
”Satria mengalami amnesia sementara” ucap Ridwan lirih
”Astaghfirullah” ucap semua terkejut
”Tapi hanya beberapa kejadian tidak semuanya. Dia masih mengenaliku, namun ia tak tahu mengapa ia berada di rumah sakit” ucap Ridwan pelan
” Aku ingin menemuinya”ucap Anggi langsung
”Sebentar lagi, Satria akan di bawa kembali ke kamarnya, sebaiknya kita semua menunggunya di kamar, aku akan tetap disini menemaninya, aku harap jangan ada yang membuatnya tertekan, kita biarkan ia mengingat semuanya perlahan. Memory yang ia dapat mendadak akan membuatnya mengalami sakit kepala hebat, khususnya kamu Anggi, kakak rasa kamu harus mempersiapkan dirimu” ucap Ridwan menatap Anggi, Anggi mengangguk pelan, yang terpenting kesembuhan Satria
Semua orang menunggu dengan tak sabaran, ingin segera tahu kondisi Satria
Suster mendorong Satria di kursi roda, di ikuti Ridwan yang membuntuti di belakangnya
Satria menatap semua orang, ia tersenyum, sepertinya ia mengenali mereka,namun tiba-tiba ia meminta suster menghentikan kursi rodanya begitu mendekati Anggi yang berdiri paling ujung dekat tempat tidur
”Kamu siapa, mengapa kamu disini? ” tanya Satria dingin menatap Anggi yang terbengong mendengar ucapan Satria.
Walau ia sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan, namun hasilnya ia tetap shock Satria tidak mengenalinya
Ridwan langsung maju mendekati Satria dan mensejajarkan tingginya dengan Satria
”Ini Anggi, istrimu, apa kamu tidak ingat?”
"Istri? istriku hanya Widya, bagaimana aku bisa punya istri lagi, sepertinya kau sedang bercanda kak”ucap Satria tertawa lepas sambil melempar pandangan malas ke arah Anggi
Hati Anggi sakit mendengar perkataan Satria, namun memang kini statusnya bukan istri Satria lagi, walau ia hanya nikah sirih dua tahun lalu, di samping itu, ia juga sudah melayangkan talak secara tertulis pada Satria, itu artinya ia sudah tidak ada kaitan dengan Satria lagi, hanya Aisya yang kini berkaitan dengan Satria sebagai anak dari pria yang sangat ia cintai
Anggi menghela nafas, berusaha mengontrol perasaannya, Ayu menggenggam tangan Anggi, menguatkan Anggi. Ayu bisa merasakan bagaimana perasaan Anggi saat ini, namun ia tak bisa berbuat banyak , karena kondisi Satria kini
”Aku mantan istri mas, kita sudah berpisah satu tahun setengah yang lalu, namun kita memiliki anak dari pernikahan kita”ucap Anggi lembut
Nampak Satria berusaha mengingat, dan membuat kepalanya sakit tiba-tiba.
Anggi menjadi panik berusaha menolong, namun Satria menghempaskan nya hingga tubuh Anggi hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, beruntung Ridwan yang berada di sebelahnya langsung menghalaunya
"Satria, kamu jangan kasar gitu dong, Anggi cuma ingin membantumu, kamu sakit atau sehat sama-sama membuat nenek malu”Teriak Ayu yang tak senang melihat cucu mantunya di perlakukan kasar oleh Satria, walaupun kini Satria amnesia, ia tak punya alasan memperlakukan orang lain buruk, terlebih itu pada wanita
”Gak apa-apa nek, ini salah Anggi” ucap Anggi berusaha tegar
__ADS_1
”Maaf nek, aku tak bermaksud begitu, hanya saja semua ini membuatku bingung” ucap Satria menatap Ayu sambil memegangi kepalanya yang berdenyut
”Lain kali ingat kelakuanmu, nenek tidak akan mentolelir lagi kelakuanmu, nenek tahu kamu Amnesia, tapi bukan jadi alasan kamu bisa menyakiti cucu nenek”dengus Ayu membantu Anggi bangun
”Maaf nek, aku perlu berfikir. Aku tak mengingat apapun, termasuk alasan mengapa aku berada di rumah sakit sekarang”ucap Satria lirih
”Jangan memaksa, perlahan kamu akan mengingat semuanya”ucap Putu berusaha menengahi suasana yang di ruangan itu
”Kakek pamit pulang dulu, karena kami tadi tergesa-gesa , Anggi tidak meninggalkan susu Asi untuk anakmu, Aisya" ucap Putu
”Aku punya anak kek? apa anak Widya bernama Aisya? kemana Widya mengapa tidak menemui ku di sini?” tanya Satria mencari keberadaan Widya
Anggi menggigit bibir bawahnya, hatinya perih.
”Aisya anakmu dengan Anggi, ia balita cantik, matanya seperti matamu”ucap Putu tersenyum membayangkan cicitnya yang cantik
”Kemana anak Widya kek, aku ingat jika aku punya anak dari Widya”
”Sebaiknya kau istirahat, kami akan pulang sekarang”ucap Putu menghindari Satria, ia enggan berbicara anak Widya, terlebih itu bukan cicit kandungnya.
Jika saja Anggi tak memohon, ia tak mau Anggi merawat Kinar, anak Widya. Namun demi membuat Anggi senang, Putu dan Ayu terpaksa meloloskan permintaan Anggi untuk merawat dan mengangkat Kinar sebagai anaknya
”Kek, aku bertanya, kakek belum menjawab pertanyaan ku” teriak Satria karena melihat kakek dan neneknya serta Anggi meninggalkan ruangannya
Sementara Bagus dan Ridwan saling memandang, mereka menghembuskan nafas berat
”Sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan kesembuhan mu, kakak yakin ingatanmu perlahan akan kembali dan selama ingatan itu belum kembali, kakak sarankan padamu jangan pernah menyakiti Anggi atau kamu akan menyesal di sisa umurmu" ucap Ridwan memilih keluar dari ruangan tersebut, Bagus menepuk punggung saudaranya itu, ia tahu sekali jika Ridwan sedang dalam mood yang buruk, Ridwan sangat menyayangi Anggi seperti adiknya sendiri.
Bagus lalu membantu Satria berbaring di tempat tidur, hanya Bagus yang masih diam dengan ekspresi datar.
Bagus memang pandai menyembunyikan perasaannya, walau ia memang tak suka dengan sikap Satria pada Anggi beberapa saat lalu, namun logikanya membuatnya memakluminya
”Kak, apa kakak tidak mu mengatakan apapun?" tanya Satria penasaran
”Aku tak tahu harus berkata apa, tapi apa yang kak Ridwan katakan benar adanya.
Kamu pernah menyakiti Anggi dulu dan jangan pernah mengulangnya untuk yang kedua kali.
Mengapa kamu ada dirumah sakit saat ini adalah karena kamu mengejar kebenaran namun kecelakaan menimpamu, jadi saran ku, selama ingatanmu belum kembali, jangan berbuat yang menyakiti orang dia sekitarmu”ucap Bagus dingin, ia tak pandai berkata-kata seperti Ridwan, namun perkataannