
"Itu papa Satria, Kinar panggil papa” ucap Anggi lembut
Nampak Kinar ragu, namun ia sudah tak takut lagi dengan Satria, ia dengan malu-malu memanggil Satria
”Papa....”ucap Kinar lirih
Satri tersenyum, ia menghampiri Kinar, menyerahkan Aisya pada neneknya dan mengulurkan tangan pada Kinar.
Kinar menatap Anggi seolah meminta persetujuan, setelah Anggi mengangguk, Kinar baru menjulurkan tangannya pada Satria
Sungguh pemandangan yang membuat semua orang bahagia dan haru, namun Anggi sudah berubah pikiran, ia tak akan memberitahu jati diri Kinar yang sesungguhnya pada Satria, membiarkan Satria berfikir jika Kinar anaknya dengan Widya, itu lebih baik, dan semua orang menghormati keputusan Anggi
Mereka semua makan siang setelah sekian lama melupakan kebersamaan itu, senyum terhias dari bibir semua orang, setelah selesai makan siang mereka melanjutkan berbincang santai di halaman belakang rumah Anggi, sedang si kecil Aisya dan Kinar pergi tidur siang, Anggi selalu meluangkan waktu menemani anaknya untuk tidur siang, di kamar mereka yang Anggi design untuk kedua buah hatinya
Satria berpamitan, ia ingin mengecek Anggi dan anak-anaknya, karena sudah hampir satu jam Anggi belum kembali bergabung dengan mereka
Satria membuka handle pintu, pandangannya langsung tertuju pada Anggi yang pulas tertidur dengan dua gadis kecil di sampingnya, Aisya kecil tidur dengan posisi masih menyusu pada Anggi
Satria tersenyum bahagia, hatinya merasa begitu hangat dan senang melihat pemandangan di depannya, wajah-wajah polos itu tertidur dengan nyenyak.
Perhatian Satria terarah pada wajah letih Anggi, tanpa ia sadari, kakinya melangkah maju mendekati tempat tidur tersebut, lalu duduk di tepian tempat tidur, pandangan matanya terarah pada wajah cantik Anggi, tanpa sadar ia membelai rambut Anggi dan mengecupnya lembut, membuat Anggi tersadar dari tidurnya dan terkejut mendapati wajah Satria tepat di depan matanya.
Sontak wajah Anggi merona merah, ia bisa merasakan nafas hangat Satria menerpa wajahnya
”Maa Maas, apa yang kau lakukan?"tanya Anggi kikuk, ia memalingkan wajahnya karena malu
Satria merasa tak bisa jauh dari wanita cantik ini, ada daya tarik tersendiri yang menggerakkannya untuk selalu dekat dengannya, Pertemuan pertama kali saat ia amnesia memang buruk, namun seiring waktu ia merasa sudah mengenal wanita ini sejak lama, semakin Satria mencoba mengingatnya, semakin ia merasa frustasi
ada magnet dan perasaan aneh yang hadir saat ia dekat dengan Anggi, dadanya berdegup kencang seolah sedang jatuh cinta, atau memang ia jatuh cinta pada Anggi, pada wanita yang katanya adalah istrinya sendiri
__ADS_1
”Maaf, maafkan aku" ucap Satria lirih
”Maaf untuk apa mas? jika tentang kejadian waktu itu, aku sudah memaafkanmu” ucap Anggi tersenyum tulus
”Maafkan atas semua kesalahanku dimasa lalu, yang sengaja maupun tidak, aku...” Satria menggenggam tangan Anggi,. ia memandang Anggi dengan penuh cinta
”Maukah kamu bersamaku sampai kita menua bersama? Aku mungkin bukan pria baik di masa lalu, namun aku ingin menjadi yang terbaik di masa kini dan nanti, maukah kamu mendampingi aku yang tak sempurna ini???
Aku mungkin belum ingat masa laluku, namu aku yakin satu hal, kamu yang terbaik untukku, Mari kita besarkan dan didik anak-anak kita dengan cinta dan kasih sayang” ucap Satria sungguh-sungguh
Anggi terdiam, ia seperti mimpi, Anggi mencubit tangannya sendiri, ia sangat takut saat terbangun itu hanya mimpi, namun ia merasakan sakit, ini nyata....
