Suami Sewaan

Suami Sewaan
Operasi


__ADS_3

Setelah berdiskusi akhirnya seluruh keluarga sepakat untuk mengoperasi Ayu di rumah sakit milik keluarga mereka, hanya saja , Ridwan mendatangkan tim dokter dari beberapa negara yang dulunya merupakan teman kuliah Ridwan.


mereka dengan senang hati membantu Ridwan ketika mendengar kabar dari salah satu kawan mereka, sehingga mereka sepakat akan membantu Ridwan mengoperasi mamanya.


Sejak semalam Ayu terlihat gelisah, ia takut jikakalau operasinya gagal dan dia malah makin menderita.


berkali-kali Ridwan menyakinkan mamanya untuk tenang karena akan berpengaruh pada tensinya.


Anggi yang mendengar berita neneknya sakit langsung meluncur kerumah sakit, ia menitipkan si kabar pada Irine dan prapti.


Rasanya ia tak tenang jika tak melihat langsung kondisi Ayu dengan mata kepalanya sendiri.


Sesampainya di rumah sakit, Anggi di tunggu Satria di lobby rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan Ayu di rawat.


sesampainya di sana, Anggi langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan memeluk Ayu dengan erat.


ia lupa jika Satria sudah memintanya untuk tetap tegar di depan neneknya, namun Anggi terlalu rapuh untuk itu.


”Sudah, sudah jangan menangis.


nenek baik-baik saja”hibur Ayu menenangkan Anggi


”Nenek harus kuat ya nek, doa Anggi selalu untuk nenek.


Nenek harus optimis” ucap Anggi menghapus air matanya dengan jarinya


"Tentu cucuku paling cantik, nenek akan hidup seribu tahun lagi”seloroh Ayu sambil tertawa terkekeh, membuat Anggi tersenyum


”Amiiinnn” ucap Anggi tersenyum lebar


Ayu dan Anggi sedang mengobrol berdua, sementara para lelaki terlihat tegang memikirkan operasi besok


Ayu juga sangat manja hari ini, ia minta dikupaskan buah dan makan di suapi oleh Anggi. Anggi melakukan semuanya dengan senang hati, walau jauh di lubuk hatinya ia merasa gelisah dengan kesehatan nenek nya itu.


Waktu merambat dengan cepat, kini sudah jam lima sore.Ayu memandang jam dinding di kamar rawatnya lalu tersenyum menatap Anggi


"Pulanglah, anak-anakmu pasti menanti kedatanganku. Kamu sudah terlalu lama meninggalkan rumah, mereka pasti sejak tadi mencari mu.

__ADS_1


Tak perlu khawatir, nenek pasti bisa melewati semuanya. kamu tahukan kalau nenek kuat?” ucap Ayu sambil mengedipkan sebelah matanya


”Nenek” Anggi kembali memeluk Ayu, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Ayu. walau ia menderita sakit, namun ia masih tetap semangat dan optimis.


"Anggi bangga sama nenek. nenek cepat sembuh ya, Anggi sayang nenek"Anggi mengecup puncak kepala Ayu lalu kembali ia memeluknya


”Sudah sana kamu kembali , ksian cicit-cicit ku ditinggal lama” ucap Ayu


”Anggi pamit ya nek, besok Anggi datang lagi”


”Tidak usah sayang, kamu tunggu di rumah saja kabar gembiranya. pokoknya setelah nenek sembuh, ajak nenek jln-jalan di tempat yang sejuk”ucap Ayu


"Siap nek, ke ujung dunia pun kalau Anggi bisa, Anggi akan bawa nenek” ucap Anggi


”Tak perlu jauh-jauh. nenek mau ke kota M.Nenek ingat almarhum orangtua nenek disana. mereka beristirahat dalam indahnya alam pegunungan.


Nenek mau kesana ”ucap Ayu menerawang jauh


”Anggi akan bawa nenek ke sana, nenek lekas sembuh ok. selamat berjuang nek. Anggi pamit.


Assalamu'alaikum”


Anggi pulang dengan di temani Satria. Sebenarnya Satria enggan jauh dari neneknya, namun Ayu memintanya mengantarkan Anggi dan meminta Satria untuk istirahat juga membawa Putu.


Namun Putu menolak keras, sehingga terpaksa hanya Anggi dan Satria yang kembali ke rumah.


