
Sepeninggalan Anggi, Satria lalu bangkit dan berjalan keluar menuju kamar tamu yang berada di bagian kiri rumah, letaknya masih di lantai satu berhadapan dengan kamar Anggi, di sanalah Putu meminta Satria tinggal. Sementara putu dan kedua anaknya berada di lantai dua rumah itu, di sana terdapat tiga kamar yang untuk di tempati mereka masing- masing
Satria langsung menuju kamar mandi, membersihkan dirinya, ia juga tak lupa merapihkan kumis serta bulu halus yang tumbuh di wajahnya, kini Satria bisa melihat wajahnya terlihat lebih fresh dan rapih.
Satria tak mau membuat Kinar dan Aisya takut karena penampilannya.
Setelah berpakaian Satria berjalan menuju meja makan, masih nampak sepi, hanya ada Anggi dan kedua gadis kecilnya yang sedang asik menikmati sarapan pagi mereka.
Kinar duduk manis, terlihat sekali ia sangat menyukai omellete nya, sedang Aisya duduk di bangku makannya sedang di suapi Anggi dengan menu yang sama
”Pagi” ucap Satria canggung, ia tak tahu harus menyapa dengan kata-kata apa
”Pagi mas, itu sarapan mu sudah aku siapkan” ucap Anggi menengok sekilas sambil pandangan matanya terarah pada piring di meja makan, lalu ia kembali fokus menyuapi Aisya yang sudah tak sabaran meraih sendok di tangan Anggi, sungguh balita yang sangat menggemaskan
”Mama...." ucap Kinar menatap Satria yang berjalan mendekat, ia berusaha bangun dari kursi makannya
”Gak apa-apa sayang, itu papa, habiskan sarapan mu, nanti mama ajak ke taman kalau Kinar jadi anak baik” ucap Anggi berusaha menenangkan Kinar
”Mau..”ucapnya pelan.
Anggi sangat bersyukur Kinar kini bisa mengucapkan beberapa kata, walau hanya singkat, namun gadis kecil ini mengerti apa yang Anggi katakan, hanya saja ia sulit mengucapkannya
Kinar kembali tenang duduk di bangku kecilnya, sesekali ia melirik pada Satria yang berada tepat di depan nya berhadapan.
”Makan makananmu sayang, papa tidak akan mengganggumu”ucap Satria lembut, ia kemudian berdiri, meletakkan sosis goreng di piring kecil Kinar.
Kinar menatap takut pada Satria, setelah Satria kembali duduk di bangkunya ia diam-diam melirik kearah Satria
”Makan, sosis nya. Yummy” ucap Satria yang entah dapat kalimat konyol dari mana, namun terlihat Kinar tersenyum samar dan memakan sosis tersebut, memandangi Satria yang juga sedang makan sambil mengangguk, seperti anak kecil saja, sungguh tingkah Satria konyol.
__ADS_1
Baru kali ini ia melihat sisi lain dari Satria dan apa yang di lakukan ya membuat Kinar tertawa kecil sambil mengikuti tingkahnya
”Mas, kamu mengajari Kinar cara makan yang salah” ucap Anggi karena khawatir Kinar tersedak makanan nya sendiri
"Aku hanya berusaha membuatnya tak takut lagi padaku, aku ingin ia nyaman melihat ku yang baginya adalah orang asing yang baru ia temui.
