Suami Sewaan

Suami Sewaan
Pergi Darimu


__ADS_3

Putu siang ini kembali ke Bali dengan alasan tak bisa lama-lama tinggal di ibukota


Sebenarnya Satria berat melepaskan kepergian kakek dan neneknya itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Sebelum pergi, Putu menyerahkan perusahaan cabang Jakarta pada Satria untuk ia kelola.


Pad Satria pula mereka mengungkap jati diri mereka yang sebenarnya, nampak Satria sedikit terkejut, pasalnya ia sudah curiga bahwa latar belakang kakeknya itu tak sesederhana yang terlihat


Satria dapat melihat kakeknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, yang tidak mungkin hanya di perolehnya karena ia seorang anumerta.


"Kek, nek, jaga kesehatan kalian, Kami pasti akan merindukan kalian" ucap Satria memeluk kakek dan neneknya


Nampak Ayu masih marah pada Satria, ia hanya diam tak mengatakan apapun pada cucu kandungnya tersebut, hatinya masih terlalu sakit jika mengingat kejadian tempo hari


Ia terlalu kecewa mendapati cucunya bisa bersikap begitu egois dan bodoh dan menyalahkan diri nya sendiri yang gagal menjadi orangtua.


"Nek maafin Satria ya, Satria tahu nenek pasti masih marah pada Satria" ucap Satria mendekati Ayu


"Mmm" ucap Ayu tak bersuara lalu langsung masuk ke dalam mobil


Satria menatap sedih melihat neneknya yang mengacuhkannya, ia hanya bisa terdiam memaku di tempat ia berdiri


"Sudah, maafkan nenekmu, nenek hanya sedikit kurang enak badan dan dalam mood yang buruk, nanti juga ia akan baik sendirinya.


Ingat jaga istrimu baik-baik, kakek gak mau terjadi sesuatu yang buruk pada cucu dan cicit kakek.


Dan satu lagi, Hargai dan lindungi Anggi, ia wanita yang paling pantas mendampingi mu" Putu menepuk pundak cucunya lalu berjalan masuk ke dalam mobil.


Anggi hanya menatap kepergian kakek dan neneknya dari balkon kamarnya di lantai 2, ia merasa sangat lemah untuk mengantar kepergian kakek dan nenek nya


Satria masih menatap kepergian mobil yang di kendarai kakek dan neneknya, ia menghela nafas panjang


"Aku juga punya Widya kek, cucu mantu kalian, jika saja saat ini dia disini, pasti kalian juga akan menyukainya, terlebih dia mengandung cicit kalian.


Ah sayang, kamu dimana?? mas kwatir sama kamu dan anak kita.


Apakah kamu tidak merindukan mas? " tanya Satria memandang cincin ditangannya dan mengecupnya dengan penuh perasaan


Tanpa Satria sadari sedari tadi sepasang mata menatapnya dengan berlinang air mata, ia adalah Anggi yang berdiri di balkon kamarnya


"Segitu cintanya kamu sama dia mas??, hingga setiap waktu kamu selalu ingat dia dan hanya dia dihatimu?? kalau saja kamu tahu wanita apa yang kamu cintai, kamu tak akan pernah menyakitiku sedalam ini.

__ADS_1


Jika aku tahu aku tak pernab ada walau secuilpun di hatimu, lebih baik aku menderita dalam kungkungan mantan suamiku.


Andi mungkin kejam dan biad*p namun ia mencintaiku tulus, dia hanya menyiksa tubuhku dan itu akan sembuh seiring waktu.


Tapi kamu menorehkan luka yang teramat dalam dan sulit di sembuhkan" ucap Anggi lirih, air mata sudah deras membasahi pipinya


"Nggi? apa kakek dan nenek sudah pergi?" tanya Ridwan dari dalam kamar


Anggi buru-buru menghapus airmatanya, ia tak mau kedapatan masih menangisi pria itu, ia harus tegar untuk anaknya dan orang-orang di sekelilingnya


"Udah mas" ucap Anggi dengan suara serak


"Loh kok kamu nangis lagi? kan tadi kakek dan nenek sudah janji akan menemui kami segera setelah semua terkendali.


Jangan nangis lagi ya? kamu harus kuat demi babymu" Ridwan mengusap rambut Anggi lembut


"Maafkan Anggi mas" ucap Anggi malu


"Kenapa harus minta maaf? sedih wajar sayang, tapi ingat kesehatan bayi dalam perutmu, ia ikut sedih.


