
Widya yang melihat kejadian itu langsung berlari kearah Satria sambil menagis
"Mas Satriaaaaa, bangun mas maafkan aku mas" ucap Widya berteriak histeris, ia di pegangi seorang pria karena takut Widya malah memperparah cidera yang dialami Satria
Ambulance dan polisi datang, lalu segera membawa Satria yang berlumuran darah menuju rumah sakit
Sepanjang jalan Widya hanya menangis, ia terlihat pucat pasi, menggigit bibirnya sendirj menahan sakit.
Sakit bukan karena luka di kakinya, namun sakit di bagian intim tubuhnya, tampa sadar darah mengalir dari sela-sela kakinya dan dia ambruk tak sadarkan diri
Tim medis segera mengeluarkan Satria, langsung menuju ruang pemeriksaan.
Begiti juga Widya segera ditangangi oleh pihak rumah sakit.
Polisi segera mencari identitas keduanya dab menghubungi pihak keluarganya
Kondisi Satria amat kritis, ia mengalami cedera parah pada bagian tengkorak kepalanya dan banyak mengeluarkan darah, sementara Widya ternyata pendarahan karena kanker serviks stadium akhir yang di perparah dengan beberapa luka di bagian alat vitalnya
Tak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Widya karena sudah menyebar kemana-mana
Pihak polisi menghubungi Putu melalui ponsel Satria yang entah bagaimana hanya layarnya saja yang pecah namun masih bs berfungsi
Sementara di tempat lain
Putu dan Ayu sedang asik bermain dengan cicit mereka, sudah seminggu yang lalu mereka datang, namun Ayu masih belum mau pulang karena selalu terbayang wajah cantik cicitnya itu
Sementara Anggi hanya tersenyum bahagia melihat anaknya bermain dengan kakek neneknya, ia sedang sibuk membersihkan piring bekas makan malam mereka, sementara Ridwan sedang berkencang dengan dokter Irine, dokter kandungan yang merawat Anggi.
Semenjak dokter Irine ditugaskan kakek Putu untuk merawat Anggi, hubungan mereka kiat dekat, dan Anggi berhasil membuat mereka dekat dan saling mengungkapkan perasaannya
Tiba-tiba ponsel Putu berbunyi
Putu menatap layar ponselnya, dahinya berkerut melihat nama yang tertera pada ponsel tersebut
Ia membiarkan ponselnya berbunyi hingga akhirnya berhenti, membuat semua orang menatapnya heran, tak terkecuali Ayu istrinya
"Siapa kek? tanya Ayu penasaran
__ADS_1
"Satria" lirih Putu sambil melirik kearah Anggi yang berpura-pura taj mendengar
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi kembali, Ayu memberi kode pada putu untuk mengangkatnya
"Hallo Assalamu'alaikum" ucap Putu berusaha setenang mungkin
"Wa'alaikun salam pak, apa benar ini kakek dari saudara Satria? " tanya polisi
"Benar, saya kakek kandungnya, ada apa ya? anda siapa? mengapa ponsel cucu saya bersama dengan anda?" tanya Putu beruntun membuat Anggi dan Ayu menatap kearah Putu
"Saya dari kepolisiam, ingin mengabarkan jika cucu anda sedang di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan" ucap si polisi membuat Putu yang sedang berdiri langsung duduk lemas, Ayu menghampiri suaminya dan menekan loudspeker untuk ikut mendengarkan
"Pa, apa bapak masih di sana? " tanya si polisi karena Putu lama terdiam
"Bagaimana kondisinya cucu saya? " tanya Putu kembali kesadarannya
"Saat ini cucu bapak sedang dalam penanganan dokter, namun kondisinya agak mengkhawatirkam, saya harap bapak segera menuju rumah sakit P "nanti alamatnya saya akan kirim"ucap si polisi lalu mengakhiri panggilan teleponnya
