
Bagus yang berniat kerumah Anggi penasaran dengan keramaian di depannya, ia membuka kaca mobil dan menanyakan apa yang terjadi pada warga yang berkerumun di tempat kejadian
”Pak maaf, ada apa ya kok rame-rame??” tanya Bagus pada seorang warga yang berada di tempat kejadian
"Itu mas, tadi ada anak kecil tertabrak , anak itu sedang bermain sepeda di jalan, dan sepertinya kondisinya cukup parah.
Warga sudah membawa anak tersebut ke rumah sakit, sementara yang menabrak terlihat shock, itu"ucap si bapak menunjuk seseorang yang menangis
” Kanza...????” ucap Bagus mengenali wanita yang sedang menangis itu...
Bagus lalu menepikan kendaraannya, ia menghampiri Kanza yang terlihat shock dan masih menangis
”Kanza, ap yang kau lakukan disini?apa yang terjadi?”tanya Bagus begitu berada di dekat Kanza
Kanza mengangkat wajahnya dan melihat Bagus, ia langsung memeluk Bagus dan menangis
"Anak itu, anak itu...
aku tak sengaja menabraknya , tolong aku kak, aku takut" lirih Kanza dengan tubuh bergetar ketakutan
"Apa kamu sudah menelpon Brams? "tanya Bagus berusaha menenangkan Kanza
”Sudah kak, Mas Brams sedang dinas di luar kota, aku terlalu marah dan sedih, gak melihat ada anak kecil yang sedang bersepeda hingga.... huhuhu” Kanza kembali menangis, Bagus berusaha untuk menenangkannya.
Setelah tenang, Bagus berjalan untuk menanyakan di rumah sakit mana anak itu di rawat, namun pandangan matanya tertuju pada sebuah sepeda yang terlihat familiar baginya.
Bagus bergegas mendekati sepeda itu, alisnya berkerut, baru saja akan memegang sepeda tersebut, ponselnya berdering
My Love calling.....
”Mas, huhuhu, Kinar hilang, padahal aku meninggalkannya sebentar saja, mba Anggi shock dan kini tak sadarkan diri ”ucap Prapti sambil menangis di ujung telepon
”Bagaimana bisa?hilang bagaimana? " tanya Bagus panik
”Dia tadi sedang bermain dengan sepedah nya.
Pak Selamet lupa menutup pintu gerbang, seperti nya dia keluar dari pintu gerbang” ucap Prapti sesegukan
Bagus kembali menatap sepeda yang ia pegang, dan tubuhnya langsung kaku, sepeda ini milik Kinar, dan anak yang di tabrak Kanza adalah Kinar
”Aku matikan ponselnya, kamu temani Anggi, aku sudah tahu dimana Kinar berada”ucap Bagus langsung berlari menaiki mobilnya, ia segera tancap gas menuju rumah sakit.
Ditengah perjalanan ia juga tak lupa mengabarkan kondisi Kinar pada Satria
#Satria POV
Berkali-kali Bagus menelpon, namun Satria tak mengangkatnya, ia malah menolak panggilan telepon dari Bagus karena saat ini ia sedang meeting dengan klien penting
Tak lama kemudian, ponsel Nadia, sekertaris Satria berbunyi, Nadia mendapat tatapan tajam Satria karena membawa ponselnya dan dalam mode on.
__ADS_1
Akhirnya Nadia pamit untuk mengangkat telepon, karena berkali-kali Bagus menelponnya tanpa henti
”Maaf pak Bagus, pak Satria sedang meeting”ucap Nadia, sekertaris Satria setengah berbisik
"Urgent, tolong sambungkan, sekarang....!!!!!” bentak Bagus tak sabar membuat Nadia serba salah
ia lalu mendekati Satria dengan wajah ragu
Nadia lalu menyampaikan pada Satria yang terlihat tidak senang , Nadia berbisik lirih pada Satria, karena saat ini ia sedang meeting membahas proyek penting.
Kemudian Ia menyodorkan ponselnya pada Satria, dengan malas Satria mengangkat telepon tersebut.
”Hallo, Assalamu'alaikum kak
Aaapaaa...? Dimana????? baik aku akan segera kesana kak"ucap Satria gemetar setelah menerima telepon dari Bagus, wajahnya langsung pucat pasi
”Maaf pak Guntur, saya harus pergi, anak saya mengalami kecelakaan dan kini terbaring di rumah sakit”ucap Satria parau
"Baik pak, silahkan” ucap Guntur rekan bisnis Satria
Satria langsung berlari menuju ruangannya mengambil kunci mobil dan langsung bergegas ke parkiran, ia mengendarai kendaraannya menuju rumah sakit dimana Kinar di rawat
Selama perjalanan ia merasa tak tenang dan ada kemarahan mengapa sampai Kinar kecelakaan, dimana Anggi, Prapti dan baby sitter yang ia pekerjakan
Satria berusaha menghubungi ponsel Anggi, setelah beberapa saat akhirnya ponsel itu tersambung
”Hallo Assalamu'alaikum
"Maaf mas, mba Anggi masih tak sadarkan diri, ini semua kesalahan Prapti mas, maafkan Prapti”ucap Prapti mulai menangis
”Mas bilang kecelakaan??? Mas??? " tanya Prapti begitu sadar ucapan Satria, ia ingin memastikan pendengarannya
Anggi yang baru saja terbangun dari pingsannya, tak sengaja mendengar percakapan Prapti di telepon
Anggi langsung merampas ponselnya yang di pegang Prapti
"Mas, katakan padaku mas, apa yang terjadi pada putriku, katakan mas, katakaaaannn!!!!!!!"teriak Anggi histeris sambil menangis sejadi-jadinya
"Sayang, anak kita kecelakaan, ini mas sedang menuju rumah sakit" ucap Satria melunak, ia sangat tahu jika Anggi sangat terpukul dengan berita itu
"Dimana Kinar di rawat mas, aku mau lihat anakku, aku mau kesana, mas... katakan di rumah sakit mana???”
