Suami Sewaan

Suami Sewaan
Fitnahmu Membunuhku II


__ADS_3

"Jangan kamu sia-siakan Anggi, dia wanita paling tulus dan baik yang pernah kakek kenal.


Cintai dan sayangi dia, kamu sudah membuatnya terluka, dan jangan sampai ia terluka untuk kesekian kali, bukankah kamu Menikahiny untuk melindunginya dari mantan suami nya dan orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya?


Jika kamu berprilaku seperti itu, apa bedanya kamu dengan mereka.


Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari" ucap Puti menepuk punggung cucunya lalu keluar dari kamar Anggi, membiarkan Satria merenungi setiap perkataannya


"Sayang, maafkan mas ya? mas sudah kasar dan bersikap egois.


Maafkan mas juga karena salah sangka padamu, sayang bangun, jangan buat mas kwatir" ucap Satria tak henti-hentinya memanggil istrinya dan menciumi punggung tangan Anggi


perlahan Anggi membuka matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, alisnya tertaut menahan pusing yang ia rasakan.


Sudah beberapa hari ia merasa tubuhnya tak enak badan, lelah, letih, nafsu makan menurun dan terus mual muntah


"Masss.... " ucap Anggi lirih yang baru menyadari keberadaan suami nya tersebut


"Ya sayang, mas disini.


Yang mana yang sakit? apa kamu pusing? biar mas yang pijit kening kamu"ucap Satria lembut sambil membelai rambut Anggi


"Aku gak kenapa-napa mas, cuma masuk angin aja" ucap Anggi tak percaya ia memandang kembali Satria yang kini berada di sisinya menggenggam tangannya


"Anggi sayang, nenek buatkan kamu susu hangat sama cemilan kesukaan kamu" ucap Ayu membawa nampan di tangannya


"Makasih nek, jangan cape-cape, biar Prapti yang kerjakan, nenek tinggal perintahkan saja"


"Nenek gak merasa cape demi kamu dan cicit nenek" ucap Ayu memandang perut Anggi yang masih rata


"Cicit? maksud nenek?, apa? " Anggi memandang neneknya yang mengangguk sambil tersenyum, ia lalu memandang takjub ke arah perutnya yang masih rata, mengelusnya pelan berharap ada gerakan di sana walau masih hamil muda, lalu beralih memandang Satria yang masih terbengong


"Mass?? "panggil Anggi sumringah, ia sangat bahagia dengan kabar kehamilannya

__ADS_1


"Dasar cucu bodoh, aku malu memiliki cucu yang daya tangkapnya seukuran pentium satu" gerutu Ayu sambil menyuapi lasagna kesukaan Anggi


"Maksud nenek? Anggi hamil? " tanya Satria seolah tak yakin dengan pertanyaannya sendiri


"Ya tuhan, mengapa cucuku sebodoh ini? Apa ini baru pertama kali istrimu hamil?


Apa kamu lupa bagaimana tanda-tanda kehamilan? parah, tak terselamatkan" dumel Ayu yang di balas tawa cekikikan Anggi


Anggi sangat bahagia dengan kehadiran buah hati dirinya dan Satria, ia berharap anaknya ini bisa makin mengeratkan cinta dan hubungan mereka berdua


"Mas? kamu kok malah diam? apa kamu gak bahagia mendengar kabar bahagia ini? " Anggi membrondong Satria dengan pertanyaan


"Aku, aku bahagia" ucap Satria ragu, membuat alis Anggi berkerut, alih-alih bahagia seperti ucapan Satria, Anggi malah melihat rasa terkejut, bingung dan curiga di mata Satria


"Berapa bulan tepatnya usia kandunganmu? " Tanya Satria to the point pada Anggi, seolah ia tak percaya jika itu hasil buah cinta nya sendiri


"Apa maksud pertanyaan kamu? nenek tak suka dengan intonasi perkataanmu.


Apa kamu tak bahagia mendengar Anggi hamil? atau kamu kecewa? " selidik Ayu menatap tajam Satria


"Bukan, bukan begitu sayang, mas hanya belum siap saja, mas perlu mencari Widya dan anak mas"


"Deg"


Hati Anggi terasa sakit seperti di tusuk seribu jarum, bagaimana mungkin Satria malah mengatakan itu seakan keberadaan nya dan anak dalam kandungannya tidaklah oenting dibandingkan oleh Widya, Anggi nomer yang ke sekian prioritasnya bagi Satria


"Jadi kamu tidak mau mengakui anak ini? jika kamu tidak menginginkan anak ini, biarkan aku sendiri yang merawatnya, jangan paksa aku untuk mengugurkannya" dengan suara bergetar dan berat Anggi akhirnya berkata dengan air mata yang deras menetes


"Bukan, bukan seperti itu, mas gak bermaksud seperti itu, kamu salah paham" Satria berusaha memeluk Anggi menenangkannya yang mulai menangis histeris


"Bukan maksud mas bagaimana, perkataan mas sama saja berarti mas tidak menginginkan anak kita, anak seorang istri sirih, dan istri serta anakmu itu lebih penting dibandingkan aku? harusnya aku tak pernah menggantungkan harapanmu terlalu tinggi, kamu hanya lah ingin menyelamatkanku dari Andi sebagai suami yang sewa" Anggi makin larut dalam kesedihan, batinnya menangis, jiwanya meronta melihat ketidak adilan suami sirihnya itu


"Kamu salah paham, aku tak pernah mengatakan itu" Satria berusaha menjangkau tangan Anggi, namun Anggi menepisnya.

__ADS_1


Ayu yang sedang dari tadi menahan emosinya langsung memegang tangan cucu kandungnya tersebut


"Kamu kali ini benar-benar keterlaluan, apa dasar apa kamu memperlakukan cucuku seperti ini? tega kamu, jika aku tahu, aku memiliki cucu kandung sejahat kamu, lebih baik aku tak pernah mencarimu" teriak Ayu tak kalah histeris memangis memeluk Anggi yang terlihat terpukul


"Nek, nenek juga jangan salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya belum yakin" ucap Satria mengacak-acak rambutnya sendiri karena telah melukai dua wanita yang ia sayangi secara bersamaan


Satria tak bermaksud seperti itu, ia hanya masih di landa cemburu dan curiga akan kedekatan Anggi dan Brams, kini Anggi berbadan dua, belum clear masalah yang lama tentang keraguannya tentang kesetiaan istri sirihnya itu, kini malah ia dihadapkan kenyataan bahwa Anggi hamil.


Satria saat ini hanya berfikir bagaimana dia bisa segera menemukan Widya dan anaknya, bukan berarti Anggi bukan menjadj prioritasnya, ia hanya berharap Anggi bisa memahami perasaannya saat ini, egois memang kedengarannya


"Sebaiknya kamu keluar dari kamarku mas, keluaaaaarrrr, cepaaaattt keluaaarrr" teriak Anggi kalap.


Anggi melempar apa saja yang berada di sampingnya sambil menangis pilu, membuat hati Ayu makin tersiksa melihat penderitaan Anggi


"Pergilah, sebelum nenek bertindak nekad padamu" ucap Ayu dingin dengan pandangan penuh kebencian


Putu dan Ridwan yang mendengar keributan dari kamar Anggi, langsung mendatangi kamar Anggi yang sudab berantakan, melihat istrinya dan cucu Angkatnya menangis tersesu-sedu sambil berpelukan


Sementara Satria masih terpaku diam di tempatnya ia berdiri, pelipisnya mengeluarkan darah segar, terkena lemparan vas bunga yang di lemparkan Anggi


"Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang kamu lakukan Satria??? " teriak Putu murka


pasalnya ia tak pernah melihat istrinya menangis sepilu itu terlebih kondisi Anggi tak beda dengan Ayu, mereka menangis sambil berpelukan, seolah sesuatu yang besar baru saja terjadi


Putu sangat takut Ayu kembali depresi seperti tiga puluh tahun lalu saat mereka mendapat berita meninggalnya anak dan mantu mereka


Ridwan maju dan mengangkat kerah baju Satria, ia menyeret Satrja keluar dari kamar Anggi


Ridwan melayangkan bogem mentah ke wajah Satria beberapa kali,namun Satria tak melawan, ia hanya menunduk sambil menangis menyadari kesalahan fatalnya


"Udah gue bilang loe jangan buat ade gue sedih, tapi loe malah buat mama dan Anggi nangis" Ridwan meluapkan emosinya, hingga tangan Putu menahannya


"Pa, dia sudah menyakiti mama dan Anggi" protes Ridwan pada ayah angkatnya

__ADS_1


"Biarkan ******** kecil itu perfikir atas kesalahannya, sebaiknya kamu periksa kondisi Anggi dan mama angkatmu" pinta Putu


Ridwan tersadar, ia lebih baik memeriksa Anggi dan ibu angkatnya, daripada mencari tahu penyebab kedua wanita yang ia sayangi tersebut menangis histeris seperti itu


__ADS_2