Suami Sewaan

Suami Sewaan
Rawat II


__ADS_3

"Tidak sepenuhnya, kamu hanya sibuk memikirkan kelemahan mu dan rasa takut mu.


Satria sejak dulu hingga kini selalu mencintaimu, hanya ia mencintaimu dengan cara yang berbeda sepertj ia mencintai wanita itu.


Saat ia meninggalkanmu karena ia tidak mau kamu terluka dan takut karena ia mengendarai kendaraan nya ugal-ugalan, demi mencari wanita itu.


ia tahu kamu wanita tegar dan dewasa, jadi ia berharap kamu mengerti keputusannya.


Adapun perubahan sikap Satria karena ia kwatir dua nyawa yang sangat berharga bagi nya hilang, ia kwatir keselamatan Widya yang sedang hamil besar.


Apa sampai di sini kamu mengerti??"


Anggi mengangguk pelan menelaah setiap perkataan Ayu, ia juga percaya Satria bukan pria kasar, namun tetap saja sebagai wanita dan istri, hati nya sakit


"Apa kamu sudah menemukan keberadaan wanita itu? "


"Maksud kakek mba Widya istri mas Satria? "


"Aku tak peduli siapa namanya nak, kakek hanya mau berpesan satu hal padamu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, kepergian wanita itu ada hubungan nya dengan mu" Putu segera mencari informasi tentang Widya, dan tak butuh waktu lama ia sudan mendapatkan semua informasi beserta bukti ditangannya.


Putu tidak akan mengatakan apapun pada Anghi, karena menurutnya kini kesembuhan Satria lebih penting ketimbang mengurus wanita itu.


Namun keputusannya kini akan ia sesali di kemudian hari.


Ponsel Anggi bergetar, Brams mengabarkan jika Satria sudah sadar dan kini ia memaksa untuk bangun.


Putu, Anggi dan Ayu bergegas menuju ruang rawat Satria.


Terlihat Satria yang meronta di pegangi oleh dua orang anak buah Brams


"Lepasin gue bang**, lepasin gue, gue mau keluar dari sini" teriaknya penuh emosi


Anggi langsung berlari mendekati Satria di ikuti Putu dan Ayu


"Mas, sabar mas, kamu kan lagi sakit"

__ADS_1


"Kamu istri macam apa? suami lagi sibuk cari Widya kamu malah asik berdua dengan pria lain"


"Pergi aku gak butuh istri macam kamu, kamu juga yang menyebabkan Widya ku pergi meninggalkan ku" teriak Satria sambil menunjuk-nujuk wajah Anggi


"Mas, apa. maksud kamu? aku salah apa mas? "


"Hahaha, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu berdua dengan laki-laki iti di kamar"tunjuk Satria pada Brams yang berdiri dekat pintu


"Aku sama mas Brams gak berbuat apapun"


"Itu hanya pembelaan orang yang sudah tertangkap basah, apa kamu juga yang membuat Widya meninggalkanku?


kamu yang menyuruhnya pergi kan?


Apa kamu tahu aku sangat mencintai Widya


Aku tak bisa hidup tanpa dia


Dan kamu datang untuk menghancurkan rumah tangga kami,


Ayu yang mengerti bagaimana perasaan Anggi saat ini memeluk cucu nya tersebut.


Anggi merasa hati nya di cabik-cabik, sakit hingga ia merasa sulit bernafas, ia merasa seperti di hempaskan dari ketinggian, hancur berantakam.


Suami yang ia sangat cintai memilih tak percaya padanya, bahkan menudingnya berbuat sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan.


"Cukup mas, cukuuuuuuppppp...


Apa kau sudah puas menuduhku dengan semua tuduhan mu yang palsu itu?


Ya benar aku di kamar dengan Brams, tapi mas Brams datang karena aku sakit


Kamu tahu mengapa aku sakit? pernah kah kamu bertanya bagaimana nasibku setelah kamu tinggalkan di bandara seperti wanita yang di buang pasangan nya, jika saja saat itu tak ada pak Jamal, apa kamu pikir aku bisa utuh pulang kerumah?


Mas Brams yang membantu ku kamu tuduh tidak-tidak, kemana kamu saat aku butuh??

__ADS_1


Dimana peran suami?? " teriak Anggi menangis tersedu-sedu.


"Kamu tuduh aku yang meminta Widya pergi? apa kamu punya bukti mas? apa kamu tidak melihat bukti-bukti yang di tinggalkan Widya lantas menuduhku seenaknya, aku bukan wanita picik, seharusnya kamu lebih tahu dari siapapun.


Maaf jika kehadiranku menghancurkan rumah tanggamu, aku minta maaf.


Tolong lepaskan aku, aku tak bisa hidup dengan laki-laki yang tak bisa percaya padaku" ucap Anggi berlari keluar ruang rawat sambil menangis


"Anggi maafkan mas" teriak Satria, namun Anggi sudab terlanjur sakit hati, ia memilih terus berlari meninggalkan tempat itu


"Brams tolong jaga cucu ku" ucap Putu menatap Brams yang terlihat ragu-ragu, ia tak mau krhadirannya malah memperkeruh keadaan, namun ia juga merasakan amarah yang amat besar pada Satria


"Loe emang laki-laki bodoh, Anggie sangat mencintai loe, jujur gue mencintai dia, tapi dia menganggap gue cuma kakak, seharus nya gue rebut Anggi sebelum jatuh sama lelaki banci model loe" geram Brams berjalan keluar lalu ia berhenti dan menoleh ke arah Satria


"Sebaiknya loe cari info yang benar, wanita macam apa yang loe cari seperti orang gila.


Loe akan menyesali semua nya suatu saat nanti" ucap Bram lalu berlari mengejar Anggi.


"Brams, berhenti.. bang**t apa maksud loe? " terial Satria


Namun Brams sudah menghilang di balik pintu, kini tinggal Putu, Ayu dan Bagus, serta kedua orang anak buah Brams yang masih memegangi tangan Satria


"Kakek sungguh kecewa padamu, kakek pernah mengatakan padamu jangan pernah sakiti Anggi, namun kini dengan mata krpala sendiri kakek melihat kelakuan mu"


"Kek, maafkan aku kek, aku hanya sedang bingung, takut dan panik. Aku tak bermaksud menyakiti Anggi"


"Namun kamu melakukan nya, kamu menghancurkan hatinya nak, biarkan ia untuk saat ini bersama Brams, kakek sudah mengenal mereka, yang di katakan Brams benar adanya, Brams memang mencintai Anggi, namun Anggi tak pernah mencintainya.


Yang dicintai Anggi hanya kamu"


"Satria menarik rambutnya sendiri frustasi" istri pertama nya pergi entah kemana dan kini ia malah menggiring istri keduanya untuk pergi


"Kakek datang kesini ingin memberitahukan kamu sesuatu" ucap Putu menyerahkan amplop berwarna coklat pada Satria


Terlihat wajah bingung diwajah Satria, ia menatap Putu yang mengangguk.

__ADS_1


Perlahan Satria membuka amplop coklat tersebut, matanya membulat sempurna membaca isi dalam amplop tersebut


__ADS_2