan berjalan dan mengalami kesulitan saat hamil, namun Prapti terlihat enjoy saja, walau terkadang wajahnya terlihat sangat lelah.


”Ya Allah nak, kasian istrimu, nanti kami yang akan mengunjungi Kalian. Lihat ia sampai berkeringat begitu”ucap Ayu membelai rambut Prapti yang kini di potong pendek.


”Prapti nya maksa ma, saat kak Ridwan menelpon, Prapti mendengar dan terus merengek minta ikut”ucap Bagus membela diri


”Habis aku bisa di rumah dan rindu sama mama papa" ucap Prapti malu-malu


"Ya sudah ayo makan, mama sudah masak makanan kesukaan kalian”ucap Ayu tersenyum lebar


”Jadi mama tahu kalau kami akan kesini?"tanya Bagus heran


”Feeling seorang ibu tak pernah salah nak, cepat makan keburu dingin”ucap Ayu


"Pa, Tante ada dede nya ya? Farel mau” celetuk Farel mengelus perut buncit Prapti


”Ini Dede Farel juga, farel seneng gak?"tanya Prapti


yang di balas anggukan cepat Farel


”Mama juga buat Dede pake teligu"ucap Farel lugas membuat semua orang melongo bengong tak lama kemudian tertawa melihat kepolosan Farel


”Sayang, siapa yang bilang buat Dede pake terigu?"tanya Irine menahan tawanya


”Temen ma, dia Dede nya dari teligu kata mamanya” ucap Farel dengan mimik serius, Irine hanya menggeleng pelan dan menatap suaminya, meminta bantuan Ridwan menjelaskan pada putranya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.

__ADS_1


”Farel mau berapa? nanti papa buatin”ucap Ridwan mengeringkan matanya pada Irine, sementara Irine melotot kesal karena perkataan suaminya, bukan menjelaskan malah memberi harapan palsu pada anaknya.


Irine memang menolak setiap kali Ridwan mengatakan ingin menambah anak dan ini kesempatan baik untuk Ridwan agar anaknya ikut mendesak mamanya


”Enam pa, biak bisa main bola”ucap Farel sedikit berteriak membuat Irine yang sedang minum tersendak


”Papamu aja yang suruh hamil sebanyak itu"gerutu Irine pelan , namun masih bisa di dengar semua orang .


Ayu dan Putu hanya bisa menggeleng mendengar percakapan cucu dan anaknya itu


Setelah makan siang, mereka semua pindah ke bangku yang berada di teras belakang, yang langsung menghadap kolam renang


Farel dan Ridwan berenang, sementara Ayu dan yang lainnya hanya berbincang-bincang santai.


Sementara Bagus mengantarkan Prapti untuk istirahat di kamar, sedang Irine membuatkan minum untuk mereka semua


Kini tinggal Putu dan Ayu duduk memandang cucu dan anaknya sedang bercanda di kolam renang


”Kek, Aku merasa sangat bahagia melihat anak, cucu dan cicit kita semua bahagia,, tak ada lagi penyesalan di dalam hatiku.


Jika Tuhan mau mengambil nyawaku saat ini, aku sudah pasrah, ikhlas"ucap Ayu menatap lirih ke arah kolam renang


” Jodoh, rezeki, usia,maut sudah ada ketetapan sang pencipta. kita berencana, Tuhan jua yang memutuskan.


siapa yang bisa melawan ketentuan sang Khalik sayang?”ucap Ayu tersenyum pada suaminya


”Aku tahu, tapi aku sungguh tidak suka dengan ucapan mu, apa kau sudah bosan mendampingiku? Aku tidak mau mendengar kamu berkata ini lagi. Aku harap ini yang terakhir kalinya"ucap Putu bangkit meninggalkan istrinya


Putu tidak pernah membentak Ayu seumur pernikahan mereka, baru kali ini Putu bersuara keras pada istrinya.


