Suami Sewaan

Suami Sewaan
Aku lelah II


__ADS_3

Anggi sudah terbangun, ia meminta Prapti melarang Satria masuk, ia tak ingin melihat Satria.


Kali ini luka yang di torehkan oleh Satria teramat dalam dan sakit, sulit untuk di maafkan


Anggi melamun memandang taman dari balkon kamarnya yang terletak di lantai dua.


Sudah beberapa kali ia mendengar Satria berteriak-teriak dari balik pintu kamarnya, meminta maaf, namun Anggi tidak mau mendengar, ia terlalu sakit untuk berjumpa dengan suami sirih nya itu


"Nak, kamu jangan kawatir ya, masih ada mama yang akan menyayangi kamu, masih ada mama yang akan menjaga dan melindungimu


Mama tidak akan mengizinkan siapapun menyakiti kamu, tak terkecuali papa mu itu.


Kita bisa hidup berdua, mama janji kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang walau tidak ada papamu" ucap Anggi mengelus perutnya yang masih rata, tak terasa ia menangis terisak, perih rasa hatinya mengingat perkataan Satria


"Mas, selama ini aku sudah bersabar denganmu, memaafkanmu saat kamu buat salah, namun kali ini aku sulit untuk melupakan rasa sakit ini.


Kamu tidak pernah menghargaiku, tidak pernah percaya kesetiaanku, jadi untuk apa aku tetap disisimu? Aku lelah jika terus begini, aku lelah mas" Anggi makin sesegukan, ia meringkuk di sudut balkon, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis , Anggi menangis tanpa suara


Pintu kamar Anggi terbuka, Ayu terperanjat tak bisa menemukan cucu kesayangannya di tempat tidur ataupun di kamar mandi, ia langsung menggigil membayangkan sesuatu yang buruk terjadi.


Ayu langsung jatuh terduduk sambil menangis, ia takut melihat ke luar kamar dab mendapati cucunya melakukan sesuatu yang nekad.


Putu yang mencari keberadaan Ayu, segera menyusul ke kamar Anggi, dan betapa terkejutnya ia mendapati istrinya menangis histeris


"Sayang? mengapa kamu menangis? dimana Anggi? apa yang terjadi katakan? " ucap Putu yang tak sengaja membentak istrinya karena panik, membuat tangis Ayu makin kencang


Putu membopong tubuh lemah Ayu, menidurkannya di tempat tidur Anggi


"Sayang, kamu tenang ya, maaf aku gak sengaja membentakmu, biar aku cari Anggi, kamu diam disini" ucap Putu yang di balas anggukan lemah Ayu


Dengan hati tak karuan Putu berjalan membuka balkom kamar Anggi, ia tak melihat sesuatu yang aneh, ia berbalik badan dan betapa terkejutnya ja melihat tubuh Anggi meringkuk di balik dinding balkon kamarnya dalam keadaan tam sadarkan diri

__ADS_1


"Anggi, sayang, bangun nak" Putu menepuk pelan pipi cucunya, namun Anggi tetap terdiam, ia membopong tubuh Anggi ke dalam kamar


"Anggiiiii, kakek, bagaimana cucu kita? apa dia..... " Ayu tak meneruskan ucapanya, ia menyentuh pipi Anggi yang pucat


"Dia hanya pingsan, jaga dia sebentar, kakek mau panggil Ridwan" ucap putu bergegas keluar sambil berteriak memanggil Ridwan


Tak lama Putu kembali dengan Ridwan,


Tanpa berkata apapun Ridwan langsung memeriksa Anggu, wajahnya di penuhi kecemasan yang teramat


Setelah beberapa menit kemudian, nampak Ridwan menghela nafas berat, keningnya berkerut seperti sedang berfikir keras


"Bagaimana Anggi? cepat katakan!!!" Putu tak sabar menunggu Ridwan berkata, ia melijat ekspresi Ridwan yang muram


"Nak cepat katakan pada kami, bagaimana kondisi cucu dan cicit kami? " Ayu menyentuh tangan Ridwan yang terlihat bimbang


"Sepertinya kita harus segera membawa Anggi pergi" ucap Ridwan tiba-tiba membuat Putu dan Ayu yang terkejut saling melempar pandang


