Suami Sewaan

Suami Sewaan
Kehidupan masa lalu Widya


__ADS_3

"Selamat jalan mas, aku mencintaimu" ucap Widya dalam hati sambil melambai kan tangan mengantar kepergian Anggi dan Satria.


Widya langsung kembali ke kamar, ia menangis. ini adalah waktu perpisahan bagi nya dan dalam beberapa hari akan menjadi awal baru hidupnya tanpa Satria.


Widya merapihkan beberapa pakaian bayi yang sudah di persiapkan oleh Satria, semua pakaian itu Satria yang memilihnya.


Ia berjalan kesudut ruangan di mana terdapat box tidur bayi , pandangan mata Widya berkaca-kaca membayangkan putrinya yang tertidur disana.


Widya mengemas pakaian calon anak nya dalam travel bag, ia ingin mempersiapkan semua nya sebelum ia pergi.


Widya merebahkan tubuhnya, ia menciumi bantal bekas suami nya tidur semalam, memeluk nya erat , merasakan aroma tubuh Satria yang menempel disana hingga ia menangis sesegukan


"Apakah aku kuat jauh dari mu mas? sekarang saja aku lemah jauh darimu."


Widya membenamkan wajahnya di bantal guling itu hingga hingga ia tertidur.


Sampai malam hari Widya belum juga keluat dari kamar nya, Prapti yang kwatit memberanikan diri mengetuk pintu kamar Widya.


Tak Ada jawaban membuat Prapti makin kwatir.


Prapti berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Widya, ia ragu antara masuk atau tidak


"Aduh bu Widya kenapa ya di panggil-panggil Prapti gak ada suara? apa Prapti masuk aja ya? Tapi takut gak sopan, tapi Prapti kwatir soalnya kan bu Widya di titipkan Prapti" ucapnya cemas meremas pakaiannya sambil mondar-mandir


Setelah meneguhkan hatinya, Prapti mengetuk pintu lagi namun tak terdengar jawaban, lalu ia memberanikan diri masuk ke dalam kamar Widya.


Suasana di dalam kamar gelap gulita, Praptie nyalahkan lampu kamar


Nampak Widya tertidur sangat pulas dengan memeluk bantal


Prapti mendeketi Widya dan membangunkannya, pasalnya sudah hampir jam sembilan malam Widya tidak keluar kamar sejak Anggi dan Satria berangkat Honeymoon sore tadi.


"Bu, Bu Widya bangun sudah malam" Panggil Prapti


Perlahan Widya bergerak dan membuka mata nya


"Oh Prapti, jam berapa ini? " tanya Widya mengucek mata nya


"Sudah Jam sembilan lewat bu"


"Sudah malam"


"Iya bu, ibu mau makan sekarang? biar Prapti hangatkan lagi lauk nya"


"Iya trima kasih, saya mau mandi dulu"

__ADS_1


Prapti meninggalkan kamar Widya lalu menuju dapur. Ia meminta bi Ijah memanaskan makanan yang sudah mereka masak, sementara Prapti membut juice kesukaan Widya.


Tak lama kemudian Widya keluar dari kamarnya dan langsung duduk di meja makan


"Bu ini juice nya"


"Makasih mba" ucap Widya langsung menyeruput juice mangga kesukaannya.


Bi Ijah mulai menyajikan makanan di meja


"Bu Widya apa ibu sakit? " tanya bi Ijah tiba-tiba


"Gak bi, hanya kehamilanku yang makin membesar membuat ku sangat mudah kelelahan" ucap Widya berdalih


"Apa ibu mau saya pijit-pijit untuk meredakan badan ibu yang pegal?"


"Apa bisa bi?"


"Bisa bu, bibi punya anak yang lagi hamil juga, kalau orang hamil apa lagi sudah besar harus sering di refelksi kaki nya asal jangan bagian perutnya bahaya"


"Baik bi, asal gak merepotkan bibi saja"


"Tidak, tidak kerjaan bibi sudah selesai kok"


"Oh iya? saya baru tahu"


"Hanya sedikit bisa saja bu, ibu selesaikan makan nya, setengah jam lagi bibi urut, biar makanan turun dulu"


"Baik bi, makasih, Widya makan dulu ya" ucap Widya langsung melahap makanan di depannya.


