
Widya sedang memegang buku dan selembar kertas ditangannya, wajah Widya tak henti-hentinya tersenyum bahagia. ia mencium dan mendekap buku serta selembar kertas ditangannya.
"Akhirnya mama punya cukup uang buat masa depanmu nak"ucap Widya mengelus perutnya yang sudah membesar, satu bulan lagi ia akan melahirkan dan dua minggu sebelum persalinan nya, ia akan pergi selamanya dari hidup Satria.
Tangan Widya kini mengambil kotak kayu yang terbuat dari kayu jati, dan membuka kotak tersebut dengan mata berbinar.
Nampak di kotak itu beberapa set perhiasan mahal tersusun rapih.
Satu buah kalung, anting dan cincin bermata biru menjadi perhatian Widya
itu adalah berlian biru yang langka, ia memakai cincin tersebut ke jari manisnya, lalu mengalungkan kalung di leher jenjangnya, tak lupa juga anting yang merupakan bagian dari perhiasan tersebut.
Ia memandang bayangan nya dalam cermin.
Terlihat cantik dan elegan.
berkali-kali widya berjalan mondar mandir sambil memutar tubuhnya mengagumi keindahan perhiasan yang ia kenakan.
__ADS_1
Anggi mengatakan jika benda yang di dalam kotak ini adalah perhiasan yang tidak ia perlukan lagi karena pemberian Andy, dan Anggi ingin membuangnya jauh-jauh dari hidupnya.
Perhiasan itu sebagai ucapan terima kasih karena Widya sudah mau menjadikannya saudara.
Sedang buku tabungan yang nominal nya fantastik adalah uang bulanan yang Anggi kumpulkan sewaktu menjadi istri Andy,
sebuah rumah mewah yang kini sudah beralih nama adalah mas kawin Andy untuknya, dan ia tak pernah menempati nya.
Kekayaan yang Anggi miliki kini adalah murni jerih payah keringat Anggi dan beberapa perusahaan yang ia kelola serta ada beberapa juga yang di berikan oleh mertua Anggi sewaktu mereka menikah, Anggi sudah berulang kali ingin mengembalikannya, namun mereka berdalih jika perusahaan itu berkembang dan maju karena kerja keras Anggi, mereka hanya memberi jalan Anggi karena melihat potensi Anggi.
tiba-tiba pintu kamar Widya di ketuk, ia yang kini sedang memakai perhiasan Anggi, buru-buru melepaskan nya karena Widya tak ingin Satria mengetahui nya.
"Oh pantas lama, kenapa kamu gak bilang lagi mandi? aku kan tidak akan membuatmu tergesa-gesa yang akan membahayakan anak kita" ucap Satria mengecup kening istrinya
"Aku berjalan perlahan sayang, jangan kwatir, anakmu ini kuat seperti papa nya" ucap Widya memeluk Satria.
Satria mengunci pintu lalu membopong Widya, menciumi Widya dengan ganas dan meletakkan nya di kasur secara perlahan
__ADS_1
"Dan papa nya jadi mah menengok anak papa yang kuat ini" ucap Satria lalu mulai menciumi tubuh telanjang Widya dan mereka pun melakukannya dengan perlahan dan penuh kasih sayang.
Satria yang melakukan nya beberapa kali, hingga akhirnya Widya tertidur karena kelelahan.
Dalam diri Satria yang pendiam menyimpan sosok pria yang haus s*x, ia akan melakukan hubungan suami istri sampai beberapa kali dalam setiap kegiatannya.
Terkadang ia merasa kasian pada Widya, namun ia tak bisa menahan hasrat nya jika melihat tubuh molek Widya, wanita yang di cintai nya.
Satria keluar dari kamar nya dan melihat Prapti yang membawa piring dan gelas kotor dari kamar Anggi, Satria lalu menghampiri Prapti
"Mba Prapti, mengapa kamu membawa ini dari kamar Anggi? apa dia baik-baik saja?" tanya Satria cemas
"Bu Anggi demam pak, baru saja mau makan, sejak pagi dia belum makan apa-apa"
"Tolong ambilkan saya air dingin dan kain untuk mengompres Anggi, tolong antar ke kamar ya" ucap Satria lalu berlalu menuju kamar Anggi.
Anggi nampak terpejam mata nya, namun keringat keluar dari dahinya. ia mengigau dan menitikkan air mata
__ADS_1
Satria menghapus air mata Anggi dengan tangannya, membelai rambut Anggi dengan penuh kasih sayang
Tak lama Prapti datang membawa air dingin untuk menurunkan demam Anggi. lalu Prapti meninggalkan mereka, menghubungi dokter Brian yang ternyata baru bisa datang menjelang maghrib.