Suami Sewaan

Suami Sewaan
Curiga #2


__ADS_3

Ekor matanya menangkap seseorang yang familiar baginya, ia memfokuskan pandangannya dan matanya terbelalak melihat Satria di sana dengan seorang wanita, Wanita yang sama waktu terakhir kali mereka ketemu, Wanita itu adalah mantan Satria.


Ada urusan apa Satria bertemu mantannya di luaran tanpa memberi kabar padanya??


pertemuan mantan dengan suaminya, sungguh bukan sesuatu yang baik menurut Widya, ia khawatir benih-benih cinta itu akan tumbuh kembali diantara mereka.


Widya merasakan darahnya mendidih, ia enggan menghampiri Satria, tangannya mengepal kuat hingga kuku jari tangannya menembus telapak tangannya dan ia menatap dingin ke arah mereka, membalikkan badan dan segera pergi


tidak terasa air mata Widya merembes keluar, ia


buru-buru melangkah masuk ke dalam toilet


”Mengapa mas Satria bisa dengan wanita itu? apa mereka memang janjian makan bersama????


kenapa mas Satria gak bilang kalau dia makan di luar dengan seseorang?


apa mas satria selingkuh dariku?”beribu pertanyaan berkecamuk di kepala Widya, tak terasa pula air matanya menetes keluar, ada yang terasa sakit dalam hatinya melihat kedekatan mereka.


Widya merasa amat marah, jika tidak berfikir panjang ia ingin sekali menjambak dan mencakar wajah wanita itu, namun ia masih punya harga diri dan rasa malu.


Ingin rasanya ia berteriak mengungkapkan kekesalan hatinya.


Widya menghapus air matanya, ia membasuh wajahnya dengan air berharap bisa meredakan emosinya.


" aArghhhhhh, aku benci kamu mas Satria” gumam Widya lalu bergegas keluar dari toilet


Widya memilih ingin menemui Satria dan meminta penjelasan, itu lebih baik daripada ia berspekulasi yang bisa membuatnya makin gila


Widya menghampiri table dimana Satria tadi duduk, namun ia tak melihat keberadaan Satria maupun Anggi.


"Kemana mereka? mas Satria tidak ada lagi disana?” tanya Widya dalam hati


Widya berjalan setengaj berlari keluar restoran, ia berlari kesana kemari mencari keberadaan Satria ,namun nihil


bayangannya pun tidak terlihat.


Dengan langkah gontai Widya duduk di kursi pinggir raling pembatas, ia menangis sendirian


"Apakah aku salah liat? tapi jelas- jelas itu mas Satria. atau mungkin karena aku memikirkan nya hingga ....


ahhh mas apa yang kamu lakukan ke aku


aku bisa gilaaaaa" gumam Widya alam hati

__ADS_1


Drtttttt drtttttt drtttrrr


Erna calling......


Widya hanya memandang sekilas ponselnya lalu mengabaikannya hingga panggilan telepon dari Erna terputus.


Widya hanya bengong menatap kedepan, pikirannya kacau dan hatinya merasa berkecamuk.


Lagi-lagi Erna menelponnya dan Widya mengabaikannya, saat ini ia tak ingin mengangkat telepon dari siapapun


drttttt drttttt


drtttttt drtttttr


bobby calling......


"Ah ngapain Bobby pakai telepon?lagi males aku ngomong sama dia” gerutu Widya, ia juga mengabaikan panggilan telepon dari Bobby


drrtttttt drrrrrtrr


drtttttt. drrrrrrrtttt


Bobby calling....


"Hallo.... ngapain sih?" ucap Widya sinis


"Hallo sayang, kamu dimana???? kami sudah di restoran nih. Erna tadi menyusul kamu ke toilet, tapi kamu nya gak ada. kamu kemana?" tanya Bobby menyadarkan Widya jika ia melupakan kawan-kawannya


"Iya, iya bawel deh, aku kesana" sungut Widya singkat dan langsung memutuskan panggilan


Tak berapa lama kemudian Widya sudah masuk ke dalam restoran lagi dan berjalan dengan langkah gontai menghampiri teman-temannya