Setengah jam kemudian bi Ijah mulai mengurut kaki Widya yang mulai membengkak dan punggung nya.


Ia merasakan relax karena bi Ijah ternyata memang jago mengurut.


Bi ijah juga bercerita tentang kehidupannya dan keluarga nya.


Widya baru tahu jika bi Ijah hanya tinggal berdua dengan anaknnya yang sedang hamil, sementara suami anaknya tersebut kabur dengan wanita lain.


Widya merasa bersimpati dengan bi Ijah yang sangat tabah menjalani semua. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena ia merupakan istri yang sangat amat buruk bagi Satria.


"Bi, jadi anak bibi tinggal sama siapa kalau bibi di sinindan hanya pekan aja bibi pulang? "


"Ya sendirian lah bu, wong kami hanya berdua aja"


"Kan bibi bilang kalau dia sedang hamil besar, apa bibi gak takut jika... "

__ADS_1


"Ya mau bagaimana lagi, sudah resiko.


paling nanti bibi izin kalau dia sudah dekat mau persalinan"


"Kalau bibi dan anak bibi tinggal disini mau? " tanya Widya tiba-tiba


"Ya mau saja bu, tapi saya takut bu Anggi tidak setuju"


"Eh maaf bu"


"Tidak apa-apa bi, memang rumah ini punya Anggi. Tapi saya punya solusi lain.


bibi akan pulang tiap hari saja, dan Widya punya rumah yang gak di tempati, bibi bebas tinggal disana"


"Tapi bu? "


"sudah bibi gak usab sungkan. ya walau rumahnya gak begitu besat, tapi cukup buat bibi dan anak bibi berteduh"


"Bu Widya makasih banyak"


"Sama-sama bi. Bibi mengingatkan saya pada almarhum mama saya.


Beliau adalah single parent juga hanya bedanya papa pergi dengan sekertarisnya dan meninggalkan mama yang kala itu sedang mengandung besar.


Mama hanya berdua dengan pembantu hingga akhirnya mama meninggal dunia dan Widya di asuh mbok maryam yang sudab seperti orangtua bagi Widya"


"Semoga mamanya ibu ditempatkan di surga nya Allah SWT. "


"Amin bi. makasih"


"Sebelah sini apa sering keram? "


"iya bi, Widya sering susah jalan, sakit"


"kalau orang hamil memang kakinya perlu sering di refleksi biar urat-uratnya tidak tegang" ucap bi Ijah mulai mengurut semua tangan, punggung dan kaki Widya. Tak terasa ia pun tertidur.


Bi Ijah tidak tega membangunkan. ia hanya menutupi tubuh Widya dengan selimut tebal.


"Sebenarnya bibi tahu kalau kamu punya masalah besar, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu. Kamu gadis yang kuat hanya saja salah jalan, Semoga apa yang menimpamu bisa kamu jadikan pelajaran dan bertaubat karena nya" ucap bi Ijah menatap kasian pada Widya


Bi ijah pernah satu kali saat bi Ijah pulang dari pasar, ia memergoki Widya yang bertemu dengan seorang pria di luaran sana. Ia juga melihat Widya yang meronta dan dengan wajah benci menatap pria tersebut.


Bi Ijah yang sudah memakan asam garam kehidupan mengerti akan kondisi Widya, ditambah beberapa kali ia mendengar percakapan Widya dengan pria itu. Bi Ijah sadar jika wanita itu sudah salah jalan awalnya dan kini ia bertaubat. namun si lelaki terus mengejar dan mengancam nya untuk sebuah alasan yang Widya tak bisa sangkal.


"Semoga Allah menuntunmu Ndok, tebus dosamu selagi kau bisa" ucap bi Ijah mematikan sakelar lampu lalu menutup pintu kamar Widya, ia berjalan menuju kamar nya yang terletak di belakang rumah utama.

__ADS_1


__ADS_2