
Tiba-tiba
"Aaaaarrrgggg pffffftttt asemmmmmm" teriak Ridwan langsung berlari ke toilet dan membuangnya disana
Anggi tak henti-hentinya tertawa melihat ekspersi Ridwan yang kelabakan karena masamnya jeruk yang ia makan
"Mas, mas, namanya orang hamil itu suka yang masam-masam untuk menghilangkan mualnya"ucap Anggi masih dengan tawanya
Sementara Ridwan terlihat mengambil minuman cola dari lemari pendingin dan meminumnya, ia masih terlihat bergidik keaseman
"Hahaha, enak kan mas rasanya? " ucap Anggi memegangi perutnya yang kaku karena menertawakan Ridwan
"Kau adik yang kejam, membiarkan mas mu ini menderita" ucap Ridwan menghampirj Anggi dan mulai menggelitikinya dengan gemas
Anggi berteriak-teriak karena kegelian hingga mengeluarkan air mata
"Cukup kak, cukup, Anggi menyerah" teriaknya lagi membuat Ridwan menghentikan gerakannya
"Assalamu'alaikum maaf saya datang di waktu yang tidak tepat" ucap Dokter Irine dengan wajah bersemu merah
Irine memang tidak di beritahu secara detail tentang Anggi, sehingga ia mengira jika cucu dan cicit pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, ada hubungannya dengan Ridwan, pria yang selama inu Irine taksir.
"Wa'alaikum salam, oh dokter Irine ayo masuk saya perkenalkan dengan pasien anda" ucap Ridwan formal namun tetap tak bisa menyembunyikan kegugupannya di mata Anggi
Anggi berjalan mendekati Irine yang masih berdiri terpaku di depan pintu
"Hai, aku Anggi, salam kenal ya.
Mas Ridwan sudab bercerita banyak tentangmu, ternyata kamu lebih cantik jika melihat langsung" ucap Anggi mengulurkan tangannya
Ridwan tak percaya dengan ucapan yang keluar dari Anggi, bagaimana mungkin Anggi bisa mengarang cerita sedemikan mungkin yang terkesan ia sering membicarakan Irine pada Anggi, Wajah Ridwan bingung dan terkejut menatap Anggi meminta penjelasan.
Sementara berbeda dengab Irine yang wajahnya langsung merona merah karena malu, ia terlihat malu-malu membalas jabatan tangan Anggi, sesekali ia melirik ke arah Ridwan yang terlihat tersenyum canggung
"Hehehe, maaf ya Dokter Irine, adik ku ini memang suka usil" ucap Ridwan salah tingkah, membuat Anggi mengulum senyum penuh kemenangan
Ia hanya menebak saja, pasalnya Ridwan type serius dan pekerja keras, ia juga sulit dekat dengan wanita, namun kali ini, Ridwan malah yang mengajukan nama dokter cantik ini pada kakeknya bahkan ia menjamin wanita ini berdedikasi tinggi, sesuatu yang langka terjadi
"Ayo aku antar ke kamarmu, biarkan pejantan tangguh itu memasak untuk kita" ucap Anggi menggeret tangan dokter Irine paksa
__ADS_1
Dokter Irine sempat mencuri padang ke arah Ridwan, ia melihat pria itu merona merah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan groginya
"Dasar anak usil, dari mana dia tahu kalau aku menaruh hati pada Irine, sebaiknya aku harus lebih berhati-hati lagi kedepannya, Anggi memiliki mata yang tajam, bisa mengamati dan menyimpulkan dengan mudah, Sial bikin aku tambah grogi saja anak itu "gerutu Ridwan dalam hati memandang adik dan wanita yang di cintainya meninggalkan dapur
Sementara di kediaman Anggi
Satria terlihat lesu, ia baru saja menjabat direktur di perusahaan kakeknya dan banyak yang harus ia pelajari dengan cepat
Ia juga harus membuat keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan keberlangsungan perusahaan kakeknya
Satria berjalan gontai, ia menghempas tubuhnya di sofa ruang keluarga sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut
semua permasalahan seakan memghimpitnya, kini setelab kakek dan neneknya kembali ke Bali, ia belum juga punya waktu secara khusus meminta maaf pada Anggi
Wanita itu, Satria merasa amat bersalah karena menunda mengungkapkan perasaannya, namun wanita itu tetap tersenyum walau ia menuduhnya sudah berselingkuh
Satria memanggil Prapti yang terlihat bingung, biasanya Anggi selalu menyediakan teh hangat saat ia pulang kantor, namun ia tak mendapati secangkir minuman pun di meja depannya
"Ya pak? " ucap Prapti begitu dekat dengan Satria
"Kemana istri saya? Anggi? apa dia tak enak. badan?" tanya Satria sambil membuka dasi yang melingkar di lehernya
Kalau saja gue tahu loe akan nyakitin mba Anggi, lebih baik gue jauhin loe dari mba Anggi.
