Suami Sewaan

Suami Sewaan
Anggi Yang Malang II


__ADS_3

Widya menghela nafas panjang.


Sebagai wanita ia membenci kekerasan yang menimpa Anggi. Niat Widya semakin bulat untuk membuat mantan suami Anggi menjauh selamanya, di samping memang rencananya. tapi ia merasa harus secepatnya bertindak. Kini prioritas rencananya bukan untuk mendapat keuntungan dari Anggi, tapi lebih menolong Anggi, di samping itu Widya percaya setelah kepergiannya Anggi bisa merawat suaminya lebih baik dari dirinya.


Widya membuatkan Anggi bubur untuk Anggi karena bibir Anggi yang sobek sehingga akan memudahkan Anggi makan., Setelah matang, ia berjalan menuju teras belakang rumah yang terlihat dari dapur


Widya duduk di teras belakang rumah Anggi, ia menikmati suasana asri rumah Anggi, hingga akhirnya ia tertidur di kursi malas Anggi karena kelelahan.


Tinah, pembantu Anggi lalu menghampiri Widya, ia enggan mengganggu Widya yang terlihat lelah terutama di usia kehamilannya yang sudah menginjak tujuh bulan.


Tina menyelimuti Widya dengan selimut, lalu membuatkan teh madu. kemudian ia berjalan menuju kamar majikannya. Disana ada Prapti yang menunggui Anggi dengan wajah sedih.


Anggi menggeliat namun langsung merintih menahan sakit di punggungnya. Tinah buru-buru menghampiri Prapti yang duduk di tepi rajang


"Bu sakit ya? makan dulu ya bu, trus minum obat, tadi bu Widya sudah memasakkan bubur buat ibu" ucap Tinah


"Dimana Widya mba Tinah? " tanya Anggi lirih sambil menggigit bibir bawahnya


"Itu bu, ibu Widya nya tertidur di teras belakang, saya gak berani membangunkan karena bu Widya terlalu lelah"


"Ah baiklah, sekarang jam berapa sekarang Prapti? sudah berapa lama saya tertidur? "


"Ibu sudah tertidur selama empat jam, sekarang jam setengah lima" jawab Prapti


"Astaga saya tidur atau pingsan ??? "gumam Anggi lirih


"Ibu sehabis minum obat tertidur, ibu harus banyak istirahat supaya cepat pulih lukanya" ucap Prapti yang di balas Anggukan Tinah rekannya

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ponsel bunyi


Suaranya berasal dari dalam tas Widya


"Apa kalian dengar suara ponsel berdering? "


"Iya bu, sepertinya berasal dari tas ibu Widya. sudah sejak tadi bunyi, saya tidak berani mengangkat atau memberikan ponsel tersebut pada bu Widya yang tertidur" ucap Prapti


"Tinah tolong ambilkan tasnya bu Widya"


Tina lalu mengambil tas Widya lalu menyerahkannya ke Anggi.


Ponsel Widya terus saja berbunyi, Anggi berfikiran jika itu Satria suami Widya yang khwatir dengan keadaan istrinya


Anggi nampak ragu-ragu mengangkat panggilan telepon dari Satria


"Hallo Assalamu'alaikum , sayang kamu dimana? kamu kenapa gak angkat-angkat telepon mas sayang??? mas khwatir" cerocos Satria di ujung telepon


Anggi terdiam, ia merasa sakit mendengar pria yang di cintai nya begitu mencintai istrinya.


"Ya Tuhan, bahagianya Widya di cintai mas Satria begitu besar. Widya wanita yang sangat beruntung"gumam Anggi dalam hati hingga tak sadar air matanya menetes mengingat apa yang terjadi padanya, ia justru merasa seperti di neraka karena ulah mantan suaminya


"Hallo, hallo sayang.. kok diem aja? "


"Ah ma.. maaf mas ini Anggi"ucap Anggi canggung


"Anggi? kenapa kamu yang angkat telepon Widya? kemana dia? apa yang terjadi dengan Widya? Aku gak akan maafin kamu jika...." Anggi langsung memotong ucapan Satria, ia tak suka Satria salah paham padanya

__ADS_1


"Istrimu tidak kenapa-napa mas, dia sedang tertidur, aku gak tega bangunin karena ia pulas sekali, datanglah ke rumahku" ucap Anggi lalu memutuskan panggilan telepon Satria


Hatinya terasa nyeri, mengapa hidup terasa tak adil padanya.


Mengapa ia merasa sakit melihat cinta Satria yang begitu besar pada Widya


mengapa, mengapa dan mengapa?


Anggi mulai menangis menumpahkan rasa isi hatinya


"Bu, ibu baik-baik saja? apa ibu ada yang sakit? bagian mana biar Prapti kasih salep lagi. Atau kita lebih baik ke dokter, biar luka ibu dapat perawatan yang lebih baik" ucap Prapti panik melihat Anggi yang mulai sesegukan menangis, ia berfikir Anggi menangis karena luka yang di deritanya


"Iy Bu, kita ke dokter ya??? " bujuk Tinah menimpali


"Aku baik-baik aja Tinah, Prapti, tolong ambilkan aku air hangat dan madu" ucap Anggi di sela-sela tangisnya


Tinah lalu bergegas menuju dapur, sementara Prapti mengambil tisu dan menghapus wajah Anggi yang penuh air mata, ia menggenggam tangan Anggi pelan, karena di sana juga ada luka lembab bekas ikatan tali.


Anggi masih saja menangis membuat Prapti ikut menangis, ia sudah menganggap Anggi seperti kakaknya sendiri, karena hanya Anggi yang ia miliki di dunia ini.


"Aku sakit, hatiku yang sakit rasanya tak sesakit luka yang ada di tubuhku" gumam Anggi dalam hati


"Bu, jangan menangis, Prapti mohon Bu. kalau ibu sakit bilang aja, biar Prapti obati atau Elus pelan buat meringankan sakitnya, atau apa sebaiknya kita ke dokter aja, mau ya Bu??? bujuk Prapti lembut, namun Anggi hanya menggelengkan kepalanya membuat Prapti tak berdaya, ia tak tahu lagi harus apa.


Tinah masuk dengan membawa segelas air hangat dan madu serta sedotan, ia menyodorkan pada Anggi, perlahan Anggi meminumnya , setelah itu Anggi memejamkan matanya, namun keduanya tahu jika Anggi tidak tidur.


Prapti dan Tinah saling lempar pandang meminta pendapat, namun Prapti mengangkat bahunya, ia juga bingung apa yang harus mereka lakukan sementara Anggi tidak mau di bawa ke rumah sakit dengan alasan ia tak mau keadaanya mempengaruhi kondisi kesehatan mama mertuanya yang sedang di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2