
Ridwan maju dan mengangkat kerah baju Satria, ia menyeret Satrja keluar dari kamar Anggi
Ridwan melayangkan bogem mentah ke wajah Satria beberapa kali,namun Satria tak melawan, ia hanya menunduk sambil menangis menyadari kesalahan fatalnya
"Udah gue bilang loe jangan buat ade gue sedih, tapi loe malah buat mama dan Anggi nangis" Ridwan meluapkan emosinya, hingga tangan Putu menahannya
"Pa, dia sudah menyakiti mama dan Anggi" protes Ridwan pada ayah angkatnya
"Biarkan ******** kecil itu perfikir atas kesalahannya, sebaiknya kamu periksa kondisi Anggi dan mama angkatmu" pinta Putu
Ridwan tersadar, ia lebih baik memeriksa Anggi dan ibu angkatnya, daripada mencari tahu penyebab kedua wanita yang ia sayangi tersebut menangis histeris seperti itu
Ridwan lalu melangkah masuk ke dalam kamar Anggi, ia melihat Anggi masih terpukul
Ridwan menyentuh tangan Ayu, ia lalu membimbing mama angkatnya itu pada ayah angkatnya yang segera membawanya ke kamarnya, sementara itu Ridwan kini duduk di tepi ranjang, ia menepuk pelan bahu Anggi
"Mas" ucap Anggi parau lalu memeluk kakak angkatnya itu
"Sudah jangan nangis, kasian anak dalam kandunganmu" ucap Ridwan pelan
"Kamu sayang anakmu kan? kalau kamu sayang lepaskan beban di hati mu, perbanyak istighfar da sholat, mas ada disini, mas akan melindungimu" ucap Ridwab lembut yang di balas anggukan lemah Anggi
"Sekarang kamu istirahat, berbaringlah, mas akan memberikan mu obat agar kamu bisa istirahat, ok? "Ridwan lalu menyuntikkan obat agar Anggi istirahat, tak lama kemudian ia tertidur
ridwan kembali ke keluar kamar dimana Satria masih terduduk di lantai
"Jangan ganggu dia, dia butuh istirahat, sebaiknya loe siapin diri loe menjawab pertanyaan gue, atau gue habisin loe" ucap Ridwan sinis lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Putu
Setelah mengetuk pintu Ridwan masuk dan melihat mama angkatnya masih menangis, hati Ridwan terasa sakit melihat kondisi Ayu saat ini
"Mama, Ridwan periksa dulu ya" ucap Ridwan lembut membaringkan tubuh Ayu yang gemetaran karena menangis
__ADS_1
"Ridwan, apa yang mama harus lalukan untuk cicit mama dan Anggi, mama sakit hati pada cucu mama sendiri" ucap Ayu dengan tatapan memohon bantuan
"Ma, kita akan diskusikan itu, mama tenang dulu, aku akan memastikan Anggi dan cicit mama baik-baik saja, mama tenang ya, istirahat, Ridwan akan bantu mama" ucap Ridwan sambil menyuntikkan obat penenang pada Ayu
"Bagaimana kondisi mamamh nak? " tanya putu kwatir, melirik istrinya yang kini tengah tertidur karena pengaruh obat
"Hampir saja traumanya kambuh, kalau ia terus menerus panik, Ridwan gak bisa memikirkan apa yang akan terjadi, yang pasti mama bisa kembali....
