
Selama tiga hari Satria membantu Anggi merawat si kecil Aisya yang demam dan rewel, mereka kompak bergiliran menjaganya, hingga kini demam Aisya sudah turun dan ia sudah ceria lagi.
Sementara sejak pembicaraan tempo hari dengan Putu, kakeknya, Satria sudah meminta asistennya mencarikan tempat tinggal yang letaknya tak jauh dari kediaman Anggi, karena rumah Anggi di pemukiman elite maka pilihan hanya ada apartemen yang dekat dengan kediaman Anggi, hanya memakan waktu sepuluh sampai lima belas menit dari rumah Anggi.
Satria juga sudah meminta Asistennya memberikan beberapa perabotan dan segala sesuatu yang ia perlukan selama di apartemen , termasuk kebutuhan pokok ala anak kost.
Sayang, besok aku akan pindah ke apartemen, tapi aku janji jika aku sempat setiap pagi dan selesai pulang kantor aku akan mampir kesini"ucap Satria saat ia sengaja pulang kantor di jam makan siang, hanya untuk membicarakan hal itu.
”Apa tidak bisa nanti saja mas, aku...” Anggi menggigit bibir bawahnya, ia tak punya alasan lagi untuk menahan Satria tinggal bersamanya lebih lama lagi.
”Apa kamu sudah berubah pikiran dan ingin menjadi nyonya Satria secepatnya?" goda Satria, namun dalam lubuk hatinya itu adalah ungkapan keinginan Satria, karena sesungguhnya ia juga berat jauh dari Anggi dan anak-anaknya
Anggi tak membalas, ia hanya diam, menunduk, memainkan jari jemarinya seperti orang bingung
”Aku tak memaksa sayang, aku hanya bercanda” ucap Satria mencoba mencairkan suasana yang mulai canggung
”Uhm ,..” Anggi hanya menatap sekilas lalu kembali diam
"Percayalah, aku kan menunggumu , siap jasmani dan rohani, aku tak ingin memaksamu.”ucap Satria tersenyum
”Kenapa makan siang gak ngajak pulang sih”gerutu seseorang yang baru saja tiba
Anggi dan Satria yang sedang terlibat percakapan serius tidak menyadari sejak kapan Bagus sampai, keduanya mencolek ke arah Bagus
"Kompak bener , kaya siapa aja yang datang, nengok semua”ucap Bagus merajuk, ia langsung mengambil tempe goreng dan memakannya
”Kakak ngapain pulang? tumben banget pulang jam makan siang”tanya Anggi, sementara Satria lebih memilih fokus makan makanan di piringnya
”Memangnya kalian aja yang bisa lunch mesra, aku juga mau lunch sama bebeb ku”ucap Bagus mengedipkan sebelah matanya, membuat Anggi tertawa
”Aduuuuhhh” tiba-tiba Bagus berteriak kesakitan, rupanya cubitan kecil mendarat di pinggang Bagus.
Bagus mengelus-elus pinggangnya dan melihat Prapti mendelik marah
”Hahaha, sukuuuurr hajar sis”ucap Satria cekikikan
”Ayo ganggu orang lagi makan siang aja”ucap Prapti setelah pamit pada Anggi ia langsung meninggalkan Bagus
”Kejar noh bebeb nya kak, awas ilang, Pepet terus” ucap Satria senang
”Kamu ya, seneng banget liat Bagus tak berdaya” ucap Anggi menepuk tangan Satria
__ADS_1
”Aku tuh aneh, kak Bagus itu kan kaku dan jarang ngomong, sekarang jadi banyak omong sejak ia pacaran dengan Prapti” ucap Satria masih menyimpan senyum melihat Bagus yang menurut pada Prapti
”The power of women itu”ucap Anggi cekikikan
”Aku juga kan awalnya pendiem, dekat kamu jadi gak bisa diem” ucap Satria nyengir kuda
"Itu mah karena kamu kegatelan aja” ucap Anggi meninggalkan meja makan sambil menahan tawa
”Yang, wah aku gak gitu loh sayang, cuma dikitttt aja”ucap Satria menyusul Anggi
Anggi masuk ke dalam kamar karena mendengar suara Aisya menangis di kamar
”Anak cantik jangan nangis, cup cup cup, lihat kakak masih bobo” bujuk Anggi sambil mengangkat Aisya dari box nya
Rupanya ia bab dan merasa risih sehingga terbangun dan menangis, setelah bersih, Satria dan Anggi bermain dengan Aisya di ruang keluarga
Satu jam berlalu, Satria kembali ke kantor untuk bekerja Aisya dan Anggi mengantarkan Satria hingga pintu utama, hingga mobil Satria keluar dari pagar rumah Anggi.
