
"Apaaaa??? Apa kau sedang mengerjai kami nak?? katakan sama mama ini gak benar kan???" tanya Anggi membelalakkan matanya lebar, menatap putrinya tak percaya
”Kinar sayang, kamu tahu kondisi mamamu kan nak???, papa harap kamu jangan menambah beban pikiran mamamu, saat ini mamamu sedang sakit.
Lagi pula pernikahan itu sesuatu yang sakral nak, tidak sesederhana seperti yang kamu pikirkan
Pernikahan itu ibarat perahu yang di dayung oleh dua orang yang berbeda sifat dan karakter. Kalian harus menyatukan pikiran agar kapal kalian tak kandas begitu saja.
Apa kamu mengerti sayang maksud papa???” tanya Satria serius menatap putrinya,
Kinar memberanikan diri menatap kedua orangtua yang sudah membesarkannya, ia harus meyakinkan mereka, menekan perasaan gugupnya.
Ini kesempatannya membalas kebaikan kedua orangtuanya tersebut yang sudah merawat dan menyayanginya seperti anaknya sendiri tanpa membeda-bedakan kasih sayang pada semua anak-anaknya
”Kinar mohon maaf pa, ma, tapi Kinar sedang tidak bercanda. Maafkan Kinar selama ini menyembunyikan hubungan kami. Tapi Kinar dan mas Dimas sudah serius ingin menikah. Kinar mohon doa restu papa dan mama”
Anggi menatap suaminya seolah meminta pendapatnya, terlihat Satria pun tak berbeda dengan dirinya bingung dan tak percaya, pasalnya Kinar tak pernah terlihat berpacaran atau membawa teman pria kerumah mereka, kalaupun ada pria yang datang kerumah mereka itu adalah Anak dokter Nugraha yang bernama Fajar anak dari rekan kerja sekaligus orang kepercayaan Satria yang telah menggelapkan dana perusahaan
Kinar masih terdiam menunggu keputusan kedua orangtuanya, bagaimanapun caranya, ia harus membuat mama dan papanya merestui dirinya menikah dengan Dimas.
Hanya dengan cara ini dia bisa mendapatkan uang untuk operasi mamanya.
”Mama dan papa tak tahu harus berkata apa nak, apa kamu yakin akan menikah dengan pria itu?? Pernikahan bukan hanya soal cinta sayang, lebih dari itu, kalian kedepannya akan menjadi partner dalam sehidup semati.
papa harap kamu sudah memikirkan itu masak-masak. Kami menyerahkan semua keputusan padamu. jika itu yang kamu inginkan maka kami akan merestuinya nak.
karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan kami” ucap Anggi
Kinar menitikkan air matanya, ia bahagia sekaligus sedih, bahagia karen akhirnya bisa membantu mamanya, sedih karena ia akan menikah dengan seseorang yang tak pernah ia cintai.
Kinar memeluk mamany erat, ia hanya bisa menangis tanpa suara.
Anggi menangkup wajah putrinya, menghapus air mata di pipi Kinar dan tersenyum
"Putri mama aebentar lagi akan menikah kok cengeng, bawa calon suamimu untuk menemui mama dan papa” ucap Anggi lembut
__ADS_1
"Besok keluarga mas Dimas akan datang sekalian melamar"ucap Kinar pelan
"Aaapa??? besok?? melamar? secepat itu? mama dan papa belum punya persiapan, bagaimana ini mas?" ucap Anggi panik karena terkejut
"Mengapa secepat itu nak? apa yang harus kamu lakukan? kita juga harus memberitahu kakek Ridwan dan kakek Bagus atau mereka akan marah pada kami”
”Pa, ini acara lamaran sederhana saja, nanti Kinar yang akan memberitahu mereka. Kinar yang akan tanggung jawab jika mereka marah”
”Baiklah, apa yang pertama-tama kita persiapkan??? mama bingung, ah makanan ya gimana pa?" Anggi heboh sendiri, ia sangat bahagia putrinya akan segera di lamar dan menikah, namun ia pasti akan sedih jauh dari Kinar, anak yang penurut dan berbakti.
