Suami Sewaan

Suami Sewaan
Pergi Darimu II


__ADS_3

"Hari ini saya akan pergi menenangkan diri, kemana dan dengan siapa, kamu tak perlu tahu, maaf. Jangan juga kamu memberitahu mas Satria atau mas Brams.


Saya menyampaikan ini padamu, anggap saja kamu tidak tahu jika mereka menanyakan mu, saya memberitahu kamu karena saya percaya kamu" Prapti mulai menangis, ia menyayangi Anggi seperti saudaranya sendiri


"Kamu sangat tahu kondisi rumah tangga saya.


Saya butuh menenangkan diri, jadi please rahasiakan ini semua" ucap Anggi menangkup kedua tangannya kedepan dada


"Prapti akan merahasiakan ini semua, Prapti janji. Ibu jaga kesehatan disana dan juga anak ibu"


"Saya sudah anggap kamu adik saya, mulai sekarang kamu panggil mba aja, ini ponsel untuk kamu disana terdapat nama saya, nomer ponsel baru yang akan saya gunakan saat menenangkan diri, jadi nomer lama akan saya matikan, simpan baik-baik" ucap Anggi menyerahkan ponsel keluaran baru pada Prapti


Prapti bangkit dan memeluk Anggi erat, ia anak yatim piatu yang di pekerjakan Anggi sejak masih sekolah menengah atas


"Mba, Prapti pasti kangen mba, mba makan yang teratur ya"


"Pasti, makasih ya" ucap Anggi parau, mereka lalu berpelukan kembali dalam tangis haru


"Anggi kita harus pergi sekarang, aku khawatir jika terlalu lama maka hatimu akan goyah" Ridwan menepuk pelan bahu Anggi


"Tolong tunggu sebentar" ucap Prapti berlari ke dapur, ia membuatkan sandwich kesukaan Anggi dan membuatkan susu hamil yang ia beli kemarin, menempatkan sisanya pada tupperware dan menyerahkannya pada Anggi


"Mba ini sandwich kesukaan mba, dimakan ya dan itu susu buat mual muntah, jaga kesehatan ya mba" ucap Prapti memeluk Anggi lagi, ia juga mengantar kepergian Anggi sampai depan pintu


Anggi menghapus air matanya, rasanya berat meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati dalam suka dan duka, ditambah harus meninggalkan suami yang di cintai nya segenap jiwa raganya


Sepanjang perjalanan Anggi tak bicara, ia hanya menatap kosong jalanan di depannya, sesekali terlihat ia menghapus airmata yang merembes keluar dari sudut matanya


Ridwan hanya terdiam tak berdaya, walaupun ia di juluki dokter jenius, namun dalam urusan wanita Ridwan merasa bodoh dan tahu apa-apa, ia hanya melirik sesekali kearah Anggi, ia merasa sakit melihat adik angkatnya itu amat menderita


Satu jam Kemudian terlihat nafas teratur Anggi, wanita malang itu tertidur, sesekali terdengar ia terisak bahkan dalam tidurnya


Ridwan menepikan kendaraannya di sebuah supermarket di pinggir kota, beruntung hari ini jalan toll tidak macet sehingga hanya butuh satu setengah jam saja mereka sudah berada dipinggiran kota


Ridwan turun dengan perlahan, ia Membuka jendela mobil untuk membiarkan angin masuk karena kunci mobil sengaja ia cabut untuk menghindari kemungkinan yang terburuk, tak boleh ada kesalahan dalam rencananya

__ADS_1


ia tak ingin Anggi mengambil kesempatan selama ia berda di supermarket dan melarikan diri


Jika itu terjadi kemungkinan terburuk mama dan papa angkatnya akan menggantungnya


Saat ini walau ia meninggalkan Anggi dalam kendaraannya, namun Ridwan menguncinya dan membuka kecil beberapa jendela mobilnya yang mustahil bisa di lalui oleh Anggi


Ridwan membeli beberapa kebutuhan dan tak lupa juga susu untuk Anggi, ia langsung bergegas membayar barang belanjaannya ke kasir setelah itu ia kembali ke kendaraannya


Nampak Anggi masih tertidur pulas, mungkin sudah beberapa hari ia sulit tidur karena permasalahannya


Ridwan memasukan semua barang belanjaannya ke dalam bagai mobilnya, lalu menaruh jeruk di bangku belakangnya


