Suami Sewaan

Suami Sewaan
Fitting Baju II


__ADS_3

Dimas dan Kinar sudah sampai di depan sebuah butik seorang perancang terkenal, terlihat wajah Dimas sangat buruk.


Satu bulan lalu ia kesini dengan Bella dan kini ia datang kembali dengan wanita lain.


Kenangan saat bersama Bella melintas di benaknya, membuatnya enggan turun dari mobil


”Ayo turun, mama sudah menunggu" ucap Kinar membuyarkan lamunannya


Dengan enggan akhirnya Dimas keluar dari dalam mobil, diikuti Kinar di belakangnya


"Eh mas Dimas, Bu Mariska sudah menunggu di dalam" sapa pegawai butik yang memang kenal dengan Dimas dan mamanya, mereka langganan butik tersebut dan pemilik butik merupakan sahabat Mariska


Sampai di tempat yang di beritahu pegawai butik, nampak Mariska sedang ngobrol asik dengan sahabatnya itu, terkadang terdengar tawa nyaring Mariska, entah apa yang sedang mereka bicarakan karena Mariska terlihat begitu bahagia.


"Eh Dimas dan calon istrinya sudah datang Jeung" ucap Tante Anne pemilik butik sekaligus perancang busana ternama


"Hallo Tan, apa kabar" sapa Dimas langsung mencium tangan Tante Anne dan cipika cipiki, sementara Kinar terlihat masih berdiri di tempatnya


"Sayang sini, kenalkan Tante Anne, pemilik sekaligus perancang busana pengantin kamu”ucap Mariska melambaikan tangan


Dengan sopan Kinar mencium punggung tangan Anne


"Kinar tante”


”Ya Tuhan Riska, sesuai seperti yang kamu katakan, aku suka, kamu memang pandai memilih menantu” ucap Anne tiba-tiba, sementara Mariska tersenyum bangga, namun tidak dengan Dimas yang mencibir dalam hati, ia menatap malas kearah Kinar


"Sayang, ayo langsung fitting baju, Tante khawatir berat badan kamu turun karena stress" ucap Anne menyindir Dimas.


Dimas hanya tersenyum canggung menanggapi perkataan Tante Anne


Sementara Kinar sudah di bawa oleh Asisten kepercayaan Anne untuk ke kamar ganti


Tak lama Anne pun menyusul Kinar menuju ruang ganti


Dimas sedang mengamati dirinya di cermin, seperti kata tante Anne, tubuhnya hanya dalam beberapa hari sudah terlihat agak kurus dengan garis hitam di bawah matanya tanda ia kurang istirahat


Tante Anne menuntun seorang wanita yang terlihat sangat Anggun walau tanpa make up


"Ya Allah mantu mama cantik banget"ucap Mariska senang, ia menghampiri Kinar dan memeluknya, sementara Dimas Acuh tak acuh, ia melirik sekilas lewat cermin di depannya, namun pandangannya terpaku


Kinar sangat berbeda mengenakan pakaian itu, gaun malam yang sangat indah, berwarna sky blue soft dengan taburan permata


Mariska memang sengaja memesan jauh-jauh hari pakaian pengantin untuk calon mantunya, namun karena Dimas menikah dengan wanita yang kurang ia suka, gaun ini ia tak berikan pada Bella, ia memilih menyimpannya untu Istri damar nanti. Namun kini berbeda, ia sangat menyukai Kinar , tentu saja ia sangat bersemangat memberikan gaun pengantin ini pada Kinar.


Sementara sahabatnya Anne juga mempersiapkan hadiah untuk sahabatnya itu berupa gaun pengantin mewah berwana soft peach



pakaian sederhana sesuai karakter Kinar,namun tak menutupi kecantikannya.

__ADS_1


Dimas tak bisa memungkiri jika Kinar memang cantik memakai gaun itu.


Mariska tersenyum jail melihat anaknya Yaang terpesona pada Kinar, ia sangat berharap Dimas bisa melupakan wanita itu.


Tante Anne membawa Kinar masuk kembali, dan tak lama kemudian Tante Anne sudah keluar dengan Kinar yang memakai gaun berwarna peach soft, warna kesukaan Mariska ,wajah Kinar terlihat cantik dan eksotik dengan gaun tersebut. Manis dan tidak membosankan di pandang.



Mariska membawa ponselnya dan mengabadikan momen fitting baju tersebut.


Dimas yang pura-pura sibuk dengan ponselnya di buat terpesona melihat wanita yang ia benci itu sangat manis dan menggemaskan.


”Sial, kenapa jadi gue deg-deg an gini ya, ah kuat Dimas, kiat. wanita itu bukan wanita sempurna seperti Bella dan ia sudah menjual dirinya hanya demi uang" bisik hati Dimas


"Dimas sayang, bagaimana calon istrimu?" goda Mariska dan Anne.


Dimas langsung memasang wajah cuek, ia berdehem


"Lumayan” ucap Dimas cuek


Mariska dan Anne saling melempar pandang penuh arti.