Anggi. menangis, perasaannya campur aduk, senang, bahagia, terharu
"Kamu tidak sedang bermimpi, ini nyata, aku ingin kamu menjadi istriku, mari kita buka lembaran baru bersama kedua belah hati kita” Anggi makin kencang menangis, ia sungguh bahagia,, ia memeluk Satria dan menangis dalam pelukannya
”Bantu aku, bantu aku mengingat masa laluku, dan dampingi aku menata hari esok" bisik Satria sambil mengecup puncak kelapa Anggi
Setelah tangisnya reda Anggi memberanikan diri bertanya pada Satria, karena ia tak mau keputusan Satria hanya karena ia butuh seseorang yang bisa membantunya mengingat masa lalu
”Mas, apa kau yakin dengan ucapan mu? apa kau yakin ingin bersama denganku? harus kamu tahu mas, dulu aku hanya istri sirih mu, kita sudah bercerai, jika kita ingin rujuk maka kita harus menikah lagi, namun...”Anggi terdiam memikirkan kata-kata yang tepat
”Katakanlah, aku mendengarkan” ucap Satria lembut, membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Anggi
”Apa mas yakin dengan keputusan mas, menikah lagi berarti kita berkomitmen dan mengucap janji suci di hadapan Allah, aku tak ingin pernikahan ini karena terpaksa, sebaiknya mas pikirkan masak-masak sebelum memutuskan, aku anggap aku tak pernah dengar apa yang mas katakan barusan” ucap Anggi memalingkan wajahnya
”Anggi dengarlah, mungkin ingatan mas rusak, tapi mas yakin dengan perasaan mas, jika dulu mas pernah jatuh cinta padamu, maka kini mas jatuh cinta padamu lagi dan kan lagi dan lagi, karena kamu wanita paling spesial di hati mas, maukah kamu menjadi istriku dalam suka dan duka, dalam bahagia dan susah?" tanya Satria memandang Anggi penuh cinta.
Anggi menatap mata Satria, tak ada kebohongan di sana, ada ketulusan dari setiap perkataan nya
__ADS_1
”Apa kamu tidak ingin tahu bagaimana Widya mas?”tanya Anggi tiba-tiba mengalihkan ucapannya
"Jika ia masih istriku, ia tak akan mengabaikan suaminya. Aku rasa ia bukan istri yang baik untukku, mengapa aku harus memikirkan wanita seperti dirinya???
Walau begitu aku tak akan melepaskan tanggung jawabku merawat Kinar" ucap Satria pelan
Sebaiknya kamu bersiap, aku akan membawa kamu menemui Widya, jika keputusanmu tak berubah maka aku akan menerima lamaran mu
"Baiklah”ucap Satria pasrah, ia mengerti kegelisahan hati Anggi, namun Satria sudah bertekad dalam hati, apapun yang terjadi, ia akan tetap menikah dengan Anggi
Setelah berpamitan dengan kakek dan neneknya, mereka berdua lalu meninggalkan rumah menuju tempat peristirahatan terakhir Widya
Alis Satria bertaut, ia bingung mengapa Anggi membawanya ke sebuah pemakaman umum, namun ia tak memendam semuanya , hingga langkah mereka berhenti di sebuah pemakaman seseorang yang masih terlihat baru, walau bunga diatas pusara sudah kering, namun bisa di katakan baru melihat tanah pemakaman. yang masih merah dan anehnya ada bau tak sedap yang keluar dari dalam makan, membuat Satria menutup hidungnya, tak terkecuali Anggi
”Disinilah mba Widya kini mas, ia tak bisa menemui mu karena ia sudah dipanggil yang kuasa, waktu kau kecelakaan ia yang membawamu kerumah sakit, namun kondisinya juga buruk, ia terkena kanker servik stadium akhir dan HIV, sehingga ia menghembuskan nafas terakhirnya saat kamu masih koma.
Kami juga tidak memberitahukan mu kabar meninggalnya Widya, karena kondisimu.
Kau dan Widya sudah cerai”ucap Anggi menjelaskan secara garis besarnya saja.
Satria hanya terdiam, ia menatap lurus ke arah nisan Widya, entah mengapa ia tak merasa sedih karena ditinggalkan istrinya, yang Satria rasakan hanya perasaan prihatin, membuat Satria bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa hatinya tak merasa kehilangan sedikitpun melihat Widya sudah tak ada.
Satria prihatin karena kondisi kuburan Widya yang dipenuhi lalat dan berbau, entah dosa apa yang ia perbuat di masa hidupnya, hingga saat ia meninggal makamnya pun membuat orang geli.
Semasa hidupnya baru kali ini ia menemukan hal seperti ini yang biasanya hanya ia lihat dalam film religi, namun kini ia melihat didepan matanya sendiri.
Satria menutupi hidungnya dengan kaos yang ia kenakan, lalu berjongkok membacakan alfatihah untuk almarhum Widya
”Widya, beristirahatlah dengan tenang, aku memaafkan semua kesalahanmu padaku. Aku berjanji akan merawat Kinar dengan baik”ucap Satria lirih memegang nisan Widya
__ADS_1
Setelah itu mereka lalu meninggalkan pemakaman itu tanpa menoleh kembali