
”Mas maafkan aku,. aku tak bermaksud membohongimu” Isak Anggi
Satria melihat sekilas ke arah Anggi, ia tak mau emosinya malah akan membuatnya melakukan kesalahan yang lain, ia berjalan meninggalkan Anggi yang menangis, memanggil namanya
Namun Satria saat ini sungguh kecewa, ia berjalan terus tanpa menoleh, bertemu dengan Bagus di luar yang berusaha mengejarnya namun sebelum bagus berkata apa-apa, Satria menghadiahkan om nya itu dengan bogem mentah
”Selama ini gue percaya sama loe, tapi loe bohongin gue kak, gue kecewa sama loe”ucap Satria pelan lalu berjalan meninggalkan rumah. Anggi, memacu kendaraannya tanpa tujuan
Jari jemari tangan Satria mencengkram keras stang kemudi, ia seolah ingin menghancurkan apa saja yang di pegang ya.
Satria mengendarai kendaraannya tak tentu arah, hingga akhirnya ia menepikan kendaraannya di pinggir pantai, lalu turun dan berteriak keras melepas semua amarahnya
Ia terus berteriak walau suaranya tertelan deru ombak pantai, hingga ia terduduk lesu di pinggir pantai seperti anak kecil yang sedang merajuk.
”Apa salahku ya Allah hingga mengalami hidup seperti ini???? aku merasa tak berharga sama sekali hingga istriku dan wanita yang kucintai menjadikanku barang transaksi
istriku pergi dengan kekasihnya dan anak itu adalah anak buah perselingkuhannya. sial*n
Arrrghhh aku merasa gila”ucap Satria mengacak-acak rambutnya frustasi
Lama Satria terdiam di bibir pantai hingga matahari terbenam, ia hanya memandang sunset tanpa bergeming dari tempatnya semula, ada kekecewaan yang terlukis di wajahnya
Malam itu ia hanya ingin sendirian, merenungi semua yang terjadi dalam hidupnya, kebenaran datang secara serentak membuatnya seolah tak bisa menerima kenyataan pahit ini.
Mungkin ia telah melakukan kesalahan di masa lalu, namun kesalahan yang Widya dan Anggi lakukan tak mudah baginya untuk memaafkan.
Apa yang harus ia lakukan selanjutnya????
Widya sudah terbujur di liang lahat dan anak itu???
Satria tak bisa membencinya, walau ia sangat kecewa dengan kenyataan bahwa Kinar bukan darah dagingnya, namun perasaan sayangnya tak serta Merta bisa hilang karena sebuah kenyataan.
Satria menatap luasnya lautan di malam hari, ia sengaja tak kembali ke ibu kota dan lebih memilih menyewa kamar di dekat pantai, seolah suara deru ombak bisa membuatnya melupakan sedikit masalahnya
Sepanjang malam Satria hanya berdiri di balkon villa, ia tak tidur semalamam, matanya hanya menatap lurus ke depan sambil menghisap rokok ditangannya, beberapa kali hanya terdengar ia menghela nafas panjang dan menghembuskan ya kasar .
Puntung rokok bertebaran di lantai
Ia berjalan menuju meja , mengambil ponselnya yang sengaja ia non aktifkan sejam siang kemarin.
beberapa notice panggilan masuk dan entah berapa banyak pesan singkat di ponselnya dari Anggi, bagus, Ridwan bahkan dari kakek dan neneknya
__ADS_1
Satria memandang Sinis pada ponselnya, tanpa niat ingin membukanya.
Selama ini mereka semua berkoalisi untuk membodohi ya, membohonginya secara terang -terangan, memasang wajah tanpa rasa bersalah saat mengatakan Kinar adalah anaknya
Satria tertegun sesaat saat wallpaper ponselnya bergulir, foto dirinya dengan Kinar dan Aisya, seperti satu keluarga utuh yang bahagia , namun siapa sangka itu hanya kebohongan, dia bukan anaknya, tapi anak mantan istrinya dengan kekasih gelapnya.