Setelah selesai fitting, Mariska membawa keduanya ke sebuah mall, ia akan sekalian membeli cincin kawin untuk putranya dan Kinar, ia sendiri yang akan mengawal mereka memilih, karena jika membiarkan hanya Kinar, Mariska yakin Dimas akan mengelak dengan seribu satu alasan, mumpung Dimas keluar kantor, jadi Mariska memanfaatkan waktu sebaik mungkin


”Ma, aku ada meeting di kantor"protes Dimas


Bukan tidak tahu maksud mamanya, ia juga tak mau asisten pribadi yang di rekomendasikan mamanya, bisa-bisa setiap ap yang dilakukannya akan sampai. ketelinga mamanya, Dimas tidak mau itu terjadi.


Dengan malas Dimas mengikuti kedua wanita di depannya memasuki mall tersebut hingga sampai di sebuah toko perhiasan.


Dimas hanya bisa memperhatikan mamanya yang terlihat bahagia dan bersemangat memilihkan cincin untuk mereka, berbanding terbalik saat ia dan Bella dulu akan menikah.


Mariska cuek dan terkesan tak perduli , walau sudah merestui pernikahannya dengan Bella, ia yakin juh di lubuk hati mamanya masih belum bisa menerima Bella, dan kini justru Bella membuatnya sangat kecewa dan kehilangan muka, membuatnya harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Kinar, wanita yang menjual dirinya demi uang.


Dimas tak pernah tahu alsan Kinar menerima usulan mamanya menikah dengan dirinya, yang ia tahu hanya Kinar menerima sejumlah uang yang nilainya fantastik demi menikah dengannya.


"Dimas, sini, lihat cincin ini cantik ya?” ucap Dimas yang hanya duduk


”Terserah mama pilihkan saja, mama kalau mau sekalian beli apa yang mama mau”


"Eh nih anak, yang mau nikah kan kamu, cepet sini" ucap Mariska tak senang.


Dengan enggan Dimas menghampiri mamanya, Mariska menunjuk sebuah cincin berlian pilihannya


”bagaimana? bagus kan??” tanya Mariska meminta pendapat putranya, Dimas mengangguk.


Mariska lansgung meminta karyawan toko perhiasan untuk mengambilkannya, kemudian ia menyematkan di jati manis Kinar


__ADS_1


"Gimana sayang? apa kamu suka pilihan mama?” tanya Mariska pada Kinar


Kinar melotot melihat harga yang tertera di cincin tersebut, ia menggeleng lemah, i merasa tak pantas menerimanya walau ia suka dengan model cincin tersebut


”Kita pilih yang lain saja ma, itu terlalu mencolok” ucap Kinar beralasan.


Kinar memilih cincin Yaang hanya berisikan satu berlian kecil, ia tak mau dibilang matre oleh Dimas


Namun Mariska tidak setuju dengan pilihan Kinar hingga akhirnya ia memilih cincin yang menjadi pilihannya.


"Lihat sayang, coba ini juga.


Ini kado dari mama untuk pernikahanmu” ucap Mariska menunjukkan satu seat perhiasan Berlian



”Ma, Kinar cuma mau restu dan doa mama, itu kado terindah yang Kinar mau” ucap Kinar menolak


"Mama pasti mendoakan kamu sayang, tapi ini simbol kasih sayang mama untuk kamu, kalau gak terima berati kamu ga sayang mama” ucap Mariska sedih


Dengan terpaksa Kinar menerimanya.


Hanya sepasang cincin saja sudah menghabiskan uang banyak, kini di tambah satu seat perhiasan. Kinar merasa sangat tertekan, ia memiliki hutang yang Taka akan pernah lunas walau seumur hidupnya.


Ditambah tatapan tajam penuh kebencian Dimas membuat Kinar serba salah.


Setelah keluar dari toko perhiasan, Mariska sudah di jemput Jojo, asisten pribadinya. Sedang Dimas diminta oleh Mariska untuk mengantar Kinar hingga kerumahnya.


Setelah Mariska pergi, Dimas menatap Kianr dengan penuh kebencian, Ia bertepuk tangan dengan senyum mengejek


"Hebat, hebat, belum jadi mantu sudah bisa membuat mama sangat perhatian padamu hingga memghambur-hamburkan uang untuk wanita sepertimu, sepertinya kamu sangat pandai mencari muka dengan mamaku" sinis Dimas


”Apa maksudmu mas????”


"Pikir saja sendiri” ucap Dimas berjalaneningglkan Kianr, kemudian baru beberapa langkah ia berhenti.


Dimas membuka dompetnya dan melemparkan uang dua lembar seratus ribu ke arah Kinar


”Pulanglah naik taxi, aku mau ke salon mobil, mobilku kotor karena di duduki wanita kotor sepertimu” ucapnya pelan namun menusuk


Kinar berusaha kuat tak menangis, ia mengambil uang yang di lempar Dimas, meremasnya hingga jari kukunya menusuk di telapak tangannya


Begitu hina dan rendah dirinya di mata Dimas, ia bahkan sampai mencuci mobilnya demi mencuci jejak dirinya dalam mobil tersebut.


Air mata yang Kinar tahan , merembes keluar, ia menghapus air matanya lalu berjalan ke arah pengemis yang sedang mengais makanan dari tempat sampah, memberikan uang yang di lempar Dimas pada pengemis itu, kemudian ia mencegat angkot dan pulang.


Ingin Kinar berteriak memprotes ucapan Dimas, namun apa yang bisa ia perbuat??? tak ada, menjelaskan pun tak akan percaya, percuma.


Ia hanya harus membulatkan tekad dan menguatkan hatinya

__ADS_1


__ADS_2