
Satria menepuk pipi Widya, ia kawatir Widya akan sakit karena telat makan dan semua itu penyebabnya adalah dirinya
"Sayang, bangun.
Makan dulu yuk, ini sudah sore, kasian si kecil pasti kelaperan"
Widya hanya membuka matanya sebentar lalu menutup kembali, ia terlalu lelah untuk melakukan apapun, sekedar bangun duduk pun ia tak sanggup, rasanya seluruh persendian tubuhnya copot.
Melayani Satria hingga berjam-jam dengan kondisi hamil memang menguras tenaganya
"Sayang, bangun sebentar, mas yang suapin" ucap Satria lembut sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Widya
"Mass, aku lelah sangat, rasanya tubuhku tak bertenaga dan tulang-tulangku rontok" ucap Widya lirih masih memejamkan matanya
"Mas Suapin nanti habis makan mas pijit"
"Ah aku gak mau mas pijit, nanti ujungujung nya malah melakukan yang lain" gerutu Widya yang di balas tawa Satria
"Habis kamu sexy banget sayang, mas jadi mau makan kamu terus"
"Iya tapi aku jadi kaya gini, ini semua ulah mas" ucap Widya kini membuka mata
__ADS_1
nya
"Iya, iya mas salah, sekarang makan dulu yuk, mas juga laper"
"Kenapa mas gak makan duluan aja? "
"Enggak dong, harus bareng istriku tercinta"
"Huh gombal" ucap Widya mencibir lalu dibantu Satria ia duduk bersandar pada tepi tempat tidur
Mereka menikmati makan siang yang terlewat dan setelah iti Widya kembali merebahkan tubuhnya yang lelah
Widya memandang punggu Satria yang hilang di balik pintu, Satria berjalan menuju dapur
Widya sedikit lega karena nantinya Satria bersama wanita baik seperti Anggi sehingga walau Widya meninggalkannya ia merasa tak kawatir, namun ia masih mengkawatirkan masa depan anak dalam kandungannya.
Anggi memang sudah menjanjikan Widya sejumlah uang untuk menjadikan dirinya istri kedua Satria, namun tentang rencana Widya akan pergi, Anggi tidak tahu menahu
"Ah aku harus secepatnya meyakinkan mas Satria, waktuku tak banyak lagi" gumam Widya membulatkan tekadnya
terdengar derap kaki, Dan tak lama Satria masuk kedalam kamar dengan membawa segelas juice.
__ADS_1
"Mas, duduklah di sampingku, ada yang ingin aku bicarakan" ucap widya menepuk kasur di sebelahnya
setelah Satria duduk, Widya menarik nafas untuk menguatkan hatinya
"Mas, kejadian hari ini pasti membuka mata mas juga. Aku dengar mas sudab mengakui jika ms calon suami Anggi"
Satria terkejut, ia menjadi salah tingkah, Satria berfikir Widya tidak akan mendengar itu, namun nyatanya Widya mendengar semuanya karena Widya sengaja menguping pembicaraan Diluar kamar Anggi.
" Sayang aku berbicara itu hanya semata-mata agar baj*ngan itu menjauh dari Anggi, aku gak punya maksud apapun"
"Apa kamu pikir Andi akan percaya? sayang kita sama-sama tahu manusia macam apa mantan suami Anggi itu, dia binatang yang berwujud manusia, apa kamu pikir cuma mengatakan kamu adalah calon suaminya Anggi, ia akan percaya? imposimble sayang"
"Setidaknya ia akan berfikir dua kali untuk mendekati Anggi"
"Sayang kamu gak mengerti juga apa yang aku katakan. kita akan membuktikannya, kita gak usah pindah dulu selama seminggu dan jika selama seminggu mantan suami Anggintidak datang, maka aku tidak akan memaksa kamu menikahi Anggi, tapi jika dia datang kembali kita harus menolong Anggi dan kamu adalah orang yang tepat. Bagaimana? deal? "
"Apa-apaan sih kamu? aku gak mau membagi hatiku dengan wanita lain, bagiku hanya kamu istriku"
"Sayang aku gak meminta kamu membagi hatimu, aku hanya memintamu menikahi Anggi dan melindunginya, tidak lebih dari itu."
"Tapi aku takut lebih dari itu, perasaanku tak menentu jika dekat Anggi, terutama saat melihatnya menangis. hatiku luluh. entah rasa simpati atau cinta lama yang meluap" gumam Satria dalam hati
__ADS_1
Satria hanya diam, karena percuma jika saat ini ia membantah omongan Widya.