
Satria sudah merapihkan pakaiannya, ia lalu memasukkan ke dalam travel bag, ia tak membawa banyak pakaian, hanya beberapa pasang pakaian
Satria menyeret travel bag nya keluar kamar menuju ruang tamu.
Selepas sarapan nanti ia akan langsung pindah ke apartemennya, ia melihat sekilas ke arah meja makan, Anggi sedang mempersiapkan sarapan pagi, terlihat sorot mata Anggi yang sedih, namun Satria sengaja berpura-pura tak melihat, ia takut hatinya akan goyah
”Apa anak-anak sudah bangun sayang?”tanya Satria menghampiri Anggi
”Aku belum mengecek lagi mas”ucap nya memalingkan wajah karena takut air mata nya keluar, walau Satria bukan pergi untuk selamanya, namun keberadaannya selama ini membuat hati Anggi tentram
”Aku akan memeriksa anak-anak"ucap Satria sambil melangkah pergi meninggalkan meja makan menuju kamar Anggi
Di dalam kamar ternyata si kecil Aisya sudah terbangun, ia berdiri merambat di box tidurnya, membuang benda apa saja yang berada di dalam box nya, termasuk boneka yang biasa menemaninya tak luput ia lemparkan dan kearah Kinar yang masih pulas tertidur
”Ya ampun anak papa usil ya ganggu kakak Kinar bobo”ucap Satria yang melihat Aisya melempar bonekanya lalu tertawa
dan boneka itu tepat mengenai kepala kepala Kinar , sehingga Kinar menggeliat, lalu duduk sambil mengucek matanya yang masih mengantuk
"papapapa"celoteh Aisya yang melihat kedatangan papanya
Satria mengangkat Aisya dan menggendongnya
”Lihat perbuatan mu, kakak sampai bangun tuh”tunjuk Satria sambil berjalan mendekati Kinar Yang terlihat masih menguap
”Papa, Aisya nakal”adu Kinar pada Satria dengan suara khas orang bangun tidur
”Dede hanya sedikit usil, mau ajak kakak Kinar main,iya kan de”ucap Satria mencolek pipi Aisya, Aisya hanya berteriak girang, entah apa yang ia teriakkan
”Ayo bangun, papa mandikan kalian”ucap Satria lembut menjulurkan tangannya, ingin menggendong Kinar di sisi sebelahnya , Kinar langsung merangkul Satria masih dengan mata mengantuk ya
Aisya yang melihat kakaknya menyenderkan kepalanya, tiba-tiba menarik rambut panjang Kinar, hingga gadis kecil ini berteriak kesakitan
"Papa Kinar talik-talik lambut ” adu Kinar sambil meringis kesakitan
”Aisya jangan begitu, kasian kakak, ucap Satria menurunkan keduanya, lalu melepaskan genggaman tangan Aisya pada rambut Kinar
Satria sangat bangga dengan Kinar, Aisya sering kali mengusili kakaknya, namun Kinar seolah sudah paham jika Aisya masih kecil sehingga belum mengerti, ia tak pernah membalasnya, Kinar tumbuh sebagai gadis kecil yang berfikiran dewasa , membuat Satria terkadang tak habis pikir darimana kemandirian dan kedewasaan Kinar terbentuk
”Papa aku mau mandi busa”ucapnya riang
__ADS_1
"iya sebentar papa siapkan ya, sekalian bak mandi buat adikmu. Bisa tolong jaga adik sebentar sayang? tanya Satria lembut
”Uhm” ucap Kinar mengangguk
Satria lalu berjalan menyiapkan bathtub untuk putri kecilnya mandi, tak lupa ia juga memasukkan body bath beraroma strawberry kesukaan Kinar dengan beberapa bebek kecil di dalam bak kecil Aisya
Setelah selesai ia kembali ke kamar, dan mendapati Anggi sedang membantu anak-anaknya membuka baju
"Papa, papa ”ucap Kinar takut Satria menggendong Aisya terlebih dahulu
”Biar Aisya aku mandikan mas, kamu urus Kinar saja"ucap Anggi tersenyum lembut
Mereka lalu memandikan anak-anak mereka, Prapti yang datang untuk menyiapkan pakaian si kecil tersenyum bahagia melihat kekompakan Satria dan Anggi merawat dua putri kecil mereka
”Kenapa kalian tidak nikah saja? kalian kompak sekali dalam merawat anak-anak, sebaiknya kalian pikirkan itu"ucap Prapti lalu berjalan keluar Kamar mandi
Setelah Prapti pergi, Anggi dan Satria hanya saling memandang dalam keheningan, mereka tak mengatakan apapun hingga selesai memakaikan baju dan membawa anak-anak menuju meja makan untuk sarapan pagi
Nampak Bagus sudah duduk ditemani Prapti, terlihat wajah mereka serius sekali seperti sedang membahas sesuatu dan berhenti ketika Anggi dan Satria sudah dekat
”Mengapa lama sekali, aku sudah lapar”gerutu Bagus yang di balas pelototan mata Prapti, yang langsung membungkam mulut Bagus
”Mulai deh mas”ucap Prapti memperingati Bagus, pasalnya kedua orang ini sekarang senang sekali bertengkar untuk hal sepele
”Jadi, apa kakak sudah membereskan pakaian kakak? pagi ini selepas sarapan kita pindah ke apartemen "ucap Satria mengingatkan Bagus
