
Satria bersikeras tinggal di rumah sakit, ia tak mau jauh-jauh dari Kinar, hati kecilnya tak tenang meninggalkan putrinya
Akhirnya Satria tidur dibangku, sedang Ridwan sementara waktu menggantikannya.
Ridwan menatap datar kearah Kinar, ia memijit pelipisnya yang terasa sakit
"Hanya masalah waktu saja sampai kebenarannya terkuak, sepandai-pandainnya bangkai di tutupi akan tercium juga.
serapih apapun kebenaran di tutupi pasti akan terbongkar juga.
Harusnya aku sejak awal menentang keputusan Anggi, harusnya aku bawa anak itu menjauh dari kehidupan Anggi, anak itu bagai dua bilah mata pisau, bisa membuat rumah tangga dan masa depan Anggi suram"
Ridwan menghela nafas kasar, bukan karena ia tak menyukai Kinar, namun ia juga mempertimbangkan masa depan Anggi.
Ridwan menjambak rambutnya sendiri karena merasa otaknya buntu.
Bagus sudah memberitahunya jika siang tadi Satria sudah mengetahui golongan darahnya dan Anggi berbeda dengan Kinar, mungkin saat ini ia belum membahasnga, menyimpannya dalam hati, semua hanya soal waktu.
Ridwan menghubungi kembali temannya yang sesama dokter, ia tadi belum leluasa membahas tentang kondisi Kinar, dikarenakan Satria datang
" Hallo, ini gue, gue mau tahu kondisi anak keponakan gue yang loe operasi siang tadi" ucap Ridwan to the point
" Sejak kuliah hingga sekarang loe selalu to the point bro, sangat kaku, walaupun profesi kita serius tapi di luar itu kita harus fleksible" ucap Baron, dokter yang menangani Kinar
"Gue gak sedang ingin bercanda, Kinar masih belum siuman sejak operasi siang tadi" ucap Ridwan menghela nafasnya
"Tenang saja, dalam beberapa jam juga akan siuman, operasinya sukses, kita hanya tinggal tunggu hasilnya" ucap Baron
"Apa loe bisa menjamin nya? " tanya Ridwan serius
"Oh my god, Ridwan, loe gak percaya sama omongan gue, kenapa bukan loe aja yang kemarin operasi" dengus Baron kesal, namun ia tak ambil hati, Ridwan memang seangkatan dengannya, ia dokter jenius dengan ipk diatas rata-rata, malah sudah dan ia hanya berada di posisi kedua setelah Ridwan
__ADS_1
"Sorry gur gak bermaksud seperti itu" ucap Ridwan mendesah pelan
"Gue sudah mempelajari, hanya mungkin pasca operasi nanti seperti biasa ia akan mengalami sakit kepala luar biasa, dan loe pasti paham itu akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan dia akan merasa pusing dan sakit. semua kembali ke kondisinya.
Kinar mengalami Hematoma (cidera kepala yang di sebabkan pecahnya oembuluh darah yang ada di sekitar otak atau tulang tengkorak bagian dalam yang mengakibatkan darah membeku di celah antara otak dan tulang tengkorak) beruntungnya masih ringan" ucap Baron menjelaskan
"Thanks bro, gue akan butuh bantuan lagi kedepannya"
"Your welcome bro, gak usah sungkan, kapan pun loe butuh bantuan gue, gue akan bantu" ucap Baron
"Setelah kondisi Kinar stabil, gue akan pindahkan kerumah sakit gue" sambung Ridwan kemudian
"Gue akan urus semuanya begitu pasien siap di pindahkan" jawab Baron
Rumah sakit yang Ridwan miliki adalah rumah sakit bertaraf internasional, fasilitasnya lebih memadai dan modern
Rumah sakit itu didirikan oleh Putu dan Ridwan, beberapa tahun lalu dan berkembang pesat dalam waktu cepat memiliki cabang di beberapa kota besar
Setelah selesai menerima telepon, Ridwan masuk ke dalam ruangan ICU, ia sendiri yang memeriksa kondisi Kinar
Keesokan harinya
Ridwan masih tertidur di samping sisi trmpat tidur Kinar, ia semalaman berjaga dan terus memeriksa kondisi Kinar
Satria menghampiri Ridwan, ia sudah membeli sarapan untuk mereka dan segelas teh hangat
"Kak , kak Ridwan bangun, kakak makan dulu lalu istirahag, biar aku yang gantian jaga Kinar" ucap Satria menepuk pelan punggung Ridwan
Ridwan lalu berjalan keluar, memakan sarapan paginya lalu tak lama kemudian ia tertidur
Satria mengambil handuk kecil, ia membasahinya dengan air hangat, memerasnya lalu membersihkan tangan dan mengelus lembut wajah kinar
__ADS_1
Alis Kinar mengkerut, jari-jari tangannya bergerak
"Papa sakit" kata-kata yang pertama keluarbdari mulut Kinar saat ia melihat Satria sedang mengelap tangannya
"Ya Allah, Alhamdulillah... " Satria tak bisa mengungkapkan betapa ia bahagia, hanyanair mata bahagia yang keluar dari sudut matanya
"Alhamdulillah sayang, kamu akhirnya bangun, kamu udah buat papa takut" ucap Satria menciumi tangan putrinya
"Kepala Kinar sakit pa" ucapnha meringis ingin menyentuh kepalanya
"Jangan di pegang dulu sayang, sabar ya sayang, papa panggil papa Ridwan dulu ya" ucap Satria lembut, yang di balas anggukan pelan Kinar
Satria tak tega membangunkan Ridwan, namun ia tak tahu harus bagaimana
Ridwan segera menghubungi Baron, sementara menunggu Baron datang, ia memeriksa kondisi vital Kinar
"Sakit.." ucap Kinar menitikkan air mata, suaranya lirih membuat Satria tak tahan melihatnya
"Sabar sayang, papa Ridwan sama om dokter akan mengobati kamu. Kinar yang kuat ya" lirih Satria menggenggam tangan Kinar
Dokter Baron datang, ia juga memeriksa Kinar lalu ia memberikan Kinar obat untuk memgurangi sakit di kepalanya
"Bagaimana dok?? " tanya Satria tak sabar
"Semuanya baik pak, Kinar sudah melewati masa kritisnya, sakit kepala yang ia alami karena efek. benturan dan sakit dari bekas operasi yang efek biusnya hilang, saya sudah memberikan ia obat, biarkan Kinar beristirahat agar pemulihannya cepat" terang Dokter Baron
"Kapan Kinar akan menjalani rotgen, CT Scan( oemeriksaan medus dengan menggunakan kombinasi teknologi rotgen ataunsinar -x dan komputer untuj melihat kondisibtubuh secara mendalam) atau MRI( Prosedur pemeriksaan medis dengan teknologi magnet dan gelombang radio untuk mendapatkan gambaran organ tulang dan jaringan tubuh secara rindi dan mendalam) ? " tanya Ridwan pada dokter Baron
"Segera, secepatnya"jawab Baron
Satria dan Baron sedang berbicara langkah kedepan yang akan mereka lakukan, dari kejauhan Anggi setengah berlari menghampiri Ridwan dan dokter Baron
__ADS_1
"Bbbagaimana kondisi anak saya dok? " tanya Anggi terbanta-banta
"Alhamdulillah anak ibu sudah melewati masa kritisnya, ..."