"Kinar, dimana kamu nak mas tolong katakan mas, aku mau lihat putriku, dimana Kinar????" tanya Anggi berteriak memanggil Kinar pilu, Anggi berusaha menegarkan hatinya, ia harus melihat kondisi Kinar
Akhirnya Satria pasrah, ia memberitahukan alamat rumah sakit dimana Kinar dibawa
”Ya Allah, lindungilah anakku"ucap Satria lirih sambil menghapus air mata yang menetes di sudut matanya, hatinya hancur dan pedih mendengar musibah yang menimpa anaknya
Sesampainya di Lobby, Satria langsung menanyakan pada resepsionis dimana Kinar di rawat, namun langkahnya terhenti ketika melihat Bagus yang terlihat terpukul sedang berbicara dengan dokter
__ADS_1
" Kak, bagaimana keadaan Kinar? "tanya Satria begitu berada di samping Bagus
”Kinar harus operasi, terjadi pendarahan di kepalanya"ucap Bagus lirih.
Tubuh Satria seakan tak bertenaga, beruntung Bagus langsung memapahnya, membantu menopang tubuhnya
”Anda keluarganya? " tanya si dokter menatap Satria
"Iya dok, saya papa nya, tolong selamatkan anak saya dok, saya mohon, berapapun biayanya akan saya bayar" ucap Satria memegang tangan si dokter
"Bapak gak perlu khawatir, sudah kewajiban kami.
Kami akan melakukan yang terbaik pak.
Saat ini putri anda banyak kehilangan darah dan harus segera di operasi.
Tolong selesaikan administrasi dan tanda tangani surat persetujuan operasi, dan satu lagi, kami butuh donor darah untuk putri bapak, maafkan kami stock darah untuk golongan darah putri bapak hanya dua kantong saja dan itu tidak cukup " ucap si dokter menjelaskan
"Saya dok, ambil darah saya, saya papanya ” ucap Satria cepat.
"Baik pak, bapak silahkan ikut saya untuk di periksa kecocokannya " ucap si dokter lalu berjalan
Bagus terlihat cemas, bukan hanya karena kondisi Kinar yang kritis namun juga sesuatu yang mereka tutupi dari Satria, mungkin hari ini akan terbongkar, rahasia tentang siapa Kinar sebenarnya
Setelah melakukan beberapa rangkaian test , dokter menyimpulkan golongan darah Satria berbeda dengan putrinya, sehingga Satria di minta untuk segera mendapatkan pendonor darah untuk putrinya
”Bagaimana saya tidak cocok dok, saya papanya Kinar, mungkin dokter salah, coba periksa lagi" bantah Satria kesal,
"Maaf pak, memang benar golongan darah bapak dengan putri bapak berbeda, bapak bergolongan darah Ab resus negatif, sedangkan putri anda golongan darahnya O resus positif” ucap dokter memberi pengertian Satria
”Ba.a.a bagaimana mungkin dia berbeda denganku?” ucap Satria lirih
”Saya O resus positif dok, ambil darah saya saja”ucap Bagus
”Kak, ini...”
”Kita bicarakan nanti, yang penting keselamatan Kinar sekarang sedang di pertaruhkan” ucap Bagus memotong pertanyaan Satria
Satria terduduk lesu dengan banyak pertanyaan di kepalanya, ia shock mendapati dirinya tidak bisa menolong putrinya sendiri terlebih ia dan anaknya memiliki golongan darah yang berbeda
Tak lama kemudian Anggi sampai di ruang Intalasi gawat darurat, ia menangis pilu melihat kondisi Kinar yang terbaring tak berdaya dengan beberapa bekas darah yang masih melekat di baju yang siang tadi ia kenakan
"Sayang mama datang sayang, Kinar bangun ini mama nak” ucap Anggi parau, ia menatap Kinar dari kejauhan karena mereka tidak bisa masuk kedalam ruangan
"Kinar sayang, maafin mama sayang, bangun sayang, jangan buat mama takut nak” ratap Anggi pilu.
Prapti memeluk kakak angkatnya itu, ia membantu memapah Anggi yang terlihat pucat pasi
”Kinar Prapti, Kinar,... Ya Allah selamatkan anakku”ucap Anggi lirih
__ADS_1
”Maafkan aku mba, maaf”ucap Prapti memeluk Anggi