
Ayu sedang asik menemani cicit-cicitnya bermain, mereka terlihat sangat bahagia, terkadang terdengar tawa terkekeh mereka di sela-sela bermain.
Satria tiba-tiba berjalan ke arah neneknya dengan wajah panik
"Nek, Prapti sepertinya kesakitan” ucap Satria membuat Ayu terkejut lalu langsung bangkit
"Sepertinya masih dua bulan lagi, apa ia kelelahan atau bagaimana?” cecar Ayu panik.
Satria sebenarnya tak tega membohongi neneknya, namun demi kesehatan neneknya akhirnya ia menguatkan hatinya juga.
Satria hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu, karena memang ia tak tahu hal yang seperti itu, hanya saja ketika hamil si kembar, ia selalu siaga di samping Anggi.
Satria membawa Ayu menuju kamar tamu dimana Prapti tinggal.
mereka sampai di depan sebuah kamar, tanpa mengetuknya, mereka langsung masuk kedalam.
mereka melihat Irine sedang memeriksa Prapti yang duduk dengan tenang
”Apa yang terjadi???" tanya Ayu begitu masuk ke dalam kamar tersebut
”Tidak apa-apa kok ma, Prapti hanya kelelahan, bayinya sangat aktif sekali" ucap Irine tersenyum
”Alhamdulillah, mama pikir kenapa-napa, ini juga cucu rese pake buat neneknya jantungan aja, ksih tahu kalau Prapti kesakitan” pukul Ayu pelan pada Satria sementara Satria hanya nyengir kuda.
"Duduklah ma, mama pasti terkejut, biar Ridwan periksa ya, muka mama pucat kan gara-gara tadi buru-buru kesini”ucap Ridwan lembut, namun Ayu segera menyembunyikan tangannya di balik badan dan terlihat canggung
"Tidak perlu, mama hanya lelah habis bermain bersama cucu dan cicit mama tadi” sanggah Ayu
”Ma, periksa ya, jangan buat Prapti g tenang, gara-gara Prapti mama jadi terkejut, maaf ya ma.
Kalau mama gak mau periksa, Prapti merasa bersalah” ucap Prapti menundukkan kepalanya
Ayu mendengus pelan menatap anak dan cucunya, serta suaminya yang sejak tadi hanya diam, ia melihat adanya koalisi di kamar ini dan ia lah target mereka.
Satria hanya batuk-batuk kecil saat tahu jika neneknya sangat pintar dengan waktu yang sangat singkat bisa membaca situasi dan mengetahui rencana mereka
__ADS_1
Ayu dengan wajah sedikit kesal menatap suaminya, namun Putu tak berani menatap istrinya.
Ayu menghela nafas, lalu duduk, membiarkan anaknya memeriksa kondisinya, toh ia juga harus sehat demi melihat cucu dan cicitnya besar
Terlihat wajah muram Ridwan setelah memeriksa mamanya, ia juga menanyakan beberapa pertanyaan umum pada mamanya
”Ma, besok kita ke rumah sakit ya. kami sayang mama dan ingin mama sehat selalu, apa mama tidak mau melihat anak-anak kami bertumbuh besar????” tanya Bagus, si bungsu yang selalu bisa mengambil hati Ayu.
tanpa menunggu Ayu langsung mengangguk-anggukan kepalanya
”Mama mau hidup seribu tahun lagi biar bisa melihat kalian dan anak-anak kalian besar"ucap Ayu tanpa di duga.
