
Sudah hampir dua jam lamanya pintu ruang operasi masih tertutup rapat, belum ada tanda-tanda akan di buka.
Suasana di ruang tunggu begitu hening, hingga nafas pun terdengar samar.
Putu, Satria , Bagus dan Ridwan menatap kosong ke arah pintu ruangan operasi, menanti dengan cemas orang yang mereka kasihi sedang berjuang di meja operasi.
Satu jam kemudian baru lah dokter Philips yang menangani operasi keluar dengan wajah lelah, beliau adalah dokter kepala sekaligus mentor Abraham di rumah sakit tempatnya bekerja
diikuti oleh Abraham di belakang dokter Philips
Seluruh keluarga bangkit menghampiri mereka
”Bagaimana keadaan mama saya dok?"tanya Ridwan dengan suara terbantah-bantah
”kondisinya kritis, namun operasi berhasil.
Beliau banyak mengeluarkan darah dan ternyata tumor ganas yang tumbuh di otak mama anda lebih rumit dari kelihatannya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya kita serahkan pada Tuhan yang Maha Esa” ucap dokter Philips lirih
Putu terdiam, ia merosot jatuh begitu saja, seolah tubuhnya tak mempunya tenaga
”Pa, istighfar pa, kita doakan mama dapat melewati semua ini"ucap Ridwan pelan
Putu terlihat shock, ia tak tahu harus berkata apa, hanya air mata yang mewakili perasaanya saat ini.
Putu sangat takut kehilangan wanita yang sudah mendampinginya itu selama lima puluh tahun, dia lah cahaya hidup Putu.
Karena kondisi Putu yang shock, akhirnya Ridwan membawakan kursi roda. seperti biasa papanya itu tetap bersikukuh menunggu mamanya keluar dari ruang operasi
Tak selang lama suster mendorong Ayu yang berada diatas ranjang untuk di bawa ke ruangan khusus, ICU, karena kondisi Ayu yang belum stabil dan butuh pengawasan ketat pasca operasi
Sudah seharian pasca operasi Ayu belum juga sadarkan diri. semua orang berjaga di ruangan tersebut, tak terkecuali dokter Philips dan Abraham Yang siap siaga di ruangannya,
Dua hari kemudian
Putu memandang sedih istrinya yang seolah nyaman memejamkan mata, air mata nya menetes tak terkontrol lagi, ia sudah membuang rasa malu, wibawa dan segalanya, hanya satu di hatinya kesedihan dan rasa takut ditinggalkan istri yang amat di cintai nya itu.
Dua hari sudah Ayu tak menunjukkan tanda-tanda akan sasar dari koma, namun Putu selalu setia menunggui nya di ruangan yang hanya berbatas tembok kaca.
Hari terus berlalu, tak terasa sudah dua Minggu Ayu masih koma tanpa ada perubahan dan selama itu pula Putu selalu setia menunggui istrinya.
Tubuh tua Putu pun terlihat makin kurus dengan wajah pucat pasi, berapa keras pun anak serta cucunya memohon memintanya untu pulang istirahat, namun Putu tak mengindahkan ucapan mereka,, putu hanya ingin disini, menemani istrinya hingga Ayu membuka matanya suatu saat nanti.
Putu mengelap wajah Ayu dengan handuk basah, ia selalu membersihkan wajah, tangan dan kaki istrinya itu mengelapnya dengan air hangat sambil berceloteh karena ia yakin istrinya bisa mendengarkannya.
__ADS_1
menceritakan masa lalu mereka hingga harapan serta perasaanya yang selama ini ia tak pernah ungkapkan pada Ayu.
Tiba-tiba jari tangan Ayu bergerak kecil, Putu terkejut, ia memegang tangan istrinya untuk memastikan, dan lagi jari tangan Ayu bergerak, dengan segera Putu memanggil suster , tak lama kemudian dokter Albert memeriksa kondisi Ayu, setelah beberapa saat akhirnya tim dokter keluar dari kamar rawat dengan wajah lega, namun tetap saja Ayu masih dalam pengawasan ketat team dokter
"Bagaimana kondisi istri saya dok? ”tanya Putu
”Istri bapak sudah sadar, tapi jangan banyak bicara dulu ya pak, beliau masih dalam tahap pemulihan”
”Baik dok, terima kasih”ucap Putu gembira, ia segera masuk ke dalam ruangan perawatan, nampak Ayu yang masih sedikit pusing,mengerjakan matanya beberapa kali, hingga bayangan wajah suaminya terpampang jelas di depan matanya
”Sayang”ucap Ayu lirih, Putu menempelkan jari telunjuknya sambil menggeleng, meminta Ayu diam
”Kata dokter kamu masih lemah, jadi bicara seperlunya saja, Terima kasih kamu sudah bangun, aku sangat khawatir sekali” ucap Putu menciumi punggung tangan istrinya itu
Putu yang gembira langsung mengabarkan Satria dan Bagus, sementara Ridwan sedang menuju ke sana.