"Ma, pa, kita tak punya waktu menjalankan rencana yang sudah kita sepakati sebelumnya, pasalnya saat ini Anggi sedang dititik dimana ia sangat depresi, itu sangat berbahaya bagi dirinya serta janin dalam kandungannya, Ridwan belum tahu pasti bagaimana kondisi janin Anggi, namun jika keadaannya kita biarkan terlalu lama dan Anggi selalu tertekan, bisa menyebabkan keguguran" ucap Ridwan lirih di akhir kalimatnya


Ayu terkejut, menutup mulutnya sendiri dan memandang suaminya meminta keputusan,kemudian Ayu berjalan mendekati Anggi dan membelai rambutnya dengan rasa iba


"Mama mau kamu lakukan yang terbaik, terlepas papamu tak setuju nantinya, mama akan mendukungmu nak" ucap Ayu tiba-tiba menatap tajam Putu


"Ridwan berencana membawa Anggi ke bungalow milik kita yabg terletak di luar kota, dan nanti Ridwan akan minta Marcella untuk memeriksa kondisi Anggi" Ridwab terlihat ragu-ragu mengutarakan maksudnya


"Mama setuju, lebih baik kita jauhkan Anggi dari cucu durhaka itu, mama tidak mau cucu dan cicit mama terluka lagi karena ulahnya, mama tak percaya dengan dia"


Baru kali ini Ayu terlihat tegas, ia memutuskan semuanya tanpa bertanya pada suaminya, rasa kecewa yang teramat dalam membuatnya harus bertindak tegas


"Tap sayang, bagaimana dengan Satria? Dia cucu kita satu-satunya" Putu terlihat bimbang

__ADS_1


"Jika kau masih mengganggapku istrimu, maka anggap ini permintaanku padamu, selama ini aku tak pernah meminta apapun padamu, aku akan membawa Anggi keluar dari rumah ini.


Tapi jika kau berat pada cucumu, maka tinggallah disini, aku tak akan menyalahkanmu, tapi kamu tidak bisa merubah keputusanku atau menghalangi kami keluar dari rumah ini.


Aku ingin melihat cicitku bertumbuh dan lahir" Suara Ayu bergetar namun adanketegasan dan keyakinan disana, Putu tak bisa melakukan apapun untuk merubah tekat Ayu


"Bagaimana caranya kamu membawa Anggi keluar? " tanya Putu penasaran dengan rencana anak angkatnya tersebut


"Papa dan mama sebaiknya kembali ke Bali terlebih dahulu, dan Anggi biar aku yang mengurusnya, kalian bisa menjenguknya setelah semua terkendali, biarkan Satria merenungi kesalahannya.


"Baik papa setuju, besok kita kembali ke Bali" ucap putu langsung


"Mengapa besok? terlalu mendadak" protes Ayu pada suaminya


"Setiap waktu sangat berharga bagi kesembuhan Anggi, apa kamu mau menunghu lagi? " ucap Putu balik bertanya pada istrinya


"Ah tidak, besok kita kembali, biarkan Bagus menjaga anak durhaka itu" ucap Ayu cuek


"Nek.. dia cucu kita !!" protes Putu


"Tapi aku terlalu kecewa padanya, jadi jangan pinta aku berbaik-baik padanya saat ini" Ayu langsung berjalan meninggalkan suaminya yang terdiam


"Kau atur semuanya, papa percaya padamu, tetap hubungi papa tentang perkembangan Anggi" setelah itu Putu keluar dari kamar Anggi, menyusul istrinya yang sudah lebih dulu keluar kamar Anggi.


Ridwan mendekati Anggi yang sudah siuman, ia lalu menyodorkan segelas air pada Anggi


"Makasih" ucap Anggi parau


"Anggi, boleh mas bicara sesuatu, jika kamu tak berkenan, kamu bisa menolaknya.


Tapi mas mohon kamu pikirkan baik-baik perkataan mas ini lalu kamu putuskan masak-masak sebelum kamu memutuskan" ucap Ridwan hati-hati yang di balas anggukan lemah Anggi

__ADS_1


__ADS_2