Suami Sewaan

Suami Sewaan
Pulang


__ADS_3

"Pak Sardi mengikutimu karena ia kwatir padamu nak, mengapa kamu menangis dan permasalahanmu apa, ibu tak memiliki hak bertanya.


Pak Sardi rela memgikutimu karena mungkin ia teringat dengan mendiang anaknya yang frustasi lalu bunuh diri dengan cara berlari ke jalan raya" ucap wanita tua tersebut


Anggi tercengang ia menutup mulutnya yang terkejut mendengar sepenggal cerita tragis tentang anak pak Sardi tersebut, pantas saja pak Sardi mengikutinya


"Oh iya nama ibu, Karsem.


Kamu bisa memanggil ibu Kar seperti orang-orang biasa memanggil, namamu siapa cah ayu?"


"Anggi bu" Anggi berusaha tersenyum pada bh Kar walau suasana hati nya sedang kurang baik, bahkan bisa dikatakan buruk


"Ibu tinggal sebatang kara, anak ibu hilang ketika musibah banjir dan tak tahu kabar nya, ibu sengaja mendirikan pondok kecil ini di pinggir jalan sambil berjualan, agar ibu tidak merasa kesepian karena mendengar suara kendaraan lalu lalang" Bu Kar tersenyum, namun terlihat kesedihan di mata nya


"Apa kamu tidak di cari orangtua mu nak, berjalan sendirian seperti ini?" tanya Bu kar lagi


"Saya sudah tidak punya orangtua bu" Bu kar menatap Anggi dan membelai rambut nya


"Maaf ibu gam tahu, semoga orangtua mu di tempatkan di sisi- Nya, amiiinnnn"


"Aminnn bu, makasih"


"Oh ya, ibu sudah masak, tapi tidak selera makan.


Apa kamu sudi menemani orangtua sebatang kara ini? " tawar bu Kar penuh harap yang di balas Anggukan kecil Anggi


Mereka lalu makan, Anggi yang awalnya canggung mulai terbiasa, ibu Kar orang yang hangat dan menyenangkan, beliau juga banyak bercerita tentang hidupnya.


Walau mereka baru berkenalan dua jam yang lalu, tapi rasanya sudah lama kenal.


Tanpa ia sadari, ia jadi bercerita tentang masalahnya pada bu Kar


Anggi juga tak mengerti, mengapa ia bisa curhat tentang masalahnya pada orang asing yang notabane nya baru saja ia kenal


Mungkin karena bu Kar sosok yang lemah lembut seperti almarhum mendiang mama nya, sosok yang sudah lama meninggalkannya, sosok yang selalu Anggi rindukan


"Jadi seperti itu bu, Anggi keluar dari rumah sakit, berjalan tak tentu arah hingga bertemu dengan pak Sardi, dan selebihnya ibu sudah tahu"


Bu kar beberapa kali menepuk-nepuk punggung tangan Anggi, terlebih ketika Anggi tanpa sadar menitik kan air mata, bu Kar mengelap nya, terkadang membelai rambut Anggi, Anggi merasa seperti bercerita dengan almarhum mama nya.

__ADS_1


Dulu ketika Anggi belum menikah, ia sering bercerita pada mama nya, dan perlakuan mama nya sama persis sepertj yang bu Kar lakukan pada Anggi


Setelah mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya, Anggi merasa lega.


Bu Kar sengaja tak memotong ucapan Anggi, ia mendengar kan dengan tenang, terlihat ada kesedihan dan kesal di wajah nya


"Nak Anggi, sebagai wanita, ibu paham dan sangat tahu perasaan mu saat ini.


Ibu pun yang mendengarkan ikut sedih dan kesal.


Namun nak Anggi sebagai orangtua, pasti tak mau kamu punya masalah dan membuatmu berada dalam bahaya dengan berjalan sendiri saat pikiranmu sedang kacau.


Bisa saja ada orang jahat atau kamu kecelakaan karena tak memperhatikan jalan.