"Wid loe kemana tadi gue susul ke toilet gak ada" tanya Erna


"Iya kamu kemana sayang, aku kan khawatir" ucap Bobby menambahkan, Widya hanya melirik kerah Bobby dengan pandangan malas


"Ada keperluan mendadak tadi, maaf ya Erna dan nyusahin loe”


"Gak apa-apa, gue cuma bingung aja tadi. Ya udah ayo makan,udah dingin noh pesenan loe” ucap Erna melirik makanan Widya yang sudah datang dari tadi


Namun Widya hanya mengacak-ngacak makanannya, rasanya selera makannya sudah menguap hilang entah kemana


"Erna gue take way aja ya makanannya, gue harus balik nih, ada keperluan mendadak" ucap Widya tiba-tiba.

__ADS_1


Ia lalu memanggil waiters untuk meminta mereka membungkus makanan yang ia pesan tadi, setelah itu Widya pamit pulang.


"Erna, sorry gue duluan ya, and thanks ya cinta atas traktirannya, next time gue yang terakhir loe"ucap Widya cipika cipiki dengan Erna


"Guys , gue cabut duluan ya"ucap Widya berpamitan dengan kawannya yang lain


Erna, dan dua sahabatnya serta Bobby hanya saling melempar pandang , bingung akan perubahan sikap Widya, namun Widya seolah tak melihat dan cuek saja.


Setelah berpamitan ia langsung meninggalkan kawan-kawannya sebelum mereka banyak bertanya mengapa ia pergi lebih awal


Bobby yang melihat Widya meninggalkan mereka begitu saja ambah bingung, pasalnya Widya sama sekali tak berpamitan secara khusus dengannya atau memintanya untuk mengantarkannya pulang.


Bobby merasa Widya sedang marah dengannya, namun Bobby tidak tahu alasan Widya marah dengannya.


Bobby segera bangkit dan berpamitan dengan kawan-kawannya dan ingin segera menyusul Widya yang sudah lebih dulu meninggalkan meja mereka


"Widya tunggu" teriak Bobby, namun Widya tak menoleh sedikitpun, ia terus berjalan mempercepat langkah nya


"Guys gue cabut juga ya... " ucap Bobby segera memakai jaketnya dan berjalan menyusul Widya keluar dari resto


tersebut.


"Erna kenapa noh sama si Widya? kok jadi aneh gitu ?Apa yang terjadi ya kira-kira, bukannya dia tadi loe bilang ke toilet terus ngilang, apa kesambet di toilet ya? Tanya Tia menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Lagi berantem kali sama si Bobby" ucap Evi cuek menyuap makanan ke mulutnya, Evi memang kurang suka dengan kelakuan Widya dan Bobby terlebih ia tahu hubungan mereka sejauh mana, Evi jijik dengan perilaku Widya, namun demi persahabatan ia tatap berteman namun untuk menasihati, Evi lebih baik tak ikut campur karena beberapa kali Evi menasihati mereka malah bertengkar hebat.


"Gak tau lah, udah biarin aja ,daripada mikir mereka kita lanjut makan mendingan" ucap Tia cuek, Tia sama halnya dengan Evi, ia menentang keras hubungan Bobby dengan Widya, namun berujung pertengkaran.


Sebenarnya Tia tahu apa apa alasan sikap Widya berubah dan menghilang saat ia menuju ke toilet, tak lain adalah karena Widya pasti melihat suaminya dengan Wanita lain sedang makan siang.


Mungkin Erna tak melihatnya, namun ia melihatnya dan sudah memastikan bahwa pria yang terlihat mirip dengan suami sahabatnya itu adalah benar, Satria, suami Widya.


Tia hanya merasa mungkin ini adalah karma karena Widya menyia-nyiakan Satria dan kini Satria berselingkuh, sama persis dengan apa yang ia lakukan pada Satria.


Kini Widya merasakan bagaimana sakitnya merasa di khianati.


"Ya udah ayo kita lanjut makan, mubazir makanan di liatin aja" ucap Erna mengalihkan pembicaraan.


"Habis dari sini mah gak kita nonton dulu? gimana ladies??" tanya Evi


"Gue ok, loe gimana Erna?”


"Cyus lah, udah cepet kita makan" ucap Erna

__ADS_1


__ADS_2