Sejak percakapan Anggi dan Ayu beberapa waktu lalu, aura wajah Putu kelam, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang tak enak. Ada yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang tidak baik.


Peristirahatan mertuanya memang sebuah bukit pegunungan nan indah, namun setahu Putu, Ayu tidak begitu suka di sana. terlebih penyakit alerginya akan kambuh jika lama di sana, namun kini justru dirinyalah yang meminta kesana.


Putu mendesah pelan, ia terlalu lelah atau mungkin karena beban pikiran yang berat karena sakitnya istri tercinta membuatnya lebih sensitif akan sesuatu hal, entahlah.


Yang pasti Putu benar-benar dalam mood yang tidak baik.


Beberapa saat setelah kepergian Anggi, Ayu baru tertidur, sejak beberapa waktu lalu saat Anggi disini, Ayu tak mau tidur walau di paksa.


Ayu bersikukuh jika ia belum mengantuk, nyatanya ia menahan kantuknya hanya demi bermaja-manja dengan Anggi.

__ADS_1


putu memandang istrinya dengan sedih. wanita tegar dan kuat yang selama ini menemaninya kini sedang merasakan penderitaan namun masih berusaha terlihat tegar di depannya.


Tanpa terasa air mata Putu menetes.


ia merasa bersalah kurang memperhatikan kesehatan Ayu, ia selalu menerima perhatian luar biasa dari istrinya itu, namun Putu???


Apa yang sudah ia berikan pada Ayu??


istri tercintanya sakit saja ia tak peka.


Seharusnya i peka saat wajah Ayu memucat karena menahan sakit luar biasa yang berasal dari kepalanya, namun Putu hanya beranggapan Ayu kelelahan dan ia akan membiarkan Ayu tidur jika Ayu berkata ingin istirahat sebentar.


walaupun ia sudah menawarkan membawa istrinya ke dokter namun Ayu menolak. Harusnya saat itu jika ia memang syang dengan istrinya, ia akan bersikeras membawa istrinya itu berobat, tanpa perlu izin Ayu setuju atau tidak. dan harusnya.....


Putu mengutuk dirinya sendiri yang bodoh dan gagal sebagai suami.


masih menghitung kesalahannya dan betapa hebatnya Ayu dimata Putu.


"Putu berjalan gontai mendekati Ayu, menatap lekat wajah istrinya. ia lalu duduk di samping tempat tidur Ayu, menggenggam tangannya erat, seolah takut kehilangan


Sudah dua jam Ayu tertidur lelap, namun genggaman tangan Putu membuatnya terbangun dan menatap bingung pada lelaki yang sudah menjadi imamnya puluhan tahun ini.


"Sayang, ada apa denganmu? mengapa wajahmu buruk sekali kelihatannya? Hei dimana suamiku yang tampan dan berwibawa itu???" goda Ayu memegang wajah suaminya


"Sayang maafkan aku” ucap lirih Putu dengan mata yang mendung


"Apa yang harus dimaafkan sayang? kau tak salah apa-apa? come on , senyum lah, itu lebih baik dari pada aku melihat wajah mu di tekuk seperti ini” Ayu menyunggingkan senyum lebarnya. tanpa beban sama sekali membuat tangis putu pecah. ia menangis seperti anak kecil, memeluk tubuh Ayu dan menangis di pelukan istri tercintanya.


"Tak ku sangka seorang Putu bisa menangis. ini kali ketiga aku melihatmu menangis.


pertama saat aku melahirkan, kedua saat kita kehilangan anak kita, ke tiga saat ini.


Aku baik-baik saja sayang. jangan membuatku sedih.


Aku hanya minta doamu, untuk menguatkan ku.


sekarang hapus air matamu, aku tak ingin anak dan cucumu melihatnya. tegar lah seperti pria yang selama ini aku cintai. Biarkan mereka mengenal dan akan selalu ingat kamu sosok yang kuat dan tegar.

__ADS_1


Kamu harus ikhlaskan semua apa yang terjadi padaku bukan kesalahanmu. semua sudah takdir.


Manusia hanya bisa berusaha karena itulah kita berusaha semaksimal mungkin, namun hasilnya tetap di tangan Allah. ” ucap Ayu tersenyum lembut sambil memegang wajah pria tercintanya yang kini sudah menua bersamanya dengan garis keriput di wajahnya


__ADS_2