Suami Sewaan

Suami Sewaan
Permohonan Terakhir Widya II


__ADS_3

Bobby berhasil kabur, namun polisi dengan sigap mengejarnya, hingga sebuah peluru panas berhasil mendarat di kaki dan dada Bobby, polisi membawa Bobby kerumah sakit, namun Bobby meninggal sebelum sampai rumah sakit


Kinar di bawa kerumah sakit yang sama dimana Satria di rawat, atas permintaan Anggi.


Saat pertama kali Anggi melihat bocah malang itu, ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Kinar, menciumi pipi balita itu yang terlihat kurus dan sangat mengenaskan. Seluruh badannya penuh dengan luka lebam dimana-mana, bahkan lengan balita ini juga terdapat bekas gigitan.


Sungguh biadab mereka, lebih hina dari binatang. Binatang pun tahu tidak akan menyakiti anaknya sendiri, Anggi makin bertekad untuk merawat Kinar, menyayangi Kinar seperti anaknya sendiri, membesarkannya bersama Aisya sebagai adik dan kakak.


Kinar kecil hanya diam, ia belum bisa bicara diusianya yang sudah satu tahun lebih, ia hanya melongo saat Anggi menciuminya, ia baru menangis ketika suster memasangkan infus di tangannya yang kecil


”Apa yang akan kau lakukan dengan anak ini? tanya Ridwan tiba-tiba membuyarkan lamunan Anggi


”Ah kak Ridwan, mengagetkan saja.


Aku akan melaksanakan amanat mba Widya, aku mohon kakak mendukungku”ucap Anggi langsung memohon, ia tahu jika Ridwan akan keberatan dengan apa yang akan diputuskan Anggi, namun Anggi sudah membulatkan hatinya, ia akan merawat Kinar dengan tangannya sendiri dan menyayangi ia sepenuhnya


”Apa kau yakin? ”tanya Ridwan ingin memastikan


”Bukankah ank ini seharusnya kita titipkan ke panti asuhan saja, tapi kita akan terus pantau perkembangannya”ucap Ridwan mengusulkan


”Kak, Kinar bukan cuma butuh tempat berlindung, ia juga butuh kasih sayang seorang ibu kak, dia gak akan dapat itu di panti atau tempat lain.


Anak ini tidak bersalah sama sekali, ia korban dari orangtua yang egois.


Kak, Kinar butuh kita” ucap Anggi, namun Ridwan terlihat sedang berfikir keras


”Aku tahu kakak tidak menyukai ibunya Kinar, tapi anak ini tidak tahu apa-apa, aku sudah bertekad apapun yang terjadi aku akan membesarkan Kinar” ucap Anggi tegas


Ridwan masih terdiam, ia mengalihkan tatapannya pada gadis kecil yang sedang tertidur dengan tangan di infus.


Ridwan bukan tak setuju dengan keputusan Anggi, namun kini bukan waktu yang tepat. Anggi tak akan mampu merawat kedua anak itu, bukan secara finansial namun Anggi butuh pendamping hidup untuk melengkapi, namun kini status Anggi saja masih belum jelas, tanpa Anggi ketahui, surat talaknya tak pernah sampai pada Satria.

__ADS_1


Putu sengaja meminta Ridwan jangan menyampaikannya karena mereka masih berharap suatu saat mereka akan rujuk lagi, namun bila itu tak terjadi, semua keluarga pasrah, mereka hanya ingin Anggi dan anaknya bahagia, itulah prioritas utama mereka


”Kinar akan ikut aku dan Irine setelah kami menikah”ucap Ridwan tidba-tiba


”Kakak, please mengerti perasaanku kak, aku mau Kinar jadi anakku.


Kakak dan kak Irine baru menikah, kalian seharusnya menikmati masa pernikahan kalian, lagi pula kalian tidak tahu bagaimana merawat seorang anak.


Terlebih ini adalah permintaan terakhir Widya, aku pernah berhutang nyawa pada Widya, jadi adalah ucapan terima kasihku dengan merawat anaknya”


Anggi bersikeras dengan keputusannya, ia tak mau bergeming sedikitpun


Ridwan pasrah, menghela nafas


”Baiklah kakak akan mendukungmu, biar kakak yang akan menjelaskan pada kakek dan nenek, karena sebenarnya mereka semua sudah tahu jika anak itu bukan anak Satria”ucap Ridwan lirih


”Apa..., apa maksud kakak mereka sudah tahu jika Kinar bukan anak mas Satria?Bagaimana?....” Anggi terkejut