Pa, kita harus memikirkan cara bagaimana agar mama merasa tenang" ucap Ridwan yang melihat papa angkatnya itu juga sedang berfikir keras
Tok tok tok
Pintu di ketuk lalu masuklah Bagus dengan
wajah tegang
"Bagaimana kondisi mama? " tanya Bagus langsung sambil melihat mama angkatnya yang tertidur
"Pa, tolong ceritakan semuanya, bagaimana sampai Anggi dan mama shock" yang di angguki oleh Bagus karena ia sendiri tak tahu detail kejadiannya
Putu lalu menceritakan kejadian mengapa istrinya dan cucu angkatnya menangis
"Apa perlh kita beritahu yang sebanarnya pada Satria, kenyataan jika istrinya pergj dengan laki-lakj lain, dan anak itu bukan anaknya? " ucap Bagus emosi
"Jangan, bagaimanapun akan lebih baik jika ia tahu sendiri, kamu bantu ia kumpulkan informasi, biarkan ia tahu kebenarannya sendiri, jika kita yang sampaikan ia tak akan percaya, giring ia perlahan menuju bukti-bukti"ucap Putu pelan
"Tapi pa, apa yang harus kita lakukan jika kondisi Anggi terus tertekan bisa membahayakan cicit papa juga" Ridwan mengingatkan Putu jika kondisi Anggi depresi
"Kita lihat perkembangannya lebih jauh, papa tidak mau ambil keputusan sesaat karrna emosi dengan anak itu, biarkan Anggi yang memilih, kita hanya membantu dan mensuport nya"
Ridwan adan Bagus saling berpandangan, seolah mereka sedang bertanya pendapat masing-masing, lalu mengangguk menyetujui usulan Putu
__ADS_1
"Ridwan akan stay disini, biar bisa memantau kondisi mereka berdua"
"Papa setuju dengan kamu, sekarang kamu Ridwan obati luka ponakanmu, cukup sudah kamu menghajarnya, anak itu tumbuh tanpa kasih sayang mamanya, papa harap kamu bisa lebih bersabar menghadapinya"
"Ridwan masih emosi pa sama diaa, tapi Ridwan kali ini harus mengalah demi mama dan Anggi"
"Papa mengerti, bagaimanapun dia anak saudarimu, Satria anak baik, hanya saja matanya dibutakan oleh cinta yang salah, pada orang yang salah" ucap Putu muram
"Sepertinya papa harus ikut rencana Ridwan, jika papa ingin cucu kesayangan papa itu sadar, dan itu semua demi cicit papa" ucap Ridwan menatap Putu serius, sementara Bagus juga ikut penasaran, ia terkadang tak setuju dengan usul Ridwan, namun kali ini ia memilih mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Ridwan
"Silahkan nak, kami mendengarkan" ucap Putu langsung memasanv wajah serius.
Ketiga lelaki berbeda genderasi itu terlihat sedang membahas sesuatu, terkadang alis mereka berkerut, terkadang manggut-manggut, hingga akhirnya..
"Gue rasa ide loe kali ini cukup ok, gue setuju bro" ucap Bagus menepuk keras bahu saudara angkatnya
"Setuju, sih setuju, tapi gak gitu-gitu juga kali? loe mau bikin bahu gue retak?" gerutu Ridwan mengelus bahunya yang sakit
"Cemen loe bro, makannya sekali-kali fitness sama gue, jangan cuma nimbun lemak" goda Bagus memamerkan tangannya yang kekar dengan senyum mencibir kearah saudara angkatnya
"Gue lebih baik kasih vitamin ke otak, biar ga barbar kaya loe" balas Ridwan tak kalah sinis
"Udah-udah, kalian berdua kalau ketemu berantem, kalau g ketemu bilang kangen, dasar bujang lapuk, kapan papa punya cucu lain kalau punya anak dua sudah tua tingkahnya macam anak abege, wanita mana yang mau, ckckkcck" Putu menggelengkan kepalanya melihat kedua putra angkatnya yang saling bertengkar omongan
"Hehehe, Bagus dulu pa yang mulai" sanggah Ridwan yang usianya hanya beberapa tahun di bawah Bagus
"Sudah kalian berdua kaya anak kecil, ganggu mama kalian aja yang baru istirahat, papa setuju dengan usul Ridwan, biar Satria berfikir.
Kalian pikirkan bagaimana caranya Anggi dan cicit papa melewati masalah ini dan satu lagi, cepat carikan papa anak mantu, papa kasih waktu dua bulan.
Jika tidak dapat, papa hapus dari kartu keluarga" ucap Putu tegas lalu meninggalkan kedua kedua putranya yang masih saling menyikut
__ADS_1
Sejak mengangkat mereka menjadi putranya, Putu tak pernah menganggap ia anak angkat, Putu sangat menyayangi mereka layaknya anak sendiri, terlebih mereka menjadi pelipur lara Putu dan istrinya di kala waktu terburuk mereka setelah ditinggalkan anak mereka untuk selamanya.