
Satria terbangun karena pintu kamar Anggi di ketuk
"Ya mba Prapti"ucap Satria membuka pintu kamar
"Itu pak, saya cuma mau ingatkan takut ketinggalan pesawat"
"Makasih mba" ucap Satria menutup kembali pintu kamarnya setelah Prapti pergi
Ia menghampiri Anggi yang masih pulas tertidur, ia mencium kening Anggi dan memandang lekat wajah tenang Anggi yang tertidur.
Pandangan mata Satria langsung terarah pada bibir merah Anggi yang sensual, ingin rasa ia ******* nya lagi dan lagi seperti candu bagi nya.
Anggi bergerak hingga selimut yang menutupi nya tersingkap di bawah selimut terlihat tubuh Anggi tanpa sehelai benang membuat gairah Satria timbul karena kemolekan tubuh Anggi.
Ia ******* bibir Anggi dan mulai menciumi setiap jengkal tubuh Anggi hingga sesuatu terbangun
Anggi yang merasa geli membuka mata nya dan mendapati suami nya sudah siap menyatukan diri.
Satria bergerak pelan dan lembut membuat Anggi mendesah dan mereka pun melampiaskan hasrat nya lalu mandi dan berpakaian.
Mereka menuju ruang makan karena merasa kelaperan.
"Mba Prapti, Widya kemana? " tanya Satria
"Bu Widya di teras belakang pak, sebentar saya panggilkan"
"Gak usah mba, biar saya aja" ucap Anggi bangkit lalu berjalan menujunteras belakang rumahnya.
Widya tertidur di Sofa gantung dengan tangan masih memegang buku.
Anggi menghampirj dan menemuk lembut tangan Widya
"Mba Wid, bangun kita makan siang yu"
Widya mengerjabkan mata nya dan melihat Anggi berdiri di depan nya
"Apa kalian sudah mau jalan? "
__ADS_1
"iya mba, tapi kami mau makan dulu karena lapar, mas Satria sudah menunggu kita"
Widya bangkit di bantu Anggi, kehamilannnya yang makin membesar membuat nya susah bergerak bebas.
Mereka menuju meja makan. Satria membantu istrinya duduk lalu mereka makan.
********
Anggi dan Widya duduk di ruang tamu, menunggu Satria yang mengampil travel bag di kamar.
Satria menarik satu travel bag dan menghampiri kedua istrinya yang sedang duduk
"Sayang, apa kamu yakin bisa ditinggal? "
"Iya, jangan kawatir, disini ada Prapti yang menjagaku"
"Mba aku ga enak meninggalkan mba dalam kondisi seperti inil ucap Anggi memandang Widya tak tega
"Pergilah, aku baik-baik saja" ucap Widya lirih
Ia akan mengantar pasangan bahagia itu pergi merengguk cinta mereka.
Widya menghampiri Anggi dan menyerahkan sebuah gelang tangan perak. memakaikan nya ditangan Anggi.
"Ini tanda persaudaraan kita, jangan hilangkan ya" Anggi meneteskan air mata. Ia senanh sekali sesorang menganggapnya sebagai saudara.
Anggi berjalan menuju kamar nya dan kembali dengan gelang tangan kesuakan nya lalu memakaikan pada Widya
"ini terlalu mahal Anggi"
"Sttt mba Wid, jangan menolak pemberianku, atau aku akan marah" ucap Anggi
Widya menatap suami nya dan Satria mengangguk
"Makasih " ucap Widya terisak. ia merasa terharu Anggi menganggapnya kakak.
Satria memeluk kedua wanita yang di cintai nya.
__ADS_1
Anggi memeluk Widya berpamitan dan berjalan lebih dahulu ke mobil, ia sengaja memberikan waktu untuk Satria berpamitan pada Widya
"Sayang, mas jalan dulu ya. kamu ingat jangan telat makan, kalau ada apa-apa kabari mas secepat nya"
"Iya suami ku sayang.
Mas makasih ya sudah mencintaiku sebesar ini, melindungiku. aku tak akan melupakanmu.
Aku cinta kamu mas. " ucap Widya memeluk Satria
"Aku juga mencintai kamu sayang"
"Mas mau kah kamu memaafkan semua kesalahan yang pernah ku perbuat?"
"Aku selalu memaafkan nya sayang, karena tugasku membimbingmu "
"Mas, jangan lupain aku dimanapun kamu berada"
Satria mengacak-acak rambut Widya, wanita ini sedang cemburu dalam hati Satria
"Aku Satria Adiputro berjanji akan selalu mencintak Widya apsari dan selalu membawa namanya di manapun aku berada"
"Mas lebay" ucap Widya tertawa
"Sekarang kamu puas? " tanya Satria mengecup kening istrinya yang di balas anggukan Widya.
"Pergilah dan berbahagialab kalian, jangan lupa beri kabar bahagia setelah kalian pulang nanti"
Satria tersenyum, mengecup kening istrinya lagi dan memeluknya agak lama
"Selamat jalan mas, aku mencintaimu" ucap Widya dalam hati sambil melambai kan tangan mengantar kepergian Anggi dan Satria.
Widya langsung kembali ke kamar, ia menangis. ini adalah waktu perpisahan bagi nya dan dalam beberapa hari akan menjadi awal baru hidupnya tanpa Satria.
Widya merapihkan beberapa pakaian bayi yang sudah di persiapkan oleh Satria, semua pakaian itu Satria yang memilihnya.
Ia berjalan kesudut ruangan di mana terdapat box tidur bayi
__ADS_1