
Setelah puas bermain dan berenang, acara berlanjut makan malam, namun kali ini mereka sengaja makan malam dengan nuansa dan menu yang lain dari biasanya
"Barbeque” di taman belakang rumah
Para lelaki sibuk mempersiapkan hidangan untuk para wanita dan anak-anak mereka. Anak-anak sangat antusias, mereka sudah duduk manis sambil menikmati jagung bakar dan sosis bakar yang di oles bumbu barbeque
Si kembar pun tak mau ketinggalan, biasanya mereka akan tidur selepas ba'da isya, namun mereka masih belum mau tidur padahal jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
”Jagoan papa belum ngantuk ya? mau ikut bergadang bakar ikan ya? goda Satria pada putra kembarnya
Dan anehnya sibkembar Raffa dan Raffi berteriak-teriak senang seolah menjawab pertanyaan papanya.
"Mass, tangan kamu kotor, nanti mereka bisa sakit" teriak Anggi tak senang Satria memegang putra kembarnya dengan tangan kotor
”Mereka putraku..."
"Aku tahu mereka putramu, tak perlu kau sellau ulang-ulang terus.
mereka juga putraku dan aku akan susah bergadang sepanjang malam jika si kembar sakit, apa sampai disini kamu paham?”jawab Anggi kesal namun Satria malah tertawa terkekeh, ia melihat istrinya yang kesal dengan bibir yang manyun membuatnya ingin menciumnya jika saja kini mereka berdua, sayangnya saat ini semua keluarga sedang berkumpul
Satria malah mencuri cium pipi Anggi dan berlari menghindari amukan istrinya , Anggi hanya menatapnya dengan mata tajam mengisyaratkan ancaman
Satria pur-pura tak melihat, ia kembali sibuk dengan ikan dan daging di atas pemanggang
Satria lalu mengambilkan beberapa potong daging yang ia tusuk dengan paprika dan jamur serta jagung bakar untuk istrinya dan anak-anaknya
Mereka semua lalu menikmati makan malam mereka dengan penuh suka cita.
Setelah selesai makan, anak-anak pergi tidur, sedang orang dewasa masih melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati pemandangan malam
"Apa kalian akan menginap nak? anak-anakmu sudah tertidur karena kelelahan”ucap Ayu pada Ridwan
”Menginap saja kak, sudah lama kakak tidak menginap disini, masih ada kamar kosong buat kalian menginap"timpal Satria
Ridwan terdiam, ia belum meminta izin istrinya untuk menginap, ia juga tak tahu apakah Irine mau atau tidak.
Ridwan menatap mamanya yang terlihat penuh harap menunggu jawabannya
”Ridwan menginap kok ma, kasian anak-anak sudah tertidur"ucap Ridwan tersenyum
Nampak raut wajah ayu senang, matanya berbinar cerah.
”Terima kasih nak"ucap Ayu, air matanya lolos begitu saja
Hati Ridwan seakan teriris betapa ia sudah membuat mamanya tersebut merindukannya
__ADS_1
”Ma, besok mama sama papa nginep ya kerumah. Ridwan dan anak-anak masih kangen mama”ucap Ridwan spontan
" Mau ya ma, kami semua rindu mama sama papa, menginapkan sehari dua hari. jika kalian gak betah bisa mas Ridwan antar ke sini lagi”ucap Irine yang baru saja datang
Irine duduk di sebelah semuanya, ia sangat tahu jika mertuanya itu merindukan suaminya, terlihat dari padangan mata Ayu pada putra-putranya.
Sebagai seorang ibu , Irine bisa memahami itu semua.