Anak buah perselingkuhan
Satria membuka galery ponselnya, ia menatap foto-foto disana
ada banyak foto gadis kecil sedang tersenyum lebar, wajah nya yang cantik dengan lesung Pipi menghias wajah kecilnya, bagai malaikat kecil tanpa sayap
Satria hendak menghapus foto Kinar dalam galery ponselnya, namun tangannya mengambang di udara, seakan berat, Mata Kinar seakan menatap Satria dan membuat Satria tak tega
Ia jatuh terduduk di lantai, masih memandang foto dalam ponselnya, Satria berteriak sekwncang-kencangnya, ia tak percaya, masih tak percaya jika Kinar bukan darah dagingnya, ia menangis
ini kali kedua ia menangis, sama-samar ingatannya berkelebat seolah memutar sebuah video dalam slow motion
”Ya Allah, apa yang harus aku lakukan”lirih Satria
”Aku menyayangi anak ini, aku tak bisa membencinya. mengapa Kau memberi cobaan seberat ini pada hamba????
apa yang harus hamba lakukan ya Allah????” gumam Satria memeluk ponselnya, dimana ia menzoom foto Kinar yang tertawa bahagia
Ia menjambak rambutnya, urat-urat nampak keluar dia sertai keringat mengucur di keningnya, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dan tak sadarkan diri
Pihak Vila yang mendengar keributan dari kamar Satria mendatangi kamar Satria, setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali, namun tak terdengar sautan, mereka memutuskan masuk secara paksa karena khawatir dengan kondisi Satria
Betapa terkejutnya mereka mendapati Satria tergeletak di lantai dan sudah tak sadarkan diri.
Mereka membawa Satria menuju rumah sakit
Sudah dua hari Satria tak sadarkan diri, ponselnya dalam keadaan offline jaringan.
Mereka tak bisa membuka ponsel Satria karena menggunakan password atau mencari kontak keluarganya, hanya berharap ada seseorang yang menelponnya dari nomor ponsel Satria
Sementara di tempat lain
#Flash Back
Setelah Satria pergi dengan marah, Anggi berusaha mengejar, namun Stria yang sudah terlanjur marah, ia tak perduli lagi Anggi memanggilnya
__ADS_1
Anggi jatuh terduduk sambil menangis menatap kepergian pria yang di cintai nya itu
”Mas maafkan aku mas, aku tahu aku salah”ucap Anggi berulang-ulang sambil menangis
Bagus berusaha menenangkan Anggi, ia memapah tubuh lemah Anggi duduk di sofa ruang tamu
”Kak, tolong cari mas Satria kak, Aku takut dia melakukan hal yang nekad, tolong aku kak” pinta Anggi pada Bagus
”Kamu yang tenang dulu, mas janji akan mencari Satria”
bujuk Bagus sambil terus berusaha menghubungi Satria melalui ponselnya, namun Satria tak mengangkatnya
Prapti yang terkejut mendengar teriakan Anggi segera menghampiri sambil menggandeng Kinar dan Aisya dalam gendongannya
”Prapti, mas Satria huhuhu, dia pasti membenciku sekarang.
dia susah tahu semuanya”ucap Anggi sambil menangis
Prapti berjalan mendekat dan memeluknya
Kinar dan Aisya yang melihat Anggi menangis ikut menangis
”Mba harus tenang, lihat Kinar dan si kecil menangis melihat mba seperti ini. Biarkan mas Satria menenangkan dirinya, ia butuh sendiri saat ini”ucap Prapti lirih, menepuk bahu Anggi pelan
”Dia pasti membenciku, aku gak mau dia meninggalkanku, aku mencintai mas Satria”ucap Anggi masih menangis di ikuti ke dua anaknya
”Mba harus tenang, lihat anak-anak ketakutan dan ikut menangis.
Kinar baru pulang dari rumah sakit”ucap Prapti mengingatkan
Anggi menatap anak-anaknya, ia mengambil alih Aisya dari gendongan Prapti dan memeluk Kinar dengan tangan satunya
”Maafkan mama sayang, jangan menangis, mama cuma terkena debu” ucap Anggi berusaha tersenyum
”Kinar mau papa ma, papa”ucap Kinar di sela-sela tangisnya , ia mencari keberadaan Satria
”Sayang, papa pergi sebentar, nanti juga pulang”ucap Anggi berusaha tegar
”Mas, Kinar mungkin benar bukan darah daging mu, tapi dia tetap anakku. Anak yang lahir dari hatiku.
Jangan buat aku memilih antara Kinar dan dirimu, aku tak akan sanggup mas, kalian hidupku” ucap Anggi dalam hati, memeluk erat Kinar dan menghujani Kinar dengan ciuman di kepala Kinar
__ADS_1
Anggi bertekad tak akan melepaskan Kinar maupun Satria, di satu sisi Satria adalah lelaki yang paling ia cintai, di lain sisi Kinar adalah anaknya walau bukan berasal dari rahimnya sendiri