
"Informasi ibu Anggi seolah di blokir oleh seseorang, namun kalau bu Widya saya mendapat beberapa informasi yang mengatakan jika bu Widya sering terlihat di kota B, ia bergonta ganti pasangan keluar masuk hotel" ucap Anjar perlahan, takut reaksi Satria.
Namun di luar dugaan Satria hanya menatap Anjar sekilas, lalu kembalj focus pada ponselny
"Bagaimana dengan anak nya? "
"Negatif boss, anaknya tak pernah terlihat" ucap Anjar menggelengkan kepala
"Sebaiknya kau secepatnya memcari keberadaan istriku Anggi, itupun jika kau masih ingin bekerja padaku, ingat kau berhutang banyak padaku" Ancam Satria lalu mengibaskan tangan, meminta Anjar keluar dari ruang kerjanya
Setelah Anjar pergi, Satria memijit kepalanya yang sakit, ia sedikit heran, mengapa baik kakek maupun neneknya tidak panik saat Anggi pergi dari rumah, seolah mereka tahu Anggi dimana, dan sudah setahun ini Satria mencari keberadaan Anggi, namun orang-orang yang di pekerjakan untuk melacak Anggi seolah informasinya di blokir, dan Satria curiga jika kakeknya di balik itu semua
Sudah setahun dan ia masih saja seperi orang bodoh mencari kesana kemari keberadaan istrinya
"Aku sudah menalak Widya dan statusku kini bukan suaminya lagi, surat cerau sudah ditanganku sejak lama.
Aku ingin menjadikan Anggi satu-satunya istriku yang sah dan menebus semua kesalahanku padanya " ucap Satria lirih
Satria lalu mengambil jasnya dan kunci mobilnya berjalan keluar, di sana Karin langsung berdiri melihat bos nya keluar
"Karin tolong kamu kosongkan jadwal saya satu minggu kedepan"
"Tapi pak, bapak ada janji makan malam...."
"Saya akan datang, tapi keesokan harinya saya tidak akan masuk hingga satu minggu, tolong kamu handle semua, jika ada hal yang mendesak, kamu hubungi saya" ucap Satria langsung pergi sebelum Karin berkata apa-apa
"Huh, sepertinya boss sedang dalam mood yang buruk" ucap Karin kembali melanjutkan pekerjaannya
Malam harinya
Satria tak mengerti mengapa kliennya pak Dewantork memilih tempat pertemuan di sebuah bar n cafe , ia lebih senang membahas bisnis di tempat yang tenang, namun apa daya, kliennya ini merupakan investor besar yang selalu menjadi rekanan bisnisnya selama ini
Satrja berjalan memasuki cafe tersebut, ia melihat pak Dewantoro sudah di sana bersana asistennya
"Malam pak, apa kabar?" sapa Satria sopan
"Baik, baik, ayo silahkan duduk dan pesan makanan" ajak Dewantoro
__ADS_1
mereka lalu memesan makanan , di sela-sela makan malam terjadi pembicaraan bisnis, pk Deantoro sangat senang bekerjasama dengan Satria, ia menaruh simpati karena Satria seorang yang berdedikasi tinggi dan pantang menyerah
"Jadi nak Satria, bapak tunggu proposal kerjasamanya ya. sekarang kita santai dulu, hidup itu harus di bawa santai, jangan tegang dan sibuk bekerja terus" ucap Dewantoro menghembus rokoknya
Satria merasa canggung, pasalnya ia tak suka meminum minuman keras, namun ia harus menghormati tuan tamu
" Maaf pak, saya tidak suka alkohol, saya akan pesan soft drink saja" ucap Satrua malu
"Hahahhaa, unik sungguh kamu anak muda" Tawa Dewantoro pecah, untuk pertama kalinya ia melihat pemuda menolak alkohol
Satria hanya tersenyum canggung, ia lalu pamit menuju toilet untuk menelpon Karin agar memesankan tiker menuju Bali.
