Suami Sewaan

Suami Sewaan
Kecelakaan II


__ADS_3

"Sayang mama datang sayang, Kinar bangun ini mama nak” ucap Anggi parau, ia menatap Kinar dari kejauhan karena mereka tidak bisa masuk kedalam ruangan


"Kinar sayang, maafin mama sayang, bangun sayang, jangan buat mama takut nak” ratap Anggi pilu.


Prapti memeluk kakak angkatnya itu, ia membantu memapah Anggi yang terlihat pucat pasi


”Kinar Prapti, Kinar,... Ya Allah selamatkan anakku”ucap Anggi lirih


”Maafkan aku mba, maaf”ucap Prapti memeluk Anggi


Satria berjalan lesu menuju ke ruang Intalasi gawat darurat, ia melihat Anggi yang sedang menangis bersama Prapti, langkahnya terhenti, ia seperti orang linglung, hanya menatap Anggi tanpa ingin menyapanya.


Perasaan Satria saat ini kacau, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan atau katakan


Pikirannya di penuhi pertanyaan yang berputar di kepalanya, hingga beberapa suster mendorong tempat tidur Kinar menuju ruang operasi


Satria memegang mengikuti suster, ia ikut mendorong tempat tidur Kinar di sisi kanannya, menatap lekat wajah kecil Kinar yang pucat bagai kapas, terbayang tawa dan senyum putri kecilnya itu, tak terasa air matanya menetes


Akhirnya sampai di ruang operasi dan Satria tidak di perbolehkan masuk, ia terduduk lesu di depan pintu ruangan operasi, air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, ia menangis dalam diam


Anggi berjalan mendekati Satria, ia memeluk Satria erat,


”Maafkan aku mas, aku sudah lalai menjaga Kinar"ucap Anggi serak karena terllau banyak menangis


Satria hanya diam, walau ia ingin bertanya tentang apa yang ia sedang pikirkan saat ini, namun suaranya tercekat di tenggorokan hingga ia memilih menyimpan pertanyaan itu untuk nanti.


Satria juga tak tega melihat kondisi Anggi saat ini, mereka saat ini sedang tegang dan sedih atas apa yang menimpa Kinar, Satria tak mau apa yang keluar dari mulutnya malah akan memancing emosi keduanya karena kondisi kejiwaan mereka yang sedang tidak stabil.


Satria lalu bangkit dan membantu Anggi berdiri, mereka lalu duduk di ruangan yang di sediakan untuk keluarga pasien menunggu pasien di operasi


Suasana tegang, tak ada seorang pun membuka suara, semua diam , larut dalam pikirannya masing-masing


Satria berjalan mondar mandir, ia tak tahan hanya duduk saja dan menunggu.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Satria langsung berjalan menjauh, i memberi kode pada Anggi ingin mengangkat telepon


Setelah menemukan tempat yang pas, Satria lalu mengangkat telepon dari kakeknya tersebut.


”Hallo Assalamu'alaikum kek" sapa Satria dengan suara serak


”Wa'alaikun salam , bagaimana keadaan Kinar?"tanya Putu lirih


”Kinar sedang menjalani operasi kek, kakek tak perlu khawatir, Kinar pasti sembuh”ucap Satria seolah berkata pada dirinya sendiri

__ADS_1


"Kakek dan nenek akan segera sampai di sana, terus kabari kakek bagaiman kondisinya, satu lagi, sabar, kakek tahu ini berat, kakek harap kamu bisa sabar dan berbesar hati


Sebagai laki-laki kamu harus menekan perasaannya dan hibur Anggi, ia pasti shock dan butuh tempat bernaung"ucap Putu memberi masukan


”Baik kek, hati-hati di jalan"ucap Satria pelan lalu panggilan berakhir.


Satria lalu melangkah menuju ruang tunggu kamar operasi, dari kejauhan terlihat Bagus sudah berada disana sedang menghibur Anggi, ia juga membawakan kopi dan teh dalam cup untuk mereka semua


”Bagaimana kondisimu kak, sebaiknya kamu kembali ke apartemen untuk memulihkan kondisimu, wajahmu pucat sekali”ucap Satria yang melihat wajah pucat Bagus


”Aku tak apa-apa, tak perlu khawatir”ucao Bagus tersenyum berusaha menepis kekhawatiran Satria


”Mas, duduklah dan minum kopi hangat mu, kita butuh tenaga untuk menunggu Kinar”ucap Anggi pelan


Satria hanya mengangguk, lalu duduk tak jauh dari mereka, ia memijit keningnya yang mulai terasa berdenyut sakit


Dua jam kemudian


Pintu ruangan operasi terbuka, beberapa dokter keluar dari ruangan tersebut.


