Suami Sewaan

Suami Sewaan
Tak Berharga


__ADS_3

Satria memungut kertas yang berserakan itu yang lebih menarik perhatiannya adalah sebuah lembar bermaterai seperti perjanjian


Satria mulai membacanya dan matanya membulat sempurna dengan gigi yang bergemulutuk dan rahang keras karena menahan marah, ia kemudian meraih beberapa kertas lagi yang berserakan bersama surat perjanjian itu, amarahnya bertambah, matanya menahan penuh kebencian.


Satria meraih beberapa surat terakhir dan membacanya, kemudian meremasnya seolah bisa membuat amarahnya sedikit reda


"Sial, sialan kamu Widya, apa sebegitu tak berartinya aku buatmu hingga kau tega melakukan ini?


Kurang apa aku selama ini?


Aku tahu kamu tak pernah cinta tulus padaku, tapi apakah harus berbuat seperti ini?


wanita sialaaaaannnn, istri dajal, aku ternyata sudah buta karena cinta yang salah,mengapa kau tega padaku??, mengapaaaaaaaa?? " teriak Satria marah, mengamuk menghancurkan apa saja diruangan itu meluapkan kekesalannya


Satria berteriak tanpa sadar air matanya menetes, betapa sakit kenyataan itu, betapa bodoh ia selama ini.


Satria mengutuk dirinya sendiri yang tak peka melihat kenyataan, ia hidup dengan wanita egois seperti Widya. Satria tak tahu apakah di hati Widya pernah saja sekali dalam hidupnya mencintai Satria, namun semua sudah tidak penting lagi, Satria kini membenci wanita itu lebih dari apapun


Bagus hanya terdiam di depan ruang kerja Angi, ia sudah menduga jika cepat atau lambat Satria akan mengetahui hal yang selama ini di sembunyikan, ini hanya sebagian kecil rahasia Widya, belum semuanya, bagaimana jika Satria mengetahui kebenaran jika Widya selingkuh dan anak dalam kandungannya adalah anak selingkuhannya itu, tepatnya sejak awal Widya sudah memanfaatkan perasaan Satria


Prapti datang menghampiri Bagus yang nampak hanya berdiri saja sejak tadi tanpa berniat masuk ke dalam ruang kerja tersebut


Prapti mencolek Bagus dengan pandangan bertanya, namun Bagus hanya mengangkat bahunya santai dan berjalan menuju Sofa, tanpa memperdulikan suara gaduh di dalam ruangan itu


”Apa mas gak mau melihat keadaan pak Satria?" Tanya Prapti yang mengekor Bagus dari belakang


"Biarkan saja seperti itu, ia butuh waktu sendiri,semuanya kenyataan ini pasti mengejutkannya, jangan kawatir ia akan berbuat nekad, itu tak akan terjadi karena ia benar-benar mencintai Anggi dan baru menyadari bahwa hanya Anggi lah yang tulus padanya"


"Apa mas yakin?"tanya Prapti ragu, ia menatap pintu ruang kerja Anggi


"Aku yakin, biarkan saja ia saat ini, mas akan menunggu disini, tolong buatkan teh hangat ya"


"Baik mas"ucap Prapti sambil berjalan menuju dapur

__ADS_1


Setelah kepergian Prapti, Bagus meraih ponselnya dan menelan nomor telepon Putu, papa angkatnya


"Assalamu'alaikum pa"


”Wa'alaikum salam, bagiamana keadaan keponakanmu?" tanya Putu di ujung telepon


"Semuanya kebuka satu persatu pa, Satria kini diruang kerja Anggi, ia mungkin menemukan surat perjanjian antara Anggi dan Widya.


Mungkin juga yang lainnya, Bagus gak bisa memastikan itu, namun di lihat dari suara amarah yang terdengar dari dalam, sepertinya semuanya ia sudah tahu" ucap Bagus menjelaskan


"Apa kau tidak masuk dan melihat keadaan keponakanmu itu nak?"tanya Putu, ada rasa kwatir di ucapan pria tua tersebut


”Menurut Bagus biarkan saja untuk saat ini, ia butuh sendiri dan merenungi semua, Bagus hanya menunggu di depan ruangan"ucap Bagus mencoba menenangkan papa nya


"Baiklah nak, papa percaya padamu, awasi keponakanmu itu, sudah dua bulan sejak kepergian Anggi, papa harap dia sudah belajar banyak.


Namun kini papa di hadapkan pada pilihan sulit.


Jujur papa mau Anggi dan Satria kembali bersama, papa ingin cicit papa merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orangtuanya, namun perasaan Anggi yang kecewa, papa tak bisa abaikan, bagaimanapun Satria sudah sangat keterlaluan, dan ia layak mendapatkan perlakuan seperti ini"ucap Putu menghela nafas dan menghembuskan ya pelan


"Pa, papa yakin sama Bagus dan Ridwan, kami mau yang terbaik buat keluarga kami, buat Satria dan Anggi.


Bagus yakin jauh di lubuk hati Anggi pasti masih mencintai Satria, ia hanya butuh waktu sekarang, biarkan rasa kehilangan menyadarkan mereka bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lainnya" ucap Bagus


”Papa berharap begitu nak, papa hanya ingin menikmati hari tua papa dikelilingi anak , cucu, dan cicit papa, ah indahnya” ucap Bagus lirih menyampaikan harapannya


"Pa, bismillah, tak ada yang tak mungkin jika Allah menghendaki, yakinlah itu.


Kita harus bersabar melewati cobaan ini”


”Papa serahkan semuanya pada kalian, papa percaya kalian, jika ada sesuatu, tolong kabari papa”ucap Putu mengakhiri panggilan telepon


"Teh hangatnya mas” ucap Prapti sambil meletakkan cangkir teh di hadapan Bagus , ia melihat pria ini seperti sedang berfikir keras

__ADS_1


”Tadi papa yang telpon”ucap Bagus lalu meneguk teh hangat yang disuguhkan Prapti


Prapti terdiam, ia tak bertanya pada Bagus, namun Bagus suka rela memberitahunya tanpa ia bertanya.


Prapti tersenyum samar,memandang sekilas kearah Bagus


Prapti berjalan kembali ke kamarnya, sedang Bagus masih duduk santai di depan ruang kerja Anggi.


Satu jam kemudian, Satria keluar dengan wajah muram, ia menundukkan kepalanya dalam, nampak sekali ia shock.


Satria berhenti didepan Bagus yang masih duduk di tempat semula


”Apa kau mau teh hangat?"tanya Bagus santai lalu berjalan menuju dapur membuatkan teh hangat untuk Satria, sedang Satria masih duduk menekuk wajahnya


”Kak,...” ucap Satria parau, namun Bagus menyodorkan teh kedepannya


"Minumlah dulu, tenangkan pikiranmu, baru kita bicara”ucap Bagus menepuk punggung Satria, kemudian duduk di samping Satria


Satria hanya bisa menuruti perkataan Bagus, tak bisa dipungkiri, ia butuh minum karena emosinya tadi, dan berharap air itu bisa membuat pikirannya sedikit tenang


Setelah beberapa saat terlihat dari sudut mata Satria, bulir bening yang merembes keluar


”Kak, aku merasa laki-laki paling bodoh di dunia ini. Aku dibutakan oleh cinta, yang kukira cinta namun adalah ambisi memiliki seseorang, hingga aku tak sadar wanita itu tak pernah mencintaiku dan aku selalu berfikir dan mengatakan pada diriku, cinta akan datang jika aku tulus padanya.


hingga saat Anggi datang, cinta pertamaku yang membuat ku tak bisa melupakannya.


Aku menekan perasaan itu dalam-dalam , karena aku hanya ingin setia dengan wanita yang telah ku nikahi, aku tak mau ingkar janji dan membuatnya kecewa karena memilihku menjadi suaminya, namun karena permintaannya pula aku terpaksa menikahi Anggi” Satria semakin menundukkan kepalanya, air matanya tak terasa menetes


”berkali-kali aku menolaknya, dengan alasan cinta. Namun ternyata ada alasan ia menerimanya, semata-mata hanya karena materi, baginya, aku tak berarti apa-apa, pengorbananku tak berarti apa-apa.


Wanita itu menjual ku demi sejumlah kekayaan, saat ku mencoba setia,hingga akhirnya aku jatuh cinta kembali pada Anggi dan dia meninggalkanku pergi dengan membawa anak dan harta yang di perolehnya.


Kau tahu kak, aku hanya suami sewaan , apakah aku punya hak mempertahankan Anggi? katakan kak!!!!!!” Satria menarik rambutnya sendiri, terisak

__ADS_1


__ADS_2