"Iya nek, bagaimana kalau besok kita semua juga menginap di rumah kak Ridwan, ga kan sayang?" tanya Satria tiba-tiba mengusulkan
"Boleh, Ide bagus tuh"Sambung Bagus yang baru juga tiba setelah mengantarkan Prapti tidur
”Apa tuan rumahnya g keberatan kita acak-acak rumahnya?"Goda Ayu pada putranya
"Sekali-sekali buat gaduh di rumah kak Ridwan gak apa-apa ma” ucap Bagus tertawa senang
”Tapi bagaimana denganmu nak, apa Prapti bisa ikut? Mama kasian melihat ia kesulitan berjalan dengan perutnya yang membesar begitu"
”Tenang ma, ada suami siaga, lagi pula kan kan Ridwan dokter, jadi aman, ya kan kak?”tanya Bagus pada kakaknya
"Aman ma, Irine kan dokter kandungan, mama lupa ya"ucap Ridwan mengingatkan
”Oalah mama kok jadi pikun gini?, baiklah mama ikut apa kata kalian aja, ya kan kek?" tanya Ayu melempar pandangan pada suaminya yang di balas anggukan Putu.
Ayu yang merasa kelelahan langsung tertidur pulas, namun tidak dengan Putu, ia tak bisa memejamkan matanya, pikirannya terus berkecamuk dan hatinya gelisah.
Entah mengapa Putu masih ternginag-ngiang perkataan istrinya tadi siang.
Putu memandang Ayu yang lelap tertidur, ia tersenyum dan mencium kening istrinya tersebut.
Putu memandang sekilas pada Ayu, lalu ia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum
Ternyata semua orang sudah tertidur, Susana dapur sepi.
Putu membuat teh hangat untuk dirinya sendiri, lalu duduk di meja makan sambil berfikir.
ia merasa Ayu menyembunyikan sesuatu darinya, membuat hatinya tak tenang sejak pagi tadi.
"loh papa? kok belum tidur? tanya Ridwan yang mendapati papanya sedang melamun
”kamu belum tidur nak?” tanya balik Putu tanpa menjawab pertanyaan anaknya
”Ridwan haus, jadi keluar kamar. papa kenapa? apa papa ada masalah?
Ayo cerita sama Ridwan, sebenarnya ada apa, kenapa papa melamun sendiri malam-malam begini” cecar Ridwan
__ADS_1
Putu menghela nafas, entah sudah berapa kali ia berusaha menenangkan hatinya, namun tak bisa
"Nak, papa merasa mamamu itu menyembunyikan sesuatu dari papa.
Ucapannya penuh arti seolah-olah.....”Putu tak sanggup meneruskan ucapannya, tenggorokannya tercekat membuat tak keluar kalimat selanjutnya dari mulutnya
"Pa, itu hanya perasaan papa aja, udah papa gak usah banyak berfikir, mama baik-baik aja.
Ridwan berdoa semoga papa dan mama di beri umur panjang sampi cucu-cucunya besar"
"Amin nak, terima kasih.
mengenai mamamu, papa berkata seperti itu karena ada kejanggalan yang papa rasakan.
contohnya pagi ini mamamu kurang enak badan, wajahnya pucat dan keluar keringat dingin.
Namun beberapa saat kemudian, ia sudah bisa bangun dari tempat tidur dan memasak"
"Baiklah, klau begitu Ridwan akan periksa mama nanti.
Ridwan akan mengabarkan kondisi mama setelah Ridwan periksa besok, bagaimana? ” tanya Ridwan
”Baiklah nak, papa ikut katamu” ucap Putu pasrah
” Sekarang papa istirahat sudah malam.
Papa juga harus sehat agar bisa menjaga mama, kalau papa sakit mama pasti sedih”
"Baiklah papa istirahat dulu, kamu juga istirahat, susah malam” ucap Putu lalu bangkit dan berjalan ke kamarnya
Sepeninggalan Putu Ridwan masih duduk diam di tempatnya, ia mencerna kata-kata papanya.
memang ia juga menyadari jika mamanya itu kurang sehat, ia bisa melihat mamanya menutupi wajah pucat nya dengan bedak, namun mata jeli dokter tak bisa di kelabui.
Tiba-tiba punggung Ridwan di tepuk seseorang yang tak lain adalah adiknya sendiri, Bagus
"Ngapain loe kak malam-malam bengong Kay sapi ompong, kena usir kak Irine loe ya? tanya asal Bagus
sontak membuat Ridwan kesal dan melotot tak senang
"Sotoy” ucapnya singkat
Ridwan sedang tidak ingin meladeni ocehan Bagus
kepalanya berdentum memikirkan mamanya.
__ADS_1