
Anggi perlahan membuka pintu ruang rawat Satria, nampak pria itu terlihat lebih kurus dari kemarin, Anggi membuatkan Satria kopi, aroma kopi yang kuat membangunkan Satria dari tidurnya.
Ia menatap penuh selidik melihat Anggi sudah berada di samping tempat tidurnya
”Apa yang kau lakukan di sini? apa kau sedang menertawai ku karena aku lupa ingatan?”tanya Satria dengan nada dingin
”Tidak, tidak , aku kesini hanya ingin merawat mu” ucap Anggi masih dengan senyum terhias di wajahnya yang cantik
”Aku tak butuh perawat, aku bukan anak kecil. Kaki dan tubuhku masih berfungsi, hanya ingatanku yang rusak, namun aku masih mengingat jelas jika hanya Widya istriku.
Sebaiknya kamu pulang, banyak perawat disini, jadi keberadaan mu tidak ku butuhkan”ucap Satria sinis
Anggi terdiam, tak terasa air matanya jatuh, perkataan Satria sungguh menyakitkan, namun ia sudah bertekad akan tetap merawat Satria, walau pria itu mengusirnya sekalipun, semua demi Aisya
Anggi merapihkan nampan bekas Satria makan, ia meletakkan nya di luar kamar itu, Anggi menghirup nafas panjang dan menghembuskan ya perlahan, berharap sesak di dadanya hilang, ucapan Satria laksana seribu jarum menancap di hati.
Anggi kembali masuk ke dalam kamar rawat Satria, ia melihat tatapan tak suka yang di tujukan pada dirinya, namun Anggi bersikap seolah-olah ia tak melihatnya, ia lalu mengambil buah dan mengupaskan nya untuk Satria
Anggi meletakkannya di meja sebelah tempat tidur Satria
"Anggi.... itu namamu kan? " tanya Satria tersenyum sinis
Anggi tersenyum, berusaha tetap tenang, walau ia sadar senyum Satria seolah mengejeknya, tapi setidaknya ia masih ingat namanya
”Iya mas, kamu sudah ingat namaku?" tanya Anggi senang
”Aku hanya ingat saat kak Ridwan mengatakan tentang kamu, aku tak tahu mengapa ia sampai sekesal itu padaku. Harus aku jelaskan satu hal padamu.
Saat ini aku tidak ingat siapa kamu, dari mana asalnya, mengapa semua mengatakan kamu istriku, sepanjang yang aku tahu, aku hanya mencintai Widya.
Jika kamu ada diantara kami, mungkin saja kamu wanita....” Satria menggantung kalimatnya ia melirik kearah Anggi yang tertunduk sedih. Air mata Anggi jatuh, walau ia berusaha menahannya, namun maksud perkataan Satria sudah sangat jelas baginya.
__ADS_1
Sepanjang hidupnya Anggi tak pernah merasa sangat terhina seperti ini, ia merasa harga dirinya di injak-injak oleh Satria, berada di bawah titik terendah dalam hidupnya.
”Cukup mas, aku berusaha sabar karena aku menghormatimu sebagai bekas suamiku.
Aku menghormatimu sebagai papa dari anakmu” Anggi menghapus air mata yang terus menerjang keluar dengan deras, hatinya teramat sakit
”Aku maklumi kamu tak mengingatku, hanya mengingat mba Widya saja, aku berusaha menerima semua.
Namun perkataan mu sungguh sangat membuatku terluka mas.
Tidak puas kamu menyiksaku selama ini, dan saat kamu lupa ingatan pun, kamu masih saja bisa berkata buruk tentangku, aku sungguh salut, mulutmu sungguh beracun, lebih beracun dari ular” Anggi meluapkan semua perasaannya, kekecewaannya, marahnya, bencinya, penyesalannya.