Satria merasa harus memastikan sesuatu, ia merasa amat janggal
Baru saja kakinya melangkah masuk menuju tempat yang hingar bingar dengan musik bervolume besar, ia melihat seorang wnaita yang nampak familier sedang di tarik dan di jambak rambutnya oleh seorang pria bertubuh tambun
"Ayo jalang, aku sudah membayarmu mahal, sekaranf ikut aku" teriak si pria dengab senyum menjijikan
Satria menghampirj pria tersebut, berusaha melihat wanita yang ia tarik rambutnya, namun wajah wanita itu tertutup rambutnya yang acak-acakan
"Sana pergi, apa yang kau lihat" dengusnya kesal sambil mengibaskan tangannya
"Apa anda tidak bisa halus sedikit dengan wanita? " ucap Satria menghempas tangan pria gembul itu agar melepas cengkraman tangannya di rambut wanita malang itu
"Brengsek mau cari mati loe? " ucap si pria gembul marah, ia hendak melayangkan bogem mentah ke arah Satria, namun Satria menghindar hingga tubuh gebul pria tersebut jatuh menimpa kursi di depannya hingga patah, tak kuat menopang berat tubuhnya
Beberapa orang yang melihat tertawa, sontak musik segera berhenti karena kegaduhan itu
Dewantoro yang mendengar kegaduhan di ruang sebelah, segera menuju kesana dan melihat Satria sedang bersitegang dengan seorang pria bertubuh gembul
Dewantoro menghampiri Satria, ia tahu pria ini tak pernah mau cari perkara, sehingga Dewantoro penasaran mengapa Satria bersitegang dengan pengunjung bar tersebut
"Ada masalah apa nak Satria? "tanya Dewantoro melihat ke arah pria gembul yang sedang merintih kesakitan memegangi bokongnya, sementara ada seorang wanita yang terduduk di lantai dengan rambut berantakan
"Pria ini menganiaya wanita itu, aku hanya mencoba memberitahu, namun malah pria itu ingin menonjokku" ucap Satria santai
"Terima kasih pak, terima kasih" ucap wanita itu sambil menghapus air matanya, ia membenarkan rambutnya yang berantakan karena ulah pria gembul itu
__ADS_1
Satria merasa sangat familiar dengan suara wanita itu, ia mencoba membantu wanita itu berdiri, hingga.....
" Widyaaaa? ucap Satria tak percaya melihat wanita yang ia tolong adalah mantan istrinya sendiri
"Mas Sat.... trii aaa" ucap Widya bergetar
Widya langsung menghempas tangan Satria dan berlari keluar dari tempat itu
Sedang Satria masih tertegun tak percaya dengan penglihatannya, wanita yang ia selamatkan adalah wanita yang sudah meninggalkannya, menghancurkannya berkeping-keping
"Nak Satria apa kamu memgenal wanita itu? " tanya Dewantoro bingung
"Huh pantas membelanya, ternyata kau denganku sama-sama hidung belang. Jalang itu sudah ku bayar dan gara-gara kamu dia sekarang kabur, sialan" umpat si pria gembul
Satria menghampirk pria tersebut lalu melayangkan sebuah bogem mentah ke wajahnya yang penuh lemak dan berlari mengejar Widya
"Maaf pak" ucap Satria pada Dewantoro
"Lari kejar lah ia nak" ucap Dewantoro
Satria mengangguk, ia langsung berlari mengejar Widya.
Nampak dari kejauhan Widya masih berlari, ia kini melepaskan highheel nya agar larinya kencang, begitu melihat Satria, ia meneruskan larinya, melewati lampu merah.
Malang Satria tak melihat rambu lalu lintas yang sudah hijau, hingga tanpa sadar sebuah kendaraan yang melaju kencang, menghantam keras tubuh Satria hingga terlempar beberapa meter dari tempat tabrakan.
Darah mengucur deras dari tangan dan kepala Satria, ia diam tak bergerak.
Widya yang melihat kejadian itu langsung berlari kearah Satria sambil menagis
"Mas Satriaaaaa, bangun mas maafkan aku mas" ucap Widya berteriak histeris, ia di pegangi seorang pria karena takut Widya malah memperparah cidera yang dialami Satria
Ambulance dan polisi datang, lalu segera membawa Satria yang berlumuran darah menuju rumah sakit
Sepanjang jalan Widya hanya menangis, ia terlihat pucat pasi, menggigit bibirnya sendirj menahan sakit.
Sakit bukan karena luka di kakinya, namun sakit di bagian intim tubuhnya, tampa sadar darah mengalir dari sela-sela kakinya dan dia ambruk tak sadarkan diri
__ADS_1