Ibu takenyalahkan mu nak, tapi lain kali bila ada masalah lebih baik kamu ambil wudhu dan sholat, adukan, adukan pada penciptamu semua masalahmu.


Allah maha atas segala nya, percayalah sama ibu, Allah pasti punya rencana di balik semua ujian yang kamu hadapi"


"Terima kasih bu, Anggi akan ingat pesan ibu"


"Terkadang kita merasa tak adil atau menderita, tapi selalu berbaik sangka lah pada Allah, Allah menyukai orang-orang yang sabar"


"Iya bu" ucap Anggi lirih


Sebagai wanita yang siap menikah menjadi yang kedua, kamu harus siap apapun keadaan nya, sekarang suami mu itu butuh dirimu, hadapi walah sakit dab pahit, jika kamu sudab tak sanggup jangan kamu buat hatimu memendam sakit dan sedih


Hidup ini terlalu indah, jika di habiskan untuk hal yang sia-sia.


Mengerti cah ayu" ucap bu Kar sambil menghapus air mata Anggi


Anggi makin sesegukan, ia tiba-tiba memeluk bu Kar dan menangis dalam pelukan bu Kar


"Menangis lah jika kamu ingin menangis, keluarkan semua perasaanmu, berjanjilah setelah hari ini kamu tidak akan menangis dan menjadi lebih kuat" ucap bu Kar lirih membiar kan Anggi menangis, menupahkan semua perasaan nya.


Pak Sardi yang sudab kembali, urung mengganggu mereka, ja memilih duduk di bangku panjang tempat sebelumnya Anggi duduk


Setelah beberapa saat tangis Anggi reda, menyisakan isakan kecil.


Bu Kar menuangkan air putih da. menyerahkan air tersebut pada Anggi

__ADS_1


"Minum lah nak, sudah jangan sedih lagi ya? "


Anggi mengangguk lemah, ia meneguk air putih yang di berikan oleh bu Kar


"Ibu tak tahu di mana rumah mu, sekarang sudah sore dan kamu pasti lelah.


Pak Sardi itu sudab kembali, biarkan beliau mengantarmu ya? ibu mohon"


"Apa Anggi masih boleh datang kesini lagi bu? " tanya Anggi menatap bu Kar penuh harap


"Tentu saja, gubuk ku selalu menerima kedatangan mu cah ayu" Bu Kar mencubit hidung bangir Anggi


Pak Sardi yang berada di luar pondok menjadi bingung mengapa mereka secepat itu menjadi akrab, padahal ia baru meninggalkan nya dua jam untuk sholat, makan siang dan mengambil motornya di pos jaga di mana ia pertama bertemu dengan Anggi


Anggi mencuci wajahnya, ia merasa sedikit lega, walah hatinya masih terasa sakit, namun suasana hatinya sudab membaik


Anggi lalu menghampiri bu Kar dan pak Sardi yang sedang berbincang-bincang


"Pak Sardi maaf sudah merepotkan bapak. saya mengucapkan banyak terima kasih.


Saya Anggi" ucap Anggi mengulurkan tanganya


"Gak apa-apa mba Anggi, sudah kewajiban saja, lain kali jangan begitu ya"


"Iya pak, maaf" Anggi menunduk merasa bersalah


"Bapak akan antar mba Anggi pulang ya,


dimana kamu tinggal? "


"Gak usah pak, Anggi sudah banyak menyusahkan bapak, biar Anggi bisa pulang sendiri" tolak Anggi merasa tak enak hati


"Bila kamu menolak bapak akan sangat kecewa, anggap saja bapak mengantar putri nya pulang, jangan lihat seragam yang bapak pake jika kamu canggung"


Anggi terlihat bingung, ia menatap bu Kar yang mengangguk.


Akhirnya Anggi pun mengangguk setuju


"Bu, Anggi pulang dulu ya bu, lain kali Anggi main lagi, masakan ibu enak banget, Anggi sampe kekenyangan"

__ADS_1


"Tentu saja, ibu tunggu. Sekarang kamu pulang dan istirahat ya, ingat pesan ibu"


"Baik bu"


__ADS_2