”Assalamu'alaikum, mama Alhamdulillah mama sudah siuman" ucap Ridwan langsung berlari ke arah mamanya , Ridwan menangis seperti anak kecil sambil memeluk mamanya. Ayu menepuk lembut bahu putranya itu, berusaha menenangkan
”Ma, mama buat aku ketakutan, jangan seperti itu lagi ma” Isak Ridwan
"Anak mama tersayang, kamu menangis seperti saat kamu kecil, apa kata anakmu jika melihatmu seperti ini ha???” goda Ayu
”Mama..."Ridwan kembali pada kesadarannya, ia menghapus air matanya
”Baiklah kalau begitu, papa titip mamamu, papa mau sholat”ucap Putu pamit
Sepeninggalan Putu, Ayu meminta di kupaskan jeruk oleh anaknya itu, dengan telaten Ridwan mengupayakan jeruk untuk mamanya.
”Nak, mama harap kamu bisa menjaga papamu, sayangilah ia dan berikan perhatian melimpah padanya, ia memang terlihat orang yang keras, namun sebenarnya papamu orang yang sangat lembut dan penyayang.
Mama juga berharap kamu dan Bagus bisa saling mendukung dan membantu di dalam kesusahan maupun kesenangan kalian harus selalu bersama.
Mama percaya padamu nak, kamu bisa menjaga orang-orang yang mama sayangi.
Bersikap lembut kah pada keponakanmu, mama tahu kamu masih kecewa akan tindakannya di masa lalu, namun mama harap kamu sudah bisa melupakannya. sejak kecil ia sudah di tinggalkan oleh saudara dan kakak iparmu.Satria sebatang kara, Ia tak pernah merasakan kasih sayang orangtua dan hangatnya keluarga, hanya kalianlah kelurganya.
Mama bahagia , sangat bahagia melihat kalian hidup rukun, tak ada penyesalan. Allah sudah mengabulkan semua doa-doa mama”
”Ma, jangan berkata seperti itu, tanpa mama minta, Ridwan pasti melakukannya. sekarang mama istirahatlah, biar cepat sembuh.”ucap Ridwan menghalau perasaanya yang berkecamuk
”Mama sangat lelah nak, lelah sekali. rasanya mama ingin tidur panjang” ucap Ayu lirih lalu memejamkan matanya.
Kemudian........
__ADS_1
Tiiiiiiiiiiiiitttttt
Bunyi monitor menunjukkan garis lurus, mengagetkan Ridwan, ia seolah tak percaya, untuk sekian detik ia terkesima dan
”Suster kode red "teriak Ridwan...
Ridwan langsung melakukan tindakan untuk memulihkan detak jantung, Ridwan menempelkan defibrilator(alat kejut jantung), berkali kali namun detak jantung Ayu tetap berhenti.
Bagus yang baru saja tiba langsung menangis dan memeluk kakaknya yang terlihat frustasi
”Kak, ikhlaskan, mama sudah di panggil yang kuasa, cukup kak, cukup, kasian mama"Isak Bagus
Ridwan jatuh terduduk, ia bersujud dan menangis. Ridwan merasa gagal sebagai dokter dan sebagai anak
Sementara Satria memeluk erat tubuh tak bernyawa neneknya, kabar bahagia yang ia terima beberapa saat lalu justru berubah menjadi duka.
Sementara di tempat lain
Putu yang sebelumnya pamit akan sholat, ia tertidur saat sujud syukur selesai sholat.
kelelahan dan kurang tidur membuatnya langsung masuk dalam alam mimpi, ia bermimpi istrinya yang terlihat sangat cantik sedang duduk mengenakan pakaian putih
Ketika Putu menghampiri, ayu justru berjalan menjauh, tersenyum manis.
Beberapa kali Putu berusaha memanggil dan mengejarnya, namun Ayu semakin jauh, menoleh sejenak kearah Putu dan berucap tanpa suara
”Aku selalu memcintaimu”ucapnya, lalu menghilang membuat Putu terbangun dari mimpinya dengan air mata di sudut matanya
”Pak, maaf saya membangun kan bapak karena bapak berteriak-teriak memanggil nama seseorang” ucap seorang pemuda yang bekerja di rumah sakit itu
Putu hanya mengangguk dan tersenyum canggung, ia kembali teringat oleh mimpinya, tiba-tiba perasaanya tak enak, ia segera berlari menuju ruang perawatan istrinya dan betapa terkejutnya ia melihat anak serta cucunya sedang menangis, ia melewati begitu saja mereka dan melihat sebuah selimut putih menutupi tempat tidur Ayu
”Ridwan, kamu bagaimana? mamamu kenapa kamu tidur kenapa kamu tutup begitu, ia susah bernafas” ucap Putu marah, walau firasatnya sudah mengatakan ada sesuatu, namun Putu menepis semua,
"Pa, mama sudah pergi” ucap Bagus memeluk papanya
”Nggak, gak mungkin, mamamu sudah sembuh, jangan bohong” ucap Putu berusaha membuka penutup tubuh Ayu, dan terlihatlah sebuah wajah pucat yang terlihat sedang tidur pulas dengan senyum menghias wajahnya
Putu mendekati istrinya, memegang tangan Ayu yang mulai dingin, menyentuh wajahnya dan mulai panik
"Sayang, bangun, bangun sayang,,
jangan membuatku takut lagi, aku mohon bangun, bangun......” tangis Putu pecah, ia memeluk tubuh istrinya mengguncang tubuhnya berharap Ayu akan bangun namun Ayu tetap diam hingga keseimbangan tubuh putu hilang dan ia tak sadarkan diri sambil memeluk jasad istrinya
__ADS_1