Ridwan menatap Anggi, terlihat Anggi memesan marahnya


"Mengapa kalian tidak memberitahu aku, mengapaaaaa????? apa kalian tahu bagaimana akibatnya padaku, ia tidak pernah mencintaiku, bahkan karena kepergian mba Widya , dia menyalahkan ku karena menikahi ku, mengapa huhuhu” tangis Anggi pecah, ia tak percaya orang yang selama ini ia percaya justru menyimpan sesuatu yang penting di belakangnya


Ia memang sudah tahu Widya pergi dengan lelaki lain, namun faktanya diluar dugaannya, Kinar bukan anak Satria, selama ini Satria seperti orang gila mencari keberadaan Widya dan anaknya


”Mengapa kalian begitu kejam padaku? apa salahku? kalian sama saja dengan mas Satria ” ucap Anggi berlari keluar ruangan, ia bergegas pulang ke rumah, hatinya hancur menerima kenyataan yang bertubi-tubi hari ini, lelah


Sementara Ridwan diam terpaku menatap kepergian Widya, ia meminta anak buahnya mengikuti kemana Anggi pergi, sementara ia segera menelpon papanya, Putu. Untuk mengabarkan ap yang baru saja terjadi


”Maafkan Ridwan pa, Ridwan terbawa emosi hingga mengatakan semuanya”ucap Ridwan lirih


”Sudahlah tak perlu meminta maaf, ini semua hanya soal waktu sampai ia tahu semua kebenarannya, harusnya kita katakan sejujurnya pada Anggi, hingga ia tidak merasa di khianati”ucap Putu menghembuskan nafas berat

__ADS_1


”Apa yang harus kita lakukan pa?Anggi bersikeras akan merawat anak Widya”


"Nak papa akan mendukung Anggi apapun keputusannya. Kamu yang lebih tahu dari siapapun bagaimana hidup di panti. Papa harap kamu juga bisa mendukung keputusan Anggi” ucap Putu


”Baik pa, Ridwan akan mengikuti apa kata papa” ucap Ridwan pasrah


Raut wajahnya muram, ia kembali teringat tiga puluh tahun lalu saat bibinya menitipkannya di panti asuhan karena kemiskinan nya ia takut keponakannya tidak makan. Kedua orangtua Ridwan sudah meninggal, ibunya meninggal saat ia di lahir kan, menyusul bapaknya yang meninggal karena kecelakaan, persis seperti yang orangtua Satria alami, hal tersebut lah yang membuat Putu mengangkatnya menjadi anak, karena persamaan nasib dengan cucu nya, sayangnya cucunya sendiri hilang tanpa jejak sejak kecelakaan yang merenggut papanya


Ridwan terkejut, suara tangisan anak kecil menyadarkannya kembali dari lamunan masa lalunya.


Pandangannya jatuh pada seorang gadis kecil kurus yang sedang menangis ketakutan


Ridwan menghampiri anak itu sambil tersenyum, hatinya terenyuh melihat kondisi anak itu, ia bukan tak setuju Anggi mengangkat Kinar jadi anaknya, namun kondisi Anggi yang masih penuh masalah membuat pertimbangan Ridwan


”Anak cantik, jangan menangis ya, ada om disini” ucap Ridwan lembut, namun Kinar yang merasa Ridwan adalah orang lain, terus menangis lebih kencang membuat Ridwan bingung


Kinar terus menangis dan berusaha melepas selang infus yang menancap di tangannya


"Sakit ya? sabar ya, nanti om belikan permen atau coklat, kamu mau yang mana?”Tanya Ridwan sambil menggendong Kinar


Kinar hanya diam, ia menatap wajah Ridwan seakan mencari tahu , pasalnya selama ini ia selalu mendapatkan perlakuan buruk sehingga membuatnya menutup diri


”Sayang apa dia sudah bangun?" Tanya Irine yang baru saja tiba dengan membawa plastik tenteng di tangannya


"Iya, dia tak mau berkomunikasi denganku, namun ia sudah berhenti menangis”


”Kasian anak ini mas, dia mungkin trauma, kekerasan membekas di pikirannya. Langkah yang terbaik adalah kita harus berikan ia Terapy dan bawa ke rumah sakit tumbuh kembang anak, harusnya anak seusianya sudah berjalan dan berbicara, namun dari penuturan Anggi, anak ini belum berbicara dan berjalan”ucap Irine


”Apa Anggi menghubungimu?”tanya Ridwan


”Iya, dia memintaku kesini karena kwatir kamu tidak bisa menangani anak ini saat bangun”ucap Iron menjulurkan tangannya meminta Ridwan menyerahkan Kinar padanya, awalnya Kinar ragu, namun Ridwan meyakinkannya, mereka lalu duduk, Irine membawakannya beberapa makanan kecil untuk Kinar, membuat wajah gadis kecil itu berbinar senang

__ADS_1


__ADS_2