Satria hanya diam, ia tahu jika ia sangat keterlaluan, ia hanya benci mengapa Widya tak menemuinya, justru wanita yang tidak ia ingat yang menemaninya di ruangan ini, bentuk kekecewaan Satria yang salah
Entah mengapa melihat Anggi menangis hatinya terasa pedih, ada apa dengan dirinya. apakah wanita di depannya ini benar-benar berarti dalam hidupnya? apakah wanita itu bagian hidupnya? Satria sangat merasa bersalah
”Maafkan aku, aku tak bermaksud mengatakan itu, aku hanya...” Satria habis kata-kata, ia bingung harus berkata apa, melihat Anggi menangis tersedu-sedu hatinya hancur.
Awalnya Anggi terkejut, ia memukul-mukul Satria, mendorongnya agar melepaskan pelukannya, namun tenaga Satria lebih besar, akhirnya ia hanya bisa menangis dalam pelukan Satria
”Kamu jahat mas, apa salahku sampai kamu terus menyiksaku” ucap Anggi lirih di sela-sela tangisnya
Tangan Satria secara tak sadar membelai rambut Anggi berusaha meredakan tangis wanita itu, ia juga mengecup kening Anggi, entah mengapa Satria merasa amat sangat bahagia dan nyaman berpelukan dengan wanita ini, ada rasa yang tiba-tiba membuncah membuatnya terheran-heran, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata
”Maafkan aku"ucap Satria terus menerus, hingga akhirnya Anggi bisa menguasai dirinya, ia sudah berhenti menangis
perlahan Satria melepaskan pelukannya, ia menatap Anggi dengan rasa bersalah
Satria mengangkat wajah sembab Anggi, ia menghapus air mata Anggi dengan tangannya
"Maafkan Mas, mas akui mas sungguh keterlaluan.
__ADS_1
Mas janji tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakitimu lagi. Aku hanya merasa bingung, maukah kamu membantuku memulihkan ingatanku?" tanya Satria menatap lurus kearah mata indah Anggi, mata yang teduh dan menenangkan siapapun yang memandangnya.
"Aku bersedia" ucap Anggi lirih
”Terima kasih" ucap Satria tersenyum yang di balas anggukan kecil Anggi
Beberapa hari kemudian
Hubungan Satria dan Anggi sudah mulai membaik, dan Satria juga sudah pulih dari cideranya.
Anggi seringkali memperlihatkan foto keseharian Aisya, ia tak mau jika nantinya saat Satria pulang, ia tak mengenali anaknya sendiri.
Namun keberadaan Kinar sampai detik ini belum juga ia beritahu pada Satria.
Anggi ingin mencari waktu yang pas, dan Anggi berfikir akan memberitahukan kepada Satria hari ini, karena besok ia udah di perkenankan pulang kerumah.
”Mas, ada yang ingin aku beritahukan padamu, ini mengenai mba Widya dan anaknya” ucap Anggi di sela-sela makan siang mereka.
Anggi sengaja memasak makanan kesukaan Satria dan datang menjelang makan siang untuk memberi kejutan pada Satria, terbukti Satria berbinar senang saat Anggi membuka bekal makan yang ia bawakan untuk mereka makan berdua.
Gerakan mengunyah Satria terhenti, beberapa hari ini ia justru sudah melupakan Widya, entah mengapa saat Anggi disisinya, merawatnya ia melupakan keberadaan Widya, dan hari ini Anggi malah mengingatkannya
”Katakanlah”ucap Satria kembali fokus pada makanan di depan matanya
”Mba Widya memiliki seorang anak , ia seorang gadis kecil yang cantik seperti mamanya”ucap Anggi berusaha membuat Jedah untuk Satria agar bisa mencerna kabar yang ia sampaikan
"Apa kamu tahu dimana anak itu?" tanya Satria penasaran, ia meletakkan sendok ditangannya, kemudian fokus pada Anggi
”Namanya Kinar , ia tinggal bersamaku, nanti ketika kamu kembali kerumah, kamu akan melihatnya, namun ia gadis yang sangat pemalu , ia masih belum terbiasa berinteraksi dengan orang” ucap Anggi
”Kinar? nama yang cantik, lalu bagaimana dengan mama anak itu? kemana dia? aku sudah hampir tiga Minggu di rumah sakit , tapi Widya tidak juga kelihatan batang hidungnya” dengus Satria kesal
__ADS_1
”Iiituuu.... ah mba Widyaaa....”