Suami Sewaan

Suami Sewaan
Keluarga II


__ADS_3

"Kekek tidak menyalahkan perasaanmu, tapi kakek menyalahkan tindakkanmu.


Apakah karena Anggi belum hamil jadi bisa kamu abaikan, terlebih lagi kamu tinggalkan di bandara, kakek dengar ia shock dan jatuh pingsan, tidak makan hingga malam hari, itulah mengapa Brams datang untuk merawat istrimu. Kakek tahu semua yang terjadi karena Brams sebelum nya meminta izin kakek karena ia di panggil Anggi ke rumahnya"


ucap Putu panjang lebar menasehati Satria dan sekaligus mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya mengapa Brams terlihat di kamar Anggi


"Kakek harap apa yang telah kakek sampaikan bukan hanya kamu pahami, namun kamu harus amalkan di kehidupan berumah tanggamu.


intinya percaya dan saling melengkapi


tak ada manusia yang sempurna, namun bagaimana kita bisa saling melengkapi kekurangan pasangan kita masing-masing"


Satria mengangguk, ia merasa amat bersalah pada Anggi.


Ia telah mengenal wanita itu sejak lama dan tahu sifat Anggi, namun kecemburuan telah membutakan mata nya.


Ia menjadi pribadi yang egois, tidak memikirkan perasaan Anggi hanya karena ia ingin mencari istri nya yang lain, sebagai suami ia sudah tak adil.


"Kakek rasa sebaiknya kau hubungi istrimu itu, ia pasti sedang bersedih karena perkataanmu tadi"


"Besok saja kek, Anggi mungkin butuh sendiri sekarang" ucap Satria ragu akan usul kakek nya itu


"Huh dasar anak bodoh, kamu fikir wanita itu sama kaya pria yang marah kamu diamkan besok baik, wanita itu harus di rayu tunjukkan kamu peduli, simple tapi bisa membereskan masalah" ucap Putu menjewer kuping cucunya gemas


Satria hanya bisa nyengir kuda, hatinya begitu bahagia, setelah sekian lama hidup sendiri tanpa keluarga, ia tak pernah merasakan bagaimana memiliki keluarga, hingga ia merindukan yang namanya di marahi


"Kek, makasih " ucap Satria memeluk kakeknya, tak terasa airmatanya menetes, air mata haru dan bahagia


"Sudah cepat telepon istrimu, kakek mau sholat" ucap Putu meninggalkan Satria


Sementara di tempat lain

__ADS_1


Anggi yanv tadi berlari keluar dari rumah sakit kini berjalan sendiri menyusuri trotoar jalan raya


Ia tak perduli banyak mata yang menatapnya penuh tanda tanya karena ia berjalan sambil menangis


Suara kendaraan dan bisingnya suara klakson mobil yang meng-klason nya karena Anggi berjalan tak tentu arah membuat beberapa pengendara motor sengaja membunyikan klakson agar tidak menabrak Anggi


Hingga seorang polisi yang sedang berjaga menghampiri Anggi


"Siang bu, ada yang bisa kami bantu? " tanya si polisi yang berusia sekitar empat puluh tahun itu menyapa dengan sopan


Langkak kaki Anggi berhenti, ia mendongakkan wajahnya ke arah sumber suara yang menyapanya, namun ia hanya menggeleng lemah dan kembali berjalan.


Si polisi tersebut merasa ibu, lalu mengikuti Anggi dari belakang, walau beberapa kali polisi itu membujuk Anggi akan mengantarnya, namun Anggi tidak mengindahkannya


Seorang wanita setengah baya yang melihat dari kejauhan menghampiri Mereka, ia memandang si polisi seolah bertanya lewat tatapan


polisi tersebut hanya menunjuk Anggi seolah berkata tolong bujuk wanita itu


"Nak, kamu kenapa? mengapa kamu menangis? " tanya si ibu lembut membuat langkah Anggi terhenti


Si ibu tersebut memegang bahu Anggi,


ia menepuk-nepuk lembut bahu Anggi


"Ibu tak akan menghalangi atau mengganggumu, terlebih lagi ibu tak akan menanyakan permasalahanmu, tapi nak sebaiknya kamu istirahat sebentar yuk ke kios reyot wanita tua ini" ucap Si ibu lagi sambil mengangguk dan tersenyum


Entah mengapa Anggi mau menuruti wanita tersebut yang membawanya menuju kios usang yang seadaanya.


Wanita itu menjual minuman, rokok dan cemilan khas kios pinggir jalan


Anggi duduk di sebuah bangku kayu panjang, pandangannya kosong menatap ke depan

__ADS_1


Tak selang berapa lama si ibu tersebut datang membawa dua gelas satu berisi kopi untuk pak polisi yang sejak tadi mengikuti Anggi dan yang satunya lagi teh hangat"


"Minumlah, biar kamu merasa lebih segar" ucap si ibu tersenyum


Pak polisi yang bernama Sardi tersebut terlihat berbincang sebentar lalu meninggalkan kios tersebut


Anggi menatap ke pergia polisi tersebut, ia menyesal, karena dirinya pak polisi baik hati itu mengikutinya berjalan hingga satu jam


Wanita itu tersenyum dan seolah mengerti apa yang sedang di pikirkan Anggi


"Pak Sardi pamit sholat dan beliau menitipkan kamu pada ibu sebentar"


"Saya tidak mengenalnya bu, bapak itu mengikuti saya sejak satu jam lalu"


"Ibu tahu"


"Kok ibu tahu? apa pak Sardi cerita?"


wanita tua itu menggeleng, senyuman tak pernah lepas dari bibirnya


"Pak Sardi itu tinggal di sekitar sini, tentu saja ibu mengenalnya, dan jika kamu bilang satu jam lalu, berarti pak Sardi sedang berjaga di pos lampu merah di perempatan jalan M"


Anggi hanya mengangguk lemah


"Pak Sardi mengikutimu karena ia kwatir padamu nak, mengapa kamu menangis dan permasalahanmu apa, ibu tak memiliki hak bertanya.


Pak Sardi rela memgikutimu karena mungkin ia teringat dengan mendiang anaknya yang frustasi lalu bunuh diri dengan cara berlari ke jalan raya" ucap wanita tua tersebut


Anggi tercengang ia menutup mulutnya yang terkejut mendengar sepenggal cerita tragis tentang anak pak Sardi tersebut, pantas saja pak Sardi mengikutinya


"Oh iya nama ibu, Karsem.

__ADS_1


Kamu bisa memanggil ibu Kar seperti orang-orang biasa memanggil, namamu siapa cah ayu?"


"Anggi bu"


__ADS_2