”Ma, pa, mas Kinar sudah melangkahi kaalian, Kinar sudah pesan catering biar kita gak cape. Kianr juga sudah membelikan beberapa baju untuk seluruh keluarga dan nanti ada orang yang sedikit merapihkan rumah kita untuk acara besok. Kinar awalnya menolak, tapi ini kemauan calon mertua Kinar”
”Lakukanlah nak yang menurut kamu baik, kami ikut apa katamu saja, Oh ya jangan lupa beritahu kakek dan nenekku, serta om mu, walau bagaimanapun mereka keluargamu dan kakek mu adalah wali sah mu nanti ketika menikah, bukan papa” ucap Satria
” Apa kalian tak keberatan???” tanya Kinar tak enak hati
”Tentu saja tidak nak, mereka keluargamu juga”
”Terima kasih ma, pa, Kinar sayang kalian” ucap Kinar memeluk kedua orangtuanya.
"Apaaaa??? ma, mama gak bisa begitu dong ma, Dimas gak mau menikah sama wanita kampungan itu, dia gak selevel sama Dimas"teriak Dimas tak terima, ia memprotes kemauan Mariska
"Jika kamu gak mau lebih baik bunuh mama saja sekalian. mama sungguh kecewa sama kamu.
Kamu ingin menikah dengan Bella mama sudah turuti, tapi apa yang wanita itu lakukan, tega-teganya dia mencoreng muka kelurga kita"ucap Mariska marah, i lalu nangis tersedu-sedu
Damar sudah tahu bahwa rencana ini pasti akan ditentang oleh Dimas, ia pun ikut angkat bicara
"Sejak papa meninggal, mama lah yang membesarkan kita, mama banting tulang tak kenal lelah demi kita buah hatinya, namun apa yang pernah kita ksih buat mama????
kesuksesan kamu juga berkat kerja keras mama, kamu hanya meneruskan bukan????,
Sekarang mam cuma ingin menutupi aib keluarga kita karena wanita yang kmu cintai kabur menjelang hari pernikahan, tidak kan kakak bisa membuang sedikit saja ego kakak demi mama?.
Mama sakit juga karena memikirkan kakak, apakah kakak pernah sedikit saja memikirkan bagaimana perasaan mama, apa yang mama mau???” Damar sengaja memperhalus kata-katanya, ia tak mu ucapannya berujung pertengkaran dengan Damar
__ADS_1
Dimas terdiam lama, ia memandang mamanya yang sedang menangis dalam pelukan Damar, hatinya sakit melihat wanita yang melahirkannya terlihat begitu sedih dan tak berdaya.
"Baiklah, demi mama aku mau, tapi jangn mama berharap aku bisa mencintai Kinar.
Walau Bella buruk Dimata mama, tapi dia wanita yang aku cintai selamanya” ucap Dimas membuat Mariska senangs ekaligus geram, wanita itu sudah menyakiti putranya sebegitu dalam dan Dimas masih bisa mengatakan mencintainya???
Mariska tak habis pikir, apakah anaknya sudah di cuci otaknya oleh wanita itu atau anaknya memang bucin dan menjadi bodoh permanen, entahlah.
"Kamuuu????....” geram Mariska marah, namun Damar menggenggam tangan mamanya dan menggeleng pelan meminta Mariska bersabar dan mengalah.
Mariska urung memarahi Dimas, yang utama kini adalah menikahkan Dimas dan Kinar
"Persiapkan dirimu dua hari lagi kita akan melamar Kinar pada orangtuanya” ucap Mariska bangkit di papah Damar
"Whaaaatttt, ma, mengapa begitu cepat ??? " ucap Dimas memrotes keputusan Mariska
"Jika kamu tak mau maka angkat kaki dari rumah ini dan jangan pernah anggap mama adalah mamamu” ucap Mariska menatap tajam kearah Dimas
Dimas menghela nafas panjang, ia melihat Damar menggeleng pelan padanya, meminta Dimas jangan membantah mama nya.
Masa teringat perkataan Damar tadi malam tentang kondisi mariska membuat Dimas hanya bisa pasrah, menatap punggung Mariska yang menjauh lalu hilang di balik pintu kamarnya.
Dua Hari Kemudian
Kediaman Satria sejak semalam sudah ramai, Ridwan dan Irine serta anak mereka Farel sudah tiba sejam pagi tadi, sedang Bagus dan Prapti serta anak mereka Alice datang pagi harinya.
Tak ketinggalan kakek dan nenek Kinar serta om Kinar ( keluarga almarhum Bobby)
Kinar sedang di rias di kamarnya, siang nanti adalah Acara lamarannya,
ruang tamu sudah di rias sederhana, karena Kinar pada dasarnya menyukai kesederhanaan.
Anggi menemani Kinar yang sedang di rias, ia juga di rias dengan make up tipis, menutupi wajahnya yang pucat dan kantong matang yang hitam karena sulit tidur.
Sementara Aisya sedang sibuk mengatur semua keperluan acara
__ADS_1