Mas sudah buatkan juice dan buah potong, jika kamu masih mual muntah keluarkan saja, normal itu pada tri semester pertama kehamilan, mas sudah berikan obat peredanya. Namun mas gak sarankan, lebih baik makan yang bisa hilangkan mualmu dan minum vitamin serta susu hamil"


"Mas kapan nikahnya? apa sudah ada calon?" tanya Anggi tiba-tiba sambil mengunyah buah potong yang disiapkan Ridwan


"Bisa di katakan begitu, tapi mas gak tahu dia mau gak sama mas" ucap Ridwan menatap kedepan seolah sedang memikirkan sesuatu


"Dia pasti mau, Anggi jamin.


Siapa sih yang gak akan jatuh cinta sama mas Ridwan? udah ganteng, karir cemerlang, banyak uang dan super duper baiknya" ucap Anggi memberi jempol pada Ridwan


"Apa memurutmu mas begitu? "


"Tentu saja, sayangnya Anggi adik mas sih, kalau bukan dah Anggi embat mas" ucap Anggi nyengir kuda


"Embat-embat dasar nih anak kadang suka asal" Ridwan mulai mengacak-acak rambut Anggi, membuat Anggi berteriak-teriak kesal karena ia tidak suka


Satria yang mendengar suara istri sirihnya tertawa disusul suara Ridwan hanya tersenyum, ia mengira bahwa Anggi kini sudah dalam kondisi baik-baik saja, ia akan mencari waktu berbicara empat mata dengan Anggi


Satria tidak tahu bahwa sikapnya itu malah akan menjadi bom waktu untuknya sendirj yang akan membuatnya menyesal seumur hidup


Tiga hari kemudian

__ADS_1


Setelah serah terima jabatan, Satria kini sudah mulai aktivitas bekerja di kantor Putu sebagai direktur cabang.


Ia sudah berangkat pagi-pagi untuk kerja, namun ia terkesan tidak mau meminta maaf pada Anggi, ia hanya pamit sekedarnya, dan Anggi masih berusaha melayani suaminya dengan baik, walau hatinya menangis karena Satria tak meminta maaf padanya


Jika saja ia mengatakan maaf, mungkin hati Anggi masih bisa memaafkan dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Satria, namun Satria tak pernah membahas masalah itu, membuat telad Anggi makin bulat akan meninggalkan Satria


Anggi sudah menyerah untuk mendapatkan hati Satria, namun jauh di lubuk hatinya, ia masih sangat mencintai Satria, terlebih ia memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Satria


"Bu, mau makan buah atau juice? " tanya Prapti yang melihat Anggi mual muntah tak berhenti hingga terduduk di toilet


"Prapti tolong buatkan aku teh hangat sedikit saja manisnya" ucap Anggi lemah


Prapti memapah Anggi duduk di meja makan, ia lalu bergegas membuatkan teh hangat untuk Anggi


"Ini bu teh nya" ucap Prapti meletakkan teh di depan Anggi


"Prapti, ada yang saya mau sampaikan, duduklah" Prapti lalu duduk di depan Anggi, menatap bingung dan penuh tanya dalam hati, pasalnya Anggi terlihat sangat serius


"Dengarkan baik-baik apa yang akan saya sampaikan.


Saya mohon bantuan kamu untuk menjaga mas Satria, penuhi kebutuhannya, kalau ada apa-apa kamu bisa email saya, nanti saya yang akan menelpon kamu"


"Tunggu bu, mengapaa ibu meminta saya menjaga bapak, apa ibu akan pergi? tapi kemana? " Prapti mulai panik membrondong Anggi dengan pertanyaan


"Hari ini saya akan pergi menenangkan diri, kemana dan dengan siapa, kamu tak perlu tahu, maaf. Jangan juga kamu memberitahu mas Satria atau mas Brams.


Saya menyampaikan ini padamu, anggap saja kamu tidak tahu jika mereka menanyakanmu, saya memberitahu kamu karena saya percaya kamu" Prapti mulai menangis, ia menyayangi Anggi seperti saudaranya sendiri


"Kamu sangat tahu kondisi rumah tangga saya.


Saya butuh menenangkan diri, jadi please rahasiakan ini semua" ucap Anggi menangkup kedua tangannya kedepan dada


"Prapti akan merahasiakan ini semua, Prapti janji. Ibu jaga kesehatan disana dan juga anak ibu"


"Saya sudah anggap kamu adik saya, mulai sekarang kamu panggil mba aja, ini ponsel untuk kamu disana terdapat nama saya, nomer ponsel baru yang akan saya gunakan saat menenangkan diri, jadi nomer lama akan saya matikan, simpan baik-baik" ucap Anggi menyerahkan ponsel keluaran baru pada Prapti


Prapti bangkit dan memeluk Anggi erat, ia anak yatim piatu yang di pekerjakan Anggi sejak masih sekolah menengah atas


"Mba, Prapti pasti kangen mba, mba makan yang teratur ya"


"Pasti, makasih ya" ucap Anggi parau, mereka lalu berpelukan kembali dalam tangis haru

__ADS_1


__ADS_2