Suami Sewaan

Suami Sewaan
Maaf


__ADS_3

”Sebaiknya kau ingat segera dan tahu seberapa dalam kau menyakiti Anggi. Kamu malah menuduhnya berselingkuh dan mengatakan anak yang di kandungnya bukan anakmu, hingga membuat Anggi memilih untuk membesarkan anak kalian sendiri, ia meninggalkanmu, walau ia sangat mencintaimu.


Setelah mendengar kau kecelakaan, ia seakan ingin berlari menemui mu, membuang egonya, melupakan sakit hatinya padamu, menempatkan harga dirinya di titik rendah, demi berharap anaknya bisa mendapatkan kasih sayang utuh dari papa dan mamanya. Pernahkah kau pikirkan bagaimana perasaannya?” ucap Bagus bergetar menahan perasaannya, amarahnya, kecewanya


Satria terdiam, ia seolah kehilangan nyawanya, wajahnya pucat pasi dengan mulut menganga tak percaya, tanpa ia sadari ia menangis, menangis menyesali kelakuan yang tidak ia ingat


Sungguh terlalu egois ia meminta Anggi menikah dengannya, saat ia berulang kali menyakiti wanita itu,


sekarang ia bisa melihat bahwa keraguan Anggi beralasan, ia saja yang terlalu memaksakan kehendak pada Anggi, wanita itu masih terluka, walau sudah memaafkan, bukan berarti lukanya bisa sembuh dengan mudah.


”Astaghfirullah, bagaimana aku bisa jadi manusia sehina ini? aku seperti b*j**n.


Maafkan aku, ampuni aku ya Robb”ucap Satria dalam hati


Satria amat terpukul oleh kenyataan itu, namun jika ia harus menjalani kehidupan baru dengan Anggi, mau tak mau ia harus tahu kejadian sesungguhnya.


Ridwan dalam hati memuji adik nya itu, ia tak menyangka jika Bagus bisa bicara segamblang itu, jika itu dirinya mungkin Ridwan sudah menghadiahkan bogem mentah ke wajah keponakannya itu


Satria menundukkan kepala malu, ia menarik rambutnya sendiri karena frustasi membuat Putu khawatir, ia menatap Ridwan meminta penjelasan


Namun anak sulungnya itu hanya menggeleng, melarang Putu untuk bertindak, membuat Putu mengurungkan niatnya, ia yakin penilaian Ridwan yang adalah seorang dokter tak akan salah


”Apa yang kalian bicarakan???” tanya Anggi begitu masuk ke ruang keluarga, ia merasakan atmosfir ketegangan disana dan wajah-wajah kaku, seolah sedang membahas yang serius, sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak boleh tahu, itu terlihat ketika mereka langsung menghentikan percakapannya saat Anggi datang


”Loh kok jadi pada diem? ada apa ini????" tanya Anggi penasaran. Anggi bergantian menatap semua orang yang berada disana, hingga pandangannya tertuju pada Satria yang terdiam sambil menunduk, sementara jari-jarinya menarik rambutnya, seperti orang yang frustasi


”Gak ada apa-apa sayang, sini duduk dekat nenek”ajak Ayu menepuk sofa di sampingnya


dengan bingung Anggi hanya menurut dan duduk di samping Ayu, matanya memicing menyelidik pada Ridwan dan Bagus yang kebetulan berada di depannya


Diperhatikan seperti itu membuat kedua lelaki itu serba salah, Bagus berpura-pura batuk-batuk dan pamit ke dapur mengambil minum, sedang Ridwan memilih memainkan ponselnya agar mengalihkan kegugupannya, karena ia sangat yakin jika saja Anggi tahu, ia akan marah karena mereka membeberkan masa lalu Satria tanpa sepengetahuannya

__ADS_1


”Nek, mas Satria kenapa? apa dia sakit lagi?”Tanya Anggi penasaran yang melihat Satria masih saja menundukkan kepala


”Tak apa, dia hanya berusaha mengingat masa lalunya”Ucap Putu menepuk punggung cucunya


Setelah Satria bisa mengontrol emosinya, ia menengadahkan wajahnya


”Aku baik-baik saja”ucapnya sambil berusaha tersenyum


Anggi bangkit menghampiri Satria


”Ayo mas istirahat, wajahmu terlihat sangat pucat, apa ada yang kau rasakan?” tanya Anggi lembut, membuat Satria makin tertekan