Aku ingin dekat dan mengambil hati mereka pelan-pelan. Aku hanya ingin jadi ayah sekaligus sahabat mereka”ucap Satria lirih menatap bergantian putri-putri kecilnya
"maafkan aku mas, aku mengerti. Aku akan memberikan waktu untuk mu mengenal Kinar dan Aisya,
Anak-anak kita” ucap Anggi tersenyum, senyum yang membuat hati siapapun akan luluh melihatnya
Setelah selesai makan, Satria mendekati Kania
"mau main di taman dengan papa?” tanya Satria lembut mengulurkan tangannya
Kinar menatap Anggi seolah meminta persetujuan, setelah Anggi mengangguk, ia dengan sedikit ragu menggapai tangan Satria
”Dimana tamannya? ayo kita kesana” ucap Satria yang di balas anggukan kecil Kinar
Anggi tersenyum bahagia melihat kedekatan Kinar dan Satria, namun tak urung juga ia merasa bersalah pada waktu yang sama karena menyembunyikan fakta bahwa Kinar bukan anak kandung Satria
"Aku harus kuat dengan keputusanku. Ini semua demi masa depan Kinar, maafkan aku mas. Aku hanya ingin melindungi dan membesarkannya dalam keluarga penuh kasih sayang, walau ku sadar itu berat”ucap Anggi bergumam pelan
”Jika kamu tak kuat berbohong, lebih baik katakan yang sebenarnya”ucap Ayu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya
”Ya Allah nenek, bikin kaget aja” ucap Anggi mengelus dadanya karena terkejut
”kamu saja yang terlalu fokus menatap pria menyebalkan itu, sampai nenekmu sendiri di sampingku sejak tadi, tak kau lihat”ucap Ayu santai lalu langsung mendekati Aisya yang berceloteh riang melihat kedatangan Oma nya
__ADS_1
”Pria itu cucu nenek sendiri kan”ucap Anggi tersenyum tipis, ia hanya bisa menggeleng lemah karena tahu jika Ayu masih belum memaafkan Satria sepenuhnya karena perbuatan Satria padanya
”Aduh duh cicit Oma, sudah makannya? pintarnya cicit ku satu ini” ucap Ayu mengangkat Aisya dari kursi makannya.
Ayu sengaja mengalihkan pembicaraan jika sudah menyangkut Satria
”Ayo kita ke taman sayang, kita lihat papamu yang tak berguna itu sedang main dengan kakakmu”ucap Ayu menggendong Aisya menuju taman rumah belakang mereka
”Nek, tolong jangan berkata begitu, bagaimanapun mas Satria papanya Aisya"protes Anggi sambil memanyunkan mulutnya
”kamu selalu saja membelanya, walau ia sudah menyakitimu sedalam itu, nenek salut yang satu punya hati seluas samudra yang satunya lagi punya otak sekepalan tangan saja” gerutu Ayu
”Neeek....” protes Anggi
”Iya, iya nenek tahu. Nenek salut pada bocah itu, ilmu apa yang dia amalkan hingga kamu masih saja mencintainya walau dia memperlakukanmu buruk” ucap Ayu masih mengomel
”Itu hanya karena aku terlalu bodoh nek"ucap Anggi masih membela Satria
”Nak, apa kamu masih mencintai Satria? jawab jujur”ucap Ayu yang kini sudah duduk di bangku santai menatap lurus pada Satria dan Kinar Yang terlihat bahagia sedang bermain perosotan
Anggi hanya diam, ia bingung harus menjawab apa. Jika ditanya cinta, ia akan berkata jujur jika ia masih sangat mencintai Satria, namun kepahitan rumah tangganya di masa lalu, membuatnya harus meredam perasaannya sedalam mungkin.
Anggi tak mau berharap lebih, rumah tangganya akan kembali , yang terpenting baginya adalah membesarkan Aisya dan Kinar, dengan atau tanpa status pernikahan dengan Satria
”Hufh, tanpa kamu bicara, diam mu menjawabnya nak. Nenek menyayangimu melebihi cucu nenek sendiri. Nenek hanya ingin kamu bahagia, jika kamu ragu maka berikan hatimu waktu untuk percaya lagi, berikan waktu untuk hatimu sembuh dari lukanya dan setelah kamu yakin jalan mana yang akan kamu ambil, maka tetapkan hatimu, tutup rapat masa lalu mu dan melangkahkan kedepan, jangan pernah menengok kembali kebelakang”ucap Ayu pelana namun sangat mengena di hati Anggi
”Besok kami akan kembali ke Bali, sudah terlalu lama kami pergi, kalian hiduplah yang rukun dan selesaikan masalah kalian dari hati ke hati.
Empat bulan lagi pernikahan Ridwan, kami perlu mempersiapkan semuanya, ditambah lagi Bagus sudah menetapkan hatinya ingin melamar seseorang dan nenek mau bertanya pendapatmu”
__ADS_1
”Alhamdulillah akhirnya kak Bagus, dengan siapa nek?”tanya Anggi antusias