Ia keluar kembali dan meraih ponsel dalam saku, Ridwan menghubungi seseorang dan terlihat serius


"Aku sudah dalam perjalanan, apakah kamu sudah mempersiapkan semuanya? tenang saja, kamu tetap di dihitung bekerja dan digaji, tugasmu hanya merawat cucu pemilik rumah sakit tempat kita bekerja"


"Baik dokter Ridwan"


"Ah satu lagi, rahasiakan apapun yang kau lihat dengar dan tahu, jangan banyak bertanya, apa kamuengerti dokter Irine? " tanya Ridwan memastikan


"Baiklah " Ridwan langsung memutuskan panggilan teleponnya


Ridwan berjalan menuju kendaraannya, lalu menjalankannya untuk meneruskan perjalanan mereka yangbtertunda, butuh beberapa kilo lagi akan sampai di tempat tujuan.


Setelah satu jam akhirnya mereja sampai disebuah villa di tengah kebun teh yang membentang luas


Disisi kanan Vila terdapat sungai yang mengalir dengan air yang jernih dan disisi kanan terdapat bukit indah


Ridwan keluar dari kendaraannya, ia memasukkan barang-barang bawaan mereka, lalu berdiri di depan mobil untuk menghisap rokok, sebenarnya Ridwan bukan perokok, namun karena gugup ia selalu merokok untuk menghilangkan gugupnya


Sudah sejak lama ia mencintai dokter Irine, itu lah alasan mengapa ia membawa dokter Irine dalam misinya kali ini, selain karena ia tak bisa masuk kerja dalam jangka waktu lama, ia juga ingin dekat dengan dokter Irine serta ia percaya bahwa Irine bisa merawat Anggi dengan baik


"Mas, kita dimana? apa sudah sampai? "tanya Anggi yang baru saja terjaga


"Ridwan menghampiri dan membukakan pintu untuk Anggi

__ADS_1


Anggi berjalan bingung, namun tiba-tiba ia berteriak senang


"Mas disini indah banget, subhanallah mas, indahnya tempat ini, ada sungai, dan itu kebun teh


"Apa kamu menyukainya? " tanya Ridwan tersenyum senang


"Tentu saja Anggi suka, sukaaaa bangettt" ucapnya melebarkan tangannya menghirul banyak-banyak udara dalam rongga paru-paru ya


Ridwan bernafas lega, setidaknya ia bisa melihat Anggi melupakan masalahnya walau sejenak, ia merindukan Anggi yang ceriah dan penuh senyum seperti beberapa tahun lalu


"Mas, Anggi laper" ucapnga sambil memegangi perutnya


"Hahaha pasti keponakan mas di dalam sana sudab lapar ya, ayo, oh ya sebentar" Ridwan membuka pintu kursi penumpang lalu meraih kresek berisi jeruk dan menyerahkannya pada Anggi


"Makan itu dulu sambil menunggu mas masak" ucap Ridwan menyerahkan sekresek jeruk pada Anggi


"makasih mas" Mata Anggi berbinar melihat jeruk di tangannya, ia membuka jeruk tersebut dan memakannya dengan nikmat sepertinya jeruk itu sangat manis


Ridwan yang sedang memasak memperhatikan Anggi sambil tersenyum,


ia melihat , ia heran sendiri mengapa Anggi bisa memakan jeruk sebanyak itu dengan cepat, padahal pemjaha swalayan mengatakan jika rasa jeruk itu masam manis tapi melihat ekspresi Anggi, ia jadi penasaran


Ridwan mendekati Anggi yag masih asik menikmati jeruknya


"Mas mau? enak mas seger" ucapnya sambil menyodorkan jeruk yang sudah dj kupas pada Ridwan


Ridwan langsung memakannya tanpa berfikir apa-apa


Tiba-tiba


"Aaaaarrrgggg pffffftttt asemmmmmm" teriak Ridwan langsung berlari ke toilet dan membuangnya disana


Anggi tak henti-hentinya tertawa melihat ekspersi Ridwan yang kelabakan karena masamnya jeruk yang ia makan


"Mas, mas, namanya orang hamil itu suka yang masam-masam untuk menghilangkan mualnya"ucap Anggi masih dengan tawanya

__ADS_1


Sementara Ridwan terlihat mengambil minuman cola dari lemari pendingin dan meminumnya, ia masih terlihat bergidik keaseman


__ADS_2