Malam Harinya
Satria, Anggi, Prapti dan Bagus makan malam, setelah itu Satria mengajak Bagus membahas urusan bisnis di ruang kerja
Kening Bagus mengkerut menunggu penjelasan selanjutnya dari keponakannya itu
”Kakek meminta aku pindah" ucap Satria meminum kopi di depan mejanya
”Kenapa aku harus ikut pindah juga?" tanya Bagus bingung
”Kakek dan nenek sudah tidak ada disini,dan di kediaman ini tinggal dua wanita tanpa status alias single, kita bukan muhrimnya, karena itu demi nama baik dan menjaga hal-hal yang tak di inginkan kita pindah.aku sudah membeli dua apartemen di jalan P, kita pindah besok” ucap Satria sambil meneguk kopinya kembali
”Aku tak akan melakukan hal yang aneh”protes. Bagus
”Justru aku khawatir Padamu, iman mu mungkin besar tapi si amin g akan kuat” ucap Satria cengengesan
”keponakan kurang ajar”ucap Bagus berusaha menjual keponakannya itu, namun Satria keburu bangkit dan berlari keluar
”Satria tunggu,"ucap Bagus geram di permainkan keponakannya sendiri
”Kalau kakak gak mau aku adukan kakek dan nenek”teriak Satria
”Bocah apek” gerutu Bagus, sementara Satria tertawa mendengar om nya itu menggerutu memprotes
__ADS_1
**Buuuugghh
Praaaaaang**
Gelas di tangan Prapti jatuh, ia bertabrakan dengan Prapti, Tubuh Prapti yang mungil hampir terjelembab ke belakang, namun Bagus dengan sigap menariknya, hingga tubuh mereka jatuh menumpuk
”Nah kan apa aku bilang, ckckck udah ga kuat nih kak Bagus sama Prapti"goda Satria membuat Prapti dan Bagus langsung bangun dan membuang muka malu
”Itu mas bagus nabrak aku” ucap Prapti dengan wajah memerah dan langsung merapihkan gelas yang terjatuh
”Kamu ya, untung Prapti gak kenapa- napa”ucap Anggi menjewer kuping Satria
”Ampun sayang, aku gak salah"protes Satria mengikuti Anggi dengan kuping masih di jewer
”Hahahahhaa”Tawa Bagus pecah melihat Satria seperti anak kecil yang di marahi ibunya
"Kamu juga mas, gak tahu bahaya lari- lari, untung aku gak kenapa-napa, lagian gak malu apa udah pada tua main kejar-kejaran” omel Prapti masih merapihkan pecahan gelas yang tadi jatuh
”Iya, iya maaf"ucap Bagus
”Sisanya kamu bersihkan, aku mau tidur”ucao Prapti marah lalu meninggalkan calon tunangannya yang memasang wajah sedih, ia bergegas mengambil sapu, menyapu sisa serpihan gelas
Beberapa menit kemudian, Satria duduk sambil menonton televisi sendirian karena Anggi yang masih kesal karena ulahnya sudah masuk kamar setelah selesai menceramahi Satria
Bagus datang dan langsung merebut minuman di tangan Satria
Dengan wajah kuyu ia duduk di samping Satria, juga merebut cemilan di tangan Satria
"Aish, rese bener punya om ya” gerutu Satria tak senang karena diganggu oleh Bagus
”Gara-gara kamu kita kena omel”ucap Bagus lirih
"Lagian kakak duluan sih yang mulai” ucap Satria cuek
”Nasib kita, punya calon istri galak"ucap Satria menambahkan
”Owh jadi aku galak mas???" tanya Anggi yang awalnya ingin minta maaf malah mendengar perbincangan kedua laki-laki di ruang keluarga
”Bukan yank, bukan gitu"ucap Satria membela diri, ia mengejar Anggi yang kembali ke kamarnya
”Mampus ahahahhaha” ucap Bagus puas melihat Satria kena batunya
__ADS_1