”Apa aku harus? males banget tau Sat”ucap Bagus dengan ekspresi tak bersemangat
”Kalau kakak gak mau, biar kakek yang menyampaikan langsung, bagaimana???” tanya Satria menarik turunkan alisnya menggoda Bagus
"Bercandanya gak lucu, yang ada aku malah kena semprot kakek mu itu” gerutu Bagus
”Bisa sih kak, gak pindah”ucap Satria lagi
”Serius,,. apa kakek mu gak akan marah kalau kakak tetap disini?”tanya Bagus antusias
”Kalau itu mungkin kakek gak akan marah kak, tapi kak Ridwan yang akan marah, karena kakek terpaksa menikahkan kalian karena di grebek warna satu rumah tanpa menikah, ahahhaha” tawa Satria menggema, namun tidak dengan Bagus, ia bangkit dari bangkunya dan langsung men jitak keponakannya itu
"Dasar ponakan sialan, itu sama aja buat aku celaka, yang ada kakek mu itu langsung mencoret ku dari kartu keluarga dan kak Ridwan langsung membunuhku, bocah edan"gerutu Bagus kesal, membuat Prapti dan Anggi tertawa geli
__ADS_1
Setelah selesai makan, Satria membawa anak- anaknya bermain sambil menunggu Bagus mengepak pakaiannya dalam travel bag
Satu jam kemudian Bagus baru turun menyeret travel bag nya dengan wajah murung
"Sabar om ku sayang, nanti kalau sudah halal juga bisa ketemu tiap hari” goda Satria membuat Bagus mendengus kesal, ia tak berani membalas karena Prapti tepat di sampingnya
Setelah berpamitan , mereka lalu meninggalkan kediaman tersebut menuju apartemen, yang fungsinya hanya untuk tidur, karena selebihnya mereka banyak menghabiskan waktu di kediaman Anggi.
Sarapan pagi jika memungkinkan mereka akan kerumah tersebut atau hanya sarapan ala kadarnya, beruntung Satria bisa masak, sehingga terkadang mereka sarapan di apartemen dan baru akan kerumah Anggi saat pulang kantor, seperti itulah rutinitas mereka
Tiga Minggu kemudian
Sudah beberapa hari ini Satria sangat Sibuk, ia tak memiliki waktu untuk mengunjungi Anggi dan anak-anak, itu berimbas pada Kinar yang merindukan papa nya
Siang itu Kinar sengaja menunggu Satria di teras depan rumahnya, ia juga ngambek tak mau tidur siang, karena berfikir Satria akan makan siang dan mengajaknya main.
Kinar menaiki sepeda nya, ia berputar-putar dengan sepedanya di taman depan rumah sambil sesekali pandangannya menatap lurus kearah pintu gerbang, menanti Satria datang.
Berulang kali Prapti maupun Anggi membujuknya makan, ia hanya menggeleng dan berkata Satria akan datang
"Sayang, papa sepertinya sedang sibuk, papa makan siang di kantor. kalau Kinar gak makan, nanti papanya murah dan gak mau main lagi sama Kinar loh, makan dulu ya sedikit aja, biar Tante Prapti yang suapi”rayu Prapti karena Anggi menemani Aisya tidur siang, sejak beberapa waktu lalu Aisya ngambek karena ngantuk
Kinar terdiam sejenak lalu mengangguk, Prapti buru-buru masuk mengambilkan makan Kinar
Setelah Prapti masuk, Kinar mengayuh sepedanya ke arah gerbang, lalu datang seorang kurir mengantarkan paket untuk Anggi, namun pak Selamet lupa menutup pintu gerbang, ia berjalan masuk sambil menerima telepon dari istrinya yang berada di kampung, hingga ia lalai menutup kembali gerbang rumah
Kinar mengayuh sepeda nya keluar dari gerbang, ia sering melihat mobil Satria berbelok ke arah jalan raya, sehingga ia mengayuh sepedanya berharap bisa bertemu Satria, hingga ia sampai di perempatan jalan yang berada di perumahan elite tersebut, ia mengayuh tanpa menengok ke kiri dan ke kanan, naas sebuah mobil berkecepatan tinggi tak melihat sepeda Kinar, pengemudi itu tak mampu menghindari , ia menyerempet bagian belakang sepeda Kinar hingga gadis kecil itu terpental jatuh dan tak bergerak lagi, darah mengalir dari kepalanya yang menghantam aspal
Jeritan beberapa warga yang melihat kejadian tragis itu membuat warga yang berada di sekitar tempat kejadian berkumpul,
Wanita yang menabrak Kinar terlihat ketakutan ia berjalan keluar dan langsung menelpon seseorang,, sementara warga membawa Kinar menuju rumah Sakit.
Bagus yang berniat kerumah Anggi penasaran dengan keramaian di depannya, ia membuka kaca mobil dan menanyakan apa yang terjadi pada warga yang berkerumun
”Pak maaf, ada apa ya kok rame-rame??” tanya Bagus pada seorang warga
"Itu mas, tadi ada anak kecil tertabrak sedang main sepeda, dan sepertinya parah, warga sudah membawa anak tersebut ke rumah sakit, sementara yang menabrak terlihat shock, itu"ucap si bapak menunjuk seseorang yang menangis
” Kanza...????” ucap Bagus mengenali wanita yang sedang menangis itu...
__ADS_1