Dulu pak Andy sekarang loe, sama-sama laki-laki ga berprasaan semua" teriak Prapti dalam hati
"Loh Prap, saya tanya kok malah bengong?" tanya Satria menghentikan kegiatannya, menatap penuh tanya pada pembantunya itu
"Maaf pak, saya gak tahu bu Anggi kemana, tadi hanya pamit mau memeriksakan kandungan dengan dokter Ridwan, setelahnya saya ke dapur dan beres-beres jadi gak melihat kepergian mereka.
Tapi sampai sekarang mereka belum kembali" ucap Prapti hati-hati
Prapti sengaja mengarang cerita agar terkesan ia tak tahi menahu mengenai kepergian Anggi.
"Apa? kenapa kamu baru bilang sekarang? kenapa kamu tidak coba hubungi nomor ponselnya kalau dia belum pulang" ucap Satria dengan nada sedikit meninggi membuat Prapti beringsut ketakutan
"Maaf pak, ponselnya tidak aktif, saya sudab coba hubungo beberapa kali"
"Bagaimana dengan dokter Ridwan?" tanya Satria cepat
__ADS_1
"Sama pak, mereka berdua tidam aktif nomor ponselnya
Satria terbengong mendengar jawaban Prapti, tiba-tiba ia berlari menuju kamar Anggi, ia melihat kamar itu rapih dan kosong
Satria bergegas membuka lemari pakaian Anggi, hanya tinggal beberapa pasang pakaian yang jarang Anggi gunakan, ia juga mencari travel bag Anggi dan tidak ada disana
Satria dengan cepat menuju ke meja rias Anggi, ia menemukan semua perhiasan yang pernah ia berikan pada Anggi dan beberapa perhiasan yang biasa Anggi pakai masih tersimpan rapih, tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah kertas yang tertutup oleh box cincin Anggi
Dengan setengah bergetar Satria membuka kertas tersebut yang ternyata adalah surat dari Anggi
"Mas, saat kamu membaca surat ini artinya aku sudah pergi jauh dari hidupmu
Aku berterima kasih padamu atas kebahagiaan singkat yang kau berikan padaku
Atas buah hati yang tak kau inginkan ada di dunia ini, aku akan menjaganya dengan atau tanpa kamu, malaikat kecil dalam rahimku ini adalah kebahagiaan yang terbesar yang Allah berikan dalam pernikahan kita
Maafkan aku, aku tak bisa lagi bersamamu, mungkin sampai disini jodoh kita,
namun aku tak pernah menyesali telah menjadi istrimu dan jatuh cinta padamu.
Satu hal yang aku sesali di dalam hidupku adalah mengapa aku harus jadi yang kedua, yang tak berarti dan berharga untuk kamu cintai.
Seumur hidupku hanya akan ada kamu dan cuma kamu yang memiliki hati, jiwa dan tubuhku, namun sayangnya kau tak percaya itu.
Sebagai yang tak bernilai, lebih baik aku pergi agar dirimu damai dan tak terganggu dengan kehadiranku
Aku sudah memaafkanmu mas, jauh sebelum kamu memintanya karena seperti itulah cinta, memaafkan tanpa meminta, memberikan tanpa berharap
Lepaskan aku, dan aku akan mengirimkanmu surat resmi talakku padamu setelah anak kita lahir
Anggi
Satria menjerit dan meraung, ia memangis kencang setelah membaca surat Anggi
Surat yang membuka matanya betapa Anggi sangat terluka dan menderita selama ini di sisinya, betapa Anggi sangat mencintainya, semuanya yang membuat Satria terpuruk dalam rasa bersalah
Satria memukul kaca di meja riang Anggi hingga hancur berkeping-keping, baginya sakit di tangannya tak seberapa di bandingkan luka yang ia torehkan pada istri sirihnya itu
Ia terlalu bodoh menyia-nyiakan wanita yang seperti berlian itu, mengabaikannya, bahkan yang paling keji menuduhnya berselingkuh
__ADS_1
Satria mengutuk dirinya sendiri atas semua kebodohan yang ia lakukan