Suami Sewaan

Suami Sewaan
Perawatan II


__ADS_3

"Percaya sama mas, mas tidak akan membiarkan kamu menderita, mas akan memjaga kamu dan melindungi kamu selamanya, itu janji mas dari dulu sampai kapanpun" Satria mengecup kening Anggi lalu langsung bergegas menuju kendaraannya untuk menjemput dokter Brian


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang berlinang airmata melihat Satria yang penuh cinta mencium kening Anggi, ia merasa sangat cemburu melihat keintiman mereka. Ia langsung bergegas masuk ke kamarnya ketika melihat Satria keluar dari kamar Anggi


Satria langsung masuk kedalam kendaraannya dan tancap gas menuju rumah Brian


Sementara Widya dibalik pintu menangis, hatinya serasa di tusuk jarum.


Ia memang akan melepaskan Satria dengan Anggi, namun melihat kedekatan mereka ia merasa terbakar api cemburu


"Ya Tuhan sesakit ini rasanya melihat orang yang aku cintai perhatian dengan wanita lain.


Walau aku tahu mas Satria type setia, aku sangat tahu jika jauh di lubuk hati mas Satria masih ada Anggi.


Andai saja aku tak sebodoh itu dulu, mungkin aku bisa bahagia dengan mas Satria selamanya,


mencintainya sepanjang umurku.


kini percuma, semua sudah terlambat.


Aku teramat takut mas Satria yang tahu keburukanku dan meninggalkanku, lebih baik aku yang meninggalkan dia terutama karena hidupku dalam bayanh-bayang Bobby, ibarat bom waktu yang akan sewaktu-waktu meledak"


Widya menghapus air matanya, ia mengelus perutnya yang membunci.


kehadiran anaknya yang mengobati lukanya.


walau anak itu ada karena sebuah kesalahan, namun anak itu tak bersalah dan Widya akan berusaha menjamin masa depan anaknya kecukupan, karena itulah ia mengikuti rencana Bobby

__ADS_1


"Walau papa mu seorang Baj*ngan, mama akan selalu melindungi dan menjagamu anakku" ucap Widya tersenyum getir


Widya membasuh wajahnya, lalu berhias sebentar, tak lama kemudian ia keluar menuju kamar Anggi


Anggi terlihat sedang tertidur pulas karena kelelahan menangis dan karena semalam ia tak tidur menahan sakit di punggungnya.


Tinah menghampirk Widya yang berdiri di pintu


"Mba Widya apa mau di buatkan sarapan? "


tanya Tina setengah berbisik karena tidak mau mengganggu istirahat Anggi


"Nanti saya buat sendiri, apa Anggi sudah makan? "


"Bu Anggi tadi cuma makan sesuap saja lalu minum obat dan tertidur karena kelelahan.


"Apa mas Satria memanggil dokter Brian kesini?" tanya Widya karena ia hanya sayup-sayup mendengar pembicaraan mereka


"Iya bu, Pak Satria sedang menjemput dokter Brian"


"Baiklah, saya mau buat sarapan dulu, sebaiknya kamu istirahat, jangan sampai kamu juga sakit, nanti Anggi siapa yang rawat?"


"Tapi bu,... "


"Sudah kamu percaya sama. saya, biar saya yang gantikan, sebentar lagi juga dokter Brian sampai"


"Baiklah bu, saya permisi" ucap Tinah lalu melangkah ke kamar belakang tempat para pembantu istirahat

__ADS_1


Sedangkan Widya melangkah menuju dapur untuk membuat sarapan di bantu bi Mumun pembantu rumab tangga Anggi yang bertugas masak dan bersih-bersih rumah


Dua puluh menit kemudian bel rumah berbunyi, bi Mumun langsung bergegas membukakan pintu


Satria masuk kedalam rumah, diikuti dokter Brian dibelakangnya


"Bi, istri saya mana? tanya Satria


"Bu Widya sedang memasak di dapur pak"


"baik bi, terima kasih" ucap Satria menyusul istrinya di dapur, sementara ia membiarkan dokter Brian di ruang tamu


"Sayang, dokter Brian sudab di ruang tamu" ucap Satria begitu sampai di dapur


Widya langsung menoleh dan tersenyum


"Syukurlah mas, ayo bawa dokter Brian ke kamar Anggi atau kalian mau makan terlebih dahulu? "


"sebaiknya kita periksa kondisi Anggi terlebih dahulu" ucap Satria menggandeng tangan Widya menemui dokter Brian


"Hai Brian, apa kabar" sapa Widya ketika sudah sampai di ruang tamu


"Alhamdulillah baik, ah senang nya melihat kalian mesra, sudah berapa bulan kehamilanmu? " tanya Brian


"sudah tujuh bulan jalan"


"selamat ya"

__ADS_1


"makasih bro" ucap Satria mengecup kening istrinya dan mengeratkan pegangan tangannya


__ADS_2