Putu merasa sangat menyesal, namun perkataan Ayu membuatnya sangat marah, tepatnya ia takut dan tak ingin menerima kenyataan jika semua itu terjadi.


Putu sangat mencintai istrinya, ia sangat bergantung dengan Ayu, ayu lah kehidupannya, teman sekaligus pendamping hidup, tempat ia menumpahkan kesedihannya, bahagianya, kekecewaannya dan semuanya hanya tentang Ayu istrinya.


Putu berjalan menuju wastafel, ia membasuh wajahnya dengan air dingin berharap hatinya bisa tenang.


Semua yang Ayu katakan adalah benar adanya, tak ada yang bisa menyangkalnya, Putu hanya berusaha menutup semua itu dan berdoa agar ia duluan yang dipanggil agar ia tak hancur karena ditinggal istrinya itu.


Sementara di teras belakang, Ayu menatap kepergian suaminya dengan mata berkaca-kaca, ada kesedihan yang teramat dalam dalam matanya, tak terasa bulir air mata jatuh di sudut matanya yang keriput

__ADS_1


”Aku hanya mengingatkanmu, aku tahu semua tak mudah bagimu, jika boleh memilih, aku ingin hidup seribu tahun lagi denganmu.


Aku sudah merasakan tubuhku tidak baik-baik saja, membuatmu belajar untuk tidak tergantung padaku dan mandiri, namun sepertinya sulit"ucap Ayu lirih


Ayu menghapus air matanya karena Irine sudah kembali dengan gelas berisi ice jeruk dan jeruk hangat untuk Ayu dan suaminya


"Loh ma, mana papa? Irine buatkan jeruk hangat nih”ucap Irine mencari keberadaan mertuanya


"Papamu baru aja masuk, sebentar lagi juga kembali. sini duduk dekat mama sayang"ucap Ayu menepuk sofa di sebelahnya


Ayu sangat memanjakan mantu-mantunya, baginya anak mantunya adalah anaknya juga.


Ia tak pernah membedakan yang mana mantu, yang mana anak, baginya semua adalah anak-anaknya, sehingga semua mantunya amat dekat dengannya, tak terkecuali cucu mantunya, Anggi


Sedang asik mereka berbincang-bincang dari arah dalam berhamburan Aisya dan Reyhan yang baru pulang berenang, di ikuti oleh Kinar


Mereka berteriak memanggil nenek buyut mereka dengan mainan di tangan mereka


”Anak-anak jangan berlarian nanti jatuh”teriak Satria yang berjalan beriringan dengan Anggi sambil mendorong troli si kembar yang meminta turun walau mereka belum bisa berjalan, tak mau kalah dengan kakak-kakaknya


”Assalamu'alaikum”ucap Satria dan Anggi bersamaan


"Wa'alaikum salam” jawab Irine dan ayu


"Loh kok sudah pulang, katanya sampai sore?”tanya Ayu


”Iya tadi kak Ridwan telepon mengabarkan mau main, jadi anak-anak berenang sebentar trus pada minta ke wahana bermain"ucap Satria duduk di samping neneknya


”Sepertinya si kembar mau ikutan kakak-kakaknya berenang” ucap Irine menatap ke kolam renang


”Ya Ampun, mereka ga bosan-bosannya berenang, nanti bisa masuk angin tuh mas”protes Anggi pada suaminya


”Tenang saja, mereka anak-anakku, mereka kuat seperti bapaknya"ucap Satria membanggakan diri


”Kuat??? kamu mandi pagi aja harus pakai air hangat, kalau gak pasti flu, kuat dari mana???”sindir Anggi membuat Satria menggaruk kepalanya karena malu


Sementara Irine dan Ayu tertawa mengetahui rahasia kecil Satria sambil menggelengkan kepala mereka


”Sayang kau buat aku malu di depan kak Irine dan nenek”bisik Satria pelan, namun Anggi cuek saja

__ADS_1


__ADS_2