Satria segera menghampiri dokter tersebut


"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya Satria tak sabaran


Tak lama kemudian pintu kamar operasi terbuka, beberapa suster mendorong Kasur, terlihat Kania yang terbaring masih tak sadarkan diri dengan perban melingkar di keningnya


Anggi memekik lirih melihat keadaan putrinya, mereka berjalan mengikuti suster tersebut menuju ruang ICU, karena kondisi Kinar masih perlu pengawasan ektra dan belum dinyatakan lepas dari masa kritis, dokter perlu mengontrol semuanya secara intensive


Kini Kinar sudah di tempatkan di dalam ruangan ICU, beberapa alat pendukung sudah di pasang pada tubuhnya, Anggi menatap nanar Kinar dari balik kaca, air matanya sudah kering, matanya sayu dengan bibir yang kering


”Sebaiknya kamu bawa Anggi istirahat , biar aku yang menjaganya”ucap Bagus lirih


”Enggak kak, sebaiknya kakak saja yang membawa Anggi dan Prapti pulang, aku yang akan menjaga Kinar, aku tak bisa tenang jika tidak disini, tolong mengerti kak.


Terima kasih.


Terima kasih kakak sudah mendonorkan darah kakak untuk putriku"ucap Satria pelan


”Apa kau yakin bisa, tubuhmu juga terlihat pucat, sebaiknya kamu istirahat dan aku yang menjaga Kinar"ucap Bagus pelan


"Please kak, aku hanya ingin Disni "ucap Satria lirih menatap pilu Kinar dari balik kaca ruangan ICU


”Baiklah, kak Ridwan , mama dan papa mungkin akan sampai sini sebentar lagi, aku akan membawa pulang Anggi dan Prapti "ucap Bagus akhirnya mengalah

__ADS_1


Anggi dan Prapti awalnya menolak, Satria berusaha memberi pengertian Anggi, ia juga mengingatkan Anggi jika ia tak bisa meninggalkan Aisya terlalu lama, hingga Akhirnya Anggi menurut.


Anggi, Prapti dan Bagus kemudian meninggalkan ruang ICU, kini tinggallah Satria seorang diri, ia masuk kedalam ruangan tersebut setelah memakai pakaian steril


Satria duduk di tepi tempat tidur, hatinya hancur melihat kondisi Kinar seperti ini, tangan kecilnya harus merasakan tajamnya jarum infus dan beberapa alat terpasang di tubuhnya


Satria menggenggam tangan putrinya, ia tak bisa membelai rambut Kinar karena kepalanya di perban.


”Sayang, ini papa nak, papa ada disini, bangun sayang, jangan buat papa takut sayang.


Papa tahu Kinar pasti dengar ucapan papa. Kinar putri papa yang kuat” Satria menghapus air mata yang menetes deras


"Cepat sembuh sayang, papa janji akan ajak Kinar ke Waterboom, kita akan kesana sama mama dan adem Aisya setelah Kinar sembuh, buka mata mu nak, papa tak sanggup lihat kamu seperti ini” Tangis Satria pecah, ia berusaha tegar namun nyatanya tak mampu .


Entah sudha berapa lama Satria berada di dalam ruangan tersebut, ia menggenggam tangan Kinar hingga akhirnya ia tertidur disisi tempat tidur tersebut


"Pak, pak Satria, sebaiknya bapak istirahat.


Pasien juga butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya.


Bapak banyak-banyaj berdoa ya, Insha Allah Dede Kinar akan siuman dan sehat seperti sedia kala”ucap seorang suster yang menjaga ruangan tersebut dengan lembut


ia bisa melihat jika Satria sangat terpukul akan kondisi anaknya


”Saya ingin disini saja sus” ucap Satria menatap Kinar yang masih terpejam


"Saya mengerti kesedihan bapak, namun jika bapak sakit, bukankah bapak juga yang akan rugi tidak bisa menjada putri bapak lagi”ucap si suster lembut


Akhirnya Satria melangkah keluar ruangan tersebut, ia melihat Kakek dan neneknya serta Ridwan yang berjalan mendekat kearahnya


”Bagaimana kondisi cicit nenek? "tanya Ayu begitu sampai, air matanya jatuh


”Kinar sudah menjalani operasi, tinggal menungggu ia siuman sehingga dokter bisa memeriksanya lagi.


Kakek dan nenek sebaiknya kembali saja ke rumah istirahat, kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh.


Aku akan mengabarkan kalian jika ada informasi terbaru tentang perkembangan Kinar”ucao Satria


"Ayo nek, kita pulang dulu, besok kita bisa kesini lagi”ajak Putu pelan


Putu dan Ayu kemudian pamit pulang, sedang Ridwan terlihat sedang berbicara dengan dokter yang menangani Kinar, kebetulan dokter tersebut pernah satu kampus dengan Ridwan sehingga terlihat pembicaraan Yangs serius diantara mereka


Tak lama kemudian Ridwan menghampiri Satria, ia duduk sambil memegang menepuk pundak Satria

__ADS_1


”Sebaiknya kamu juga pulang dan istirahat, jangan menyiksa dirimu sendiri.”ucap Ridwan pelan


__ADS_2