Ayu langsung menangis sejadi-jadinya, ia takut cucu kandungnya itu akan meninggalkan mereka, walau ia kecewa dengan sikap Satria, namun ia tahu jika Satria tumbuh tanpa kasih sayang karena ia ada andil di dalamnya, saat mengusir putrinya pergi dan hidup susah di luaran sana hingga meninggal dunia
Sedang Anggi berusaha menopang tubuhnya di meja daput, air matanya berlinang, ia berusaha menahan air mata itu dengan menggigit bibir nya, namun tak ayal ia menangis juga
Bagaimanapun jahatnya Satria padanya, Anggi tak bisa membohongi hati nuraninya, bahwa ia sangat mencintai dan masih mencintai Satria hingga kini
Ridwan yang baru kembali dengan Irine menatap bingung melihat kedua orangtua angkatnya dan Anggi menangis
"Papa, mama, Anggi kenapa kalian menangis? " tanya Ridwan langsung menghampiri kedua orangtuanya, sementara Irine membantu Anggi duduk di sofa, wajah Anggi pucat pasi
"Keponakanmu kecelakaan, ia kini krits Wan" ucap Putu bergetar
"Ayo pa, kita kejakarta sekarang" ucap Ridwan langsung meminta anak buahnya untuk menyiapkan kendaraan
"Aku ikut" ucap Anggi bergetar
Semua mata memandang ke arah Anggi dengan bingung
"Aku Ikut, kek, aku mau lihat mas Satria" ucap Anggi mengulang ucapannya
__ADS_1
"Apa kamu yakin cu? " tanya Putu memastikan
"Iya kek, bagaimanapun, Aisya harus bertemu papa nya" ucap Anggi sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya
Putu tertegun sejenak, namun ia akhirnya mengangguk
Dua mobil langsung melesat membelah kegelapan malam menuju rumah sakit di kota
Selama ini Anggi masih berada daerah jawa barat yang hanya memakan waktu satu setengah jam perjalanan, semua orang tegang, tak terkecuali Anggi, ia terus saja menangis khawatir dengan kondisi pria yang ia cintai sekaligus papa dari putrinya, Aisya
"Sayang, doakan papamu baik-baik saja ya? sebentar lagi kita akan bertemh papa" bisik Anggi sambil mencium pipi gembil putrinya
Suasana di dalam mobil terlihat tegang dengan raut wajah kesedihan dan khawatir, Mobil melaju cepat, tak seorangpun merasa terganggu, mereka ingin segera sampai dinrumah sakit, tempat Satria. di rawat
Satu Jam kemudian
Semua orang langsung keluar dari mobil begitu sampai di lobby rumah sakit, mereka langsung menuju rumah sakit, polisi menyambut mereka, dan hanya putu yang di perkenankan masuk melihat kondisi Satria
Setelah berbicara dengan dokter, Putu terlihat menandatangani sesuatu, wajahnya sulit untuk di tebak, ia lalu melangkah keluar menemui istri anak dan cucu nya yang tak sabar menanti kabar dari Putu
"Satria akan segera di operasi, perbanyak doa dan serahkan semua pada Allah" ucap Putu lirih
Anggi merasa lututnya lemas, bukan ini yang ia mau saat meninggalkan Satria, ia hanya ingin Satria menyadari kekeliruannya dan hidup bahagia
Anggi menangis tersedu-sedu
"Istighfar, dan doakan Satria kuat, bisa melewati semua ini" ucap Ridwan dan Irin memeluk Anggi
Sementara Putu memapah tubuh Ayu yang lemah , mereka semua duduk di ruang tunggu
Tak lama kemudian suster memanggil keluarga Satria, Satria di bawa keruang operasi. Mereka menunggu dengan cemas di ruang tunggu yang di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk keluarga yang menunggu pasien di operasi
Semua wajah cemas, Anggi dan ayu terus saja menangis, sementara Aisya sudah di bawa pulang kerumah Anggi beserta baby sitter yang merawatnya
"Mas, kamu harus kuat mas, aku disini dengan anakmu mas, kamu harus lihat betapa cantiknya anak kita.
Aku janji tidak akan pergi lagi menghindarimu, jika memang kita harus berpisah, maka kita akan berpisah secara baik-baik, demi anak kita" ucap Anggi dalam hati
__ADS_1