
Brams yang mendengar teriakan Anggi secepat kilat menyusul Anggi masuk ke dalam rumah, Brams melihat Anggi yang menangis dan memeluk suami nya, ia memeriksa kondisi Satria, lalu mengangkat Tubuh Satria di bantu oleh Anggi
Brams langsung memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat, sementara dari balik spion mobil, ia melihat Anggi yang menangis meratapi suaminya, Wanita itu sangat ketakutan melihat kondisi Satria, ia terus saya membelai wajah suaminya dengan penuh cinta, berharap Satria membuka matanya
"Andai aku pria yang menjadi suamimu, sungguh aku pria yang paling beruntung di dunia, namun pria itu tak pantas kamu tangisi Nggi" gumam Brams dalam hati melihat Anggi balik kaca sepion kendaraan nya.
Sesampainya di rumah sakit, Brams mengangkat tubuh Satria di bantu petugas medis lalu segera memeriksa kondisinya
Beberapa saat kemudian Satria sudah di tempatkan di sebuah kamar rawat dengan selang infus yang menancap di tangannya.
Anggi dengan setia nya menunggui Satria sambil menggenggam suami sirihnya itu, air mata nya tak henti keluar dari mata nya yang indah
Brams berinisiatif membelikan minum hangat dan makanan untuk Anggi, ia tam tega melihat wanita itu hanya duduk terdiam menatap suaminya yang masih terpejam tak sadarkan diri.
"Anggi, sebaiknya loe makan dulu, nanti kalau loe sakit siapa yang jaga suami loe"
"letakkan aja di meja Brams, aku belum lapar"
Jangan keras kepala, atau kamu mau aku suapi? "
Anggi melirih malas kearah Brams, ia tidak mau Satria salah paham ketika terbangun mendapati istrinya sedang di suapi Brams.
Dengan malas Anggi memakan makanan yang di bawa Brams, hanya dua suap lalu ia membereskan lagi makanan tersebut.
Selera makannya entah hilang kemana, padahal Brams membelikan iga bakar kesukaan nya.
"Kok gak di habis kan? "tanya Brams yang melihat makanan yang di bawa nya masih utuh hanya berkurang sedikit
"Aku akan makan jika lapar" ucapnya lirih
Tak berapa lama pintu ruang rawat Satria di ketuk
Tok Tok Tok
Brams membukakan pintu dan terlihat Putu dan Ayu datang bersama dengan Bagus
Brams lah yang mengabarkan mereka dimana Anggi berada, pasalnya Putu sebelumnya sudah memberitahu jika mereka akan ke Jakarta menemui Anggi dan Satria
"Kakek, nenek, kapan kalian sampai" tanya Anggi menghampiri mereka
__ADS_1
"Baru saja, bagaimana keadaan suamimu nak?"
"Mas Satria depresi dan dehidrasi karena seharian tanpa minum dan makan terus mencari keberadaan mba Widya"
"Ah anak itu persis seperti almarhum ibu nya" ucap Ayu mengenang anak semata wayangnya
"Maksud nenek? Satria?? "
"Ya kami kemari untuk memberitahu hal tersebut dan sekaligus kwatir dengan keadaan mu nak" ucap Ayu membelai rambut cucu angkat nya
"Alhamdulillah, Anggi ikut senang mendengar nya. Pasti mas Satria akan senang mendengar nya, sejak dulu ia berjuang hidup seorang diri, kini ia memiliki keluarga"
"Iya nak, kami berharap ia bisa menerima kami sebagai keluarga nya"
"Tentu saja nek, mas Satria pasti dengan suka cita menyambut kalian, percayalah sama Anggi.
Lagi pula kalian tak perlu kwatir dia menolak kalian karena bukan salah kalian ia di besarkan di panti asuhan.
kakek dan nenek juga berusaha mencari keberadaan nya hanya saja Tuhan baru memutuskan hari ini semua terbukti"
"Terim kasih sayang, nenek bangga punya cucu mantu seperti mu"
"Sebaiknya kamu antar kakek ke rumah mu saja, biar suami mu aku yang menunggui nya"
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan ia saat ini"
Ayu tersenyum, ia dapat melihat cinta dan ketulusan pada Anggi
"Kita ke cafetaria di bawah saja, nenek tebak kamu pasti belum makan kan?
Jaga kesehatanmu, Satria juga tidak akan senang jika melihatmu sakit"
"Apa menurut nenek begitu? " tanya Anggi ragu
"Tentu saja cucu nenek, masa orangtua ini akan tega berbohong?
Maklumi suami mu, kejadian tiba-tiba ini pasti membuat ia shock dan tidak berfikir logis. Kamu mau kan memaafkan suami. mu? "
Anggi langsung mengangguk, ia juga percaya Satria bukan orang yang sekasar itu, terlebih ia tak akan meninggalkan dirinya jika saat iti pikirannya tidak sedang kalut.
__ADS_1
Mereka lalu berjalan menuju cafetaria yang berada di lantai satu, memesan makanan dan minuman lalu menyantap nya, tak ada pembicaraan, hanya terlihat mereka sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing
Anggi hanya makan beberapa suap, sisanya ia hanya memgaduk-aduk sendok, melamun
Putu mematap istrinya, seperti memberi kode untuk menghibur cucu nya
"Apa kamu masih memikirkan sikap Satria? apa sekarang kamu mau bercerita bagaimana awal mula pernikahan mu"
Anggi lalu menceritakan dari semasa ia pertama memgenal Satria hingga ia menikah dan kembali bertemu dengan Satria, sampaj akhirnya mereka menikah
Ayu dan Putu mendengarkan cerita Anggi, tanpa memotong sedikitpun, mereka mengangguk, angguk memdengatkan dengan serius..
"Begitulah kek, nek, mengapa aku bisa menikah dengan mas Satria.
Mas Satria sangat mencintai mba Widya, karena permintaan istrinya lah mas Satria mau menikahi ku.
Mas Satria tidak pernah tulus menganggapku istrinya, ia hanya meluluskan keinginan wanita yang paling di cintai nya"
Tak terasa air mata Anggi menetes, ia merasakan hatinya terasa teriris, ngilu dan pedih
"Kamu mau mendengar pendapat nenek?
nenek berkata ini bukan berarti nenek membelamu karena nenek mengenalmu dan tidak mengenak wanita itu, namun kami tahu yang mana tulus dan tidak, yang mana benar-benar mencintai dan tidak"
"Apa menurut nenek pemikiran Anggi salah? "
"Tidak sepenuhnya, kamu hanya sibuk memikirkan kelemahan mu dan rasa takut mu.
Satria sejak dulu hingga kini selalu mencintaimu, hanya ia mencintaimu dengan cara yang berbeda sepertj ia mencintai wanita itu.
Saat ia meninggalkanmu karena ia tidak mau kamu terluka dan takut karena ia mengendarai kendaraan nya ugal-ugalan, demi mencari wanita itu.
ia tahu kamu wanita tegar dan dewasa, jadi ia berharap kamu mengerti keputusannya.
Adapun perubahan sikap Satria karena ia kwatir dua nyawa yang sangat berharga bagi nya hilang, ia kwatir keselamatan Widya yang sedang hamil besar.
Apa sampai di sini kamu mengerti??"
Anggi mengangguk pelan menelaah setip perkataan Ayu, ia juga percaya Satria bukan pria kasar, namun tetap saja sebagai wanita dan istri, hati nya sakit.
__ADS_1