
Satria bersandar pada sudut meja kerjanya, menatap foto pernikahannya dengan Anggi yang terbingkai rapih di meja kerja tersebut serta di ruangan itu
"Aku pasti akan menemukanmu sayang, walau keujung dunia" bisik Satria memeluk bingkai foto di meja kerja Anggi
Tak beberapa lama ponsel Satria berbunyi, pesan masuk dari Anjar.
Beberapa foto gadis kecil yang di gendong oleh seseorang yang tak lain adalah Widya, dan alamat Widya saat ini
"Anak siapa yang bersamamu? apakah kamu masih ingin membuatku merasa bersalah seumur hidup dengan kelakuanmu Widya? " gumam Satria menatap nanar pada layar ponselnya
Satria bergegas masuk ke dalam kamar Anggi, menggosok gigi dan cuci muka, lalu bergegas keluar rumah, menuju alamat yang di kirim Anjar
Satria berdiri di depan sebuah rumah sederhana, lalu melangkah masuk ke dalam halaman rumah tersebut
setelah menekan bel beberapa kali, tak seorang pun yang keluar, Satria berusaha mengintip keadaan dalam rumah dari jendela rumah tersebut, namun ia tak melihat rumah tersebut di huni, berantakan
"Mas, mas cari siapa? " tegur seorang ibu yang tinggal di sebelah rumah tersebut
"Anu bu, saya mencari pemilik rumah ini" ucap Satria
"Owh ibu Silegar tidak tinggal disini, rumah ini kemarin di sewakan pada seseorang, namun mereka baru saja pindah beberapa hari yang lalu"ucap si ibu menjelaskan
Satria merogo ponsel dalam saku celananya, lalu Membuk galery fotonya, ia mencari foto Widya, kemudian ia menunjukkan foto tersebut
"Apa wanita ini yang tinggal mengontrak di rumah ini Sebelumny? " tanya Satria
"Iya benar" ucap si ibu langsung mengenali foto tersebut
"Apa ibu yakin wanita ini adalab wanita yang sama dengan yang berada di ponsel saya bu?"
"Iya mas, saya yakin seratus persen karena beberapa kali saya menolong wanita itu dari suaminya yang kasar, mereka masih muda namun setiap hari hanya bertengkar, suaminya kerjaannya hanya berfoya-foya.
Terkadang mba Widya Wajahnya memar mungkin habis di aniaya sama suaminya, tapi itu seperti bukan suaminya, gak ada sayang-sayangnya sama. istrinya, malah pas bersalin, saya yang antar kerumah sakit Karen suaminya belum pulang sudah tiga hari.
__ADS_1
Maaf saya jadi nyerocos terus, habis saya sebel mas sama suaminya"ucap si ibu geram
Satria yang mendengarnya pun ikut geram, walau ia membenci Widya atas perbuatannya meninggalkannya dan pergi dengan laki-laki lain, namun ia juga merasa iba mendengar penuturan si ibu tersebut
"Miris" kata itu yang tepat menggambarkan bagaimana perasaan Satria saat ini, Widya pergi demi laki-laki itu, meninggalkannya, namun malah hidup menderita
"Gak apa-apa bu, saya mengerti, saya pun kesal mendengarnya" jawab Satria
"Eh iya ngomong-ngomong mas ini siapanya Mb Widya ya? " tanya si ibu
"Oh saya kerabat jauhnya bu, kebetulan lewat dan mau mampir, eh gak tahunya dia sudah gak tinggal disini" ucap Satria mencari alasan
"Ooo, begitu" ucap si ibu mengangguk
"Oh ya apa ibu tahu kemana Widya pindah?
"Saya gak tahu mas, soalnya mba Widya gak bilang apa-apa, hanya mereka bertengkar hebat terus suaminya maksa dia pindah, dan barang-barangnya aja masih ada yang tertinggal disini. Sepertinya suaminya itu terlibat hutang, beberapa kali ada penagih hutang kerumahnya" tambah si ibu memberitahu Satria
"Kalau begitu saya permisi bu, saya minta tolong jika ibu tahu sesuatu, tolong kabari saya ya bu, makasih, permisi Assalamu'alaikum" ucap Satria pamit
"Semoga kau baik-baik saja dengan anakmu disana Widya" gumam Satria lirih
Satu Tahun Kemudian
Satria belum juga menemukan keberadaan Anggi, wanita yang paling dicintainya.
Ia terus mencari dan mencari dimana Anggi berada.
Satria menyalurkan kesedihannya dengan bekerja dan bekerja hingga tak kenal waktu, sampai perusahaan yang di serahkan oleh Putu padanya berkembang pesat hanya dalam satu tahun.
Satria juga masih mencari keberadaan Widya, karena misteri siapa anak bayi yang bersama Widya belum terpecahkan, Satria tak mau suatu saat di salahkan karena menelantarkan anaknya, walau ia tahu bukan kesalahannya, Widya lah yang pergi meninggalkannya untuk hidup dengan pria lain
"Bagaimana keadaan Anggi sekarang?, anakku seharusnya sudah berusia lima bulan, aku benar-benar laki-laki tak berguna, bagaimana Anggi melewati kehamilannya dan persalinannya tanpa aku, pasti sangat berat, huhf" Satria mengacak-acak rambutnya frustasi
__ADS_1
"Mengapa aku menjadi pria yang sangat menyedihkan seperti ini? sampai kapan aku tersiksa sendiri seperti ini? " gumam Satria menangis
Satria terus mengutuk dirinya sendiri dan setiap hari ia menyesali kesalahannya. Jika tidak bekerja Satria menghabiskan waktunya di kamar sambil memandangi foto pernikahannya dengan Anggi, atau ia habiskan waktu di ruang kerja, dimana Anggi memajang foto pernikahannya berukuran besar
Tok Tok Tok
Pintu ruang kerja Satria di ketuk, tak lama kemudian masuklah sekertarisnya membawa notebook berisi schedule Satria hari ini
"Saya mau mengingatkan jika nanti malam bapak makan malam dengan pak Dewantoro, membahas proyek kita di kota K" ucap Karin sekertaris Satria
"Ah hampir Lupa, kosongkan schedule saya siang ini, saya sedang kurang enak badan, oh ya Minta Anjar menemui saya siang ini" ucap Satria
"Baik pak, ada yang lain? " tanya Karin
"Buatkan saya kopi dan pesankan makan siang untuk saya, saya sedang tidak ingin keluar kantor"
"Baik pak, permisi" ucap Karin lalu meninggalkan ruang kerja Satria
Satu jam kemudian
Anjar sudah berada di ruangan Satria, ia bisa merasakan aura di ruangan itu mencekam, ditambah wajah Satria yang tak bersahabat
"Jadi apa kamu belum dapat informasi dimana istriku berada? apa tak cukup waktu bagimu? satu tahun sudah, aku membayarmu bukan untuk tidur" dengus Satria kesal
"Informasi ibu Anggi seolah di blokir oleh seseorang, namun kalau bu Widya saya mendapat beberapa informasi yang mengatakan jika bu Widya sering terlihat di kota B, ia bergonta ganti pasangan keluar masuk hotel" ucap Anjar perlahan, takut reaksi Satria.
Namun di luar dugaan Satria hanya menatap Anjar sekilas, lalu kembalj focus pada ponselny
"Bagaimana dengan anak nya? "
"Negatif boss, anaknya tak pernah terlihat" ucap Anjar menggelengkan kepala
"Sebaiknya kau secepatnya memcari keberadaan istriku Anggi, itupun jika kau masih ingin bekerja padaku, ingat kau berhutang banyak padaku" Ancam Satria lalu mengibaskan tangan, meminta Anjar keluar dari ruang kerjanya
__ADS_1
Setelah Anjar pergi, Satria memijit kepalanya yang sakit, ia sedikit heran, mengapa baik kakek maupun neneknya tidak panik saat Anggi pergi dari rumah, seolah mereka tahu Anggi dimana, dan sudah setahun ini Satria mencari keberadaan Anggi, namun orang-orang yang di pekerjakan untuk melacak Anggi seolah informasinya di blokir, dan Satria curiga jika kakeknya di balik itu semua