”Aku akan istirahat, kamu tetaplah di sini bersama kakek dan nenek”ucao Satria berjalan menuju kamar Anggi


Anggi ingin mengucapkan sesuatu, namun Ayu menariknya dan menggelengkan kepala


”Biarkan ia sendiri, itu lebih baik untuknya saat ini” ucap Ayu pelan


Di dalam kamar


Satria duduk di tepian tempat tidur, memandang nanar pada dua malaikat kecilnya yang sedang tertidur pulas, ada rasa nyeri yang makin perih ia rasakan, seperti luka menganga yang di taburi cuka, pedih sekali


Satria memegang pipi gembul Aisya, ia menciumi Aisya sambil menangis tanpa suara


Betapa kejamnya ia menuduh Anggi dan mengatakan Aisya bukan darah dagingnya, bagaimana jika setelah besar Aisya mendnegar ini? apakah ia masih mau mengakuinya sebagai ayahnya???


Tangis Satria makin kencang, ia memeluk putrinya erat, seolah takut putri kecilnya itu pergi, membuat Aisya yang sedang tidur terganggu.


Balita imut yang tak berdosa itu malah memegang wajah Satria, menepuk-nepuknya sambil tersenyum lebar, seolah tahu kepedihan yang di rasakan Satria


Satria menciumi tangan Aisya membuat bayi itu tertawa, seakan berusaha menghibur papanya, membuat hati Satria makin tak karuan di buatnya, bagaimana ia Setega itu pada anaknya sendiri.

__ADS_1


Jika saja Anggi tak memiliki hati seluar samudra untuk memaafkannya, maka untuk seumur hidup ia tak akan bisa melihat Aisya


”Aisya, maafkan papa nak, maafkan papa” ucap Satria lirih


”Ana na na na na" celoteh Aisya


”Papa janji akan menebus semua kesalahan papa.


Papa akan menyayangi kamu dan kakakmu ”ucap Satria melirik Kinar yang tak terganggu dengan suara di dekatnya, gadis kecil itu masih lelap, terbuai dalam mimpinya


”Aku akan memulai semuanya dari awal, semua salahku, jadi aku harus sabar dan menunjukkan tekadku pada Widya, aku ingin membahagiakan keluarga kecilku ini”gumam Satria lirih


”Doakan ya sayang, mama mau menerima papa.


Papa janji akan membahagiakan kalian dan menjaga kalian dengan nyawa papa”ucap Satria pelan.


Satria meletakkan Aisya dalam box bayinya, lalu ia berjalan menuju kamar tempat dulu ia dan Widya tinggal, kini kamar itu sudah menjadi kamar Kania dan Aisya sehingga hanya ada tempat tidur gadis kecil di sana.


Satria membaringkan tubuhnya, kenyataan yang begitu membuatnya shock menguras seluruh energinya.


Satria tidur meringkuk masih dengan air mata yang menetes keluar hingga akhirnya ia terbawa mimpi


Sementara, Anggi yang merasa tak tenang kembali ke kamarnya, ia Hanya mendapati Aisya yang kembali tertidur, namun dalam box bayinya, di kamar itu, ia tak melihat keberadaan Satria


Anggi berjalan menuju kamar sebelahnya, ia membuka handle pintu pelan dan matanya tertuju pada sosok laki-laki yang terlihat tidur di tempat tidur Kinar


”Mas Satria, aku tak tahu apa yang kakek, nenek, kak Ridwan dan kak Bagus sampaikan padamu, tapi aku yakin ini sesuatu yang. berat harus kamu terima.


Aku sebenarnya tak tahu apakah mereka memberitahumu alasan mengapa aku ragu padamu atau hal yang lain.


Aku harap kini kamu bisa memahami ku mengapa ada ragu di dalam hatiku, walau kau berusaha meyakinkanku, aku masih tak mau, terlebih kamu masih belum mengenaliku secara itu, seperti aku memanfaatkan keadaanmu, dan aku tak mau itu

__ADS_1


Sehatlah mas, dan mari kita didik dan sayangi anak-anak kita, itu prioritas hidupku kini” ucap Anggi lirih, memandang seseorang yang pernah menjadi imamnya dulu


__ADS_2