Putu yang mendengar perkataan istrinya menghampiri Ayu dan memeluknya
”Itu baru istriku” ucap Putu mengecup puncak kelapa istrinya yang di sauti dengan sorak Sorai bahagia
Tiba-tiba pintu di ketuk lalu terbuka dan berlari-larianlah bocah-bocah cilik sambil berteriak-teriak riuh
”Nenek buyut, nenek, lama-lama, kami tunggu”teriak Fared dan Reyhan menggembungkan pipinya karena kesal
"Maaf ya nek, Kinar gak bisa larang” ucap Kinar merasa bersalah, karena pastinya para orangtua sedang membahas hal penting, sehingga anak kecil di larang mengganggu
"Gak apa-apa sayang,
nenek buyut sudah selesai” ucap Ayu mengelus kepala Kinar
”Anak laki emang rese tuh nenek buyut” ucap Aisya dengan gaya tua nya bersedekah dada menunjuk kepada adik dan saudaranya dengan bibirnya, matanya memandang Sinis, sangat menggemaskan membuat semua orang tertawa karena tinggal Aisya
”Ayo kita main lagi” ucap Farel menarik tangan Ayu
"Sayang, nenek cape, kamu mainnya sama mama ya, bir nenek istirahat
”Ah gak selu, ayu Rey, kita kebawah lagi” ajak Farel mengabaikan mamanya dan berjalan kembali menuju lantai bawah dimana ia tadi sedang bermain, disusul Aisya dan Kinar sebagai pengawas adik-adiknya
Ridwan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan anaknya. Sedangkan Irine mendelik kesal pada suaminya
__ADS_1
”like father, like son " ucap Irine membuat Ridwan hanya bisa meringis, menggaruk kepalanya yang tak gatel.
Mereka semua sengaja memilih makan siang di sebuah mall, selain untuk mengabulkan permintaan anak-anak yang tertunda ingin berenang, mereka juga bisa refreshing sekaligus kumpul keluarga.
Sore harinya mereka kembali kerumah, makan malam lalu istirahat.
Keesokan harinya
Prapti dan Bagus tidak ikut Ridwan ke rumah sakit, hanya Satria dan Ridwan serta Putu yang menemani Ayu cek up ke rumah sakit setelah selesai sarapan pagi
Anggi dan Irine sibuk masak di dapur untuk mereka makan siang, si kembang sedang asik bermain dengan kakaknya.
# Di rumah sakit
Ayu menjalani beberapa pemeriksaan, nampak wajah Ridwan sangat gelap, ada kekhawatiran dan ketegangan di wajahnya yang berusaha ia sembunyikan
Dugaannya benar jika mamanya mengalmi penyakit yang serius, sejak semalam saat memeriksa Ayu, ia tak bisa tidur memikirkannya. Dan kini melihat hasil test, ia muram
Putu yang melihat putranya muram, sudah bisa menebak bahwa ada hal yang tidak baik dalam pemeriksaan istrinya tersebut
”Katakanlah nak, papa siap menerima kabar apapun”ucap Putu berusaha kuat
”Pa, mama, ..." Ridwan menitikkan air matanya, ia gagal menjadi dokter profesional jika menyangkut orang yang dikasihinya
”Pap mendengarkan nak, seberat apapun, insha Allah PP ikhlas” ucap Putu bergetar
”Mama memiliki tumor di kepalanya, tumor itu menekan otaknya sehingga membuat ia sering kelelahan dan pingsan, diameternya sudah sebesar bakso, Kita harus melakukan operasi pengangkatan agar tumornya tidak terus membesar dan berbahaya” ucap Ridwan menekan air matanya dengan tangannya, layaknya nak kecil yang menangis depan papanya
Putu mengucap istighfar beberapa kali, tak terasa air mata juga menetes tanpa ia sadari, Putu menggenggam tangan Ridwan,
saling menguatkan.
”Papa mohon lakukan yang terbaik untuk mamamu, hasilnya Kisa pasrahkan pada Allah, karena semua datangnya dari Allah dan kembali pada Allah”
”Baiklah, Ridwan akan mengatur semuanya, papa gak usah khawatir, Ridwan akan lakukan yang terbaik untuk mama”ucao Ridwan berusaha menyunggingkan senyum
__ADS_1
”bentuk tim ahli di rumah sakit kita, papa harap kamu tidak bersikeras yang akan mengoperasi mamamu, cukup kamu menyerahkan kepercayaan pada dokter pilihanmu” ucap Putu kembali tenang, walau di dalam hatinya ia ingin menangis dan berteriak, betapa hancur dan sakit nya hati Puti mendengar wanita yang mendampinginya sedang kesakitan, bila bisa memilih, lebih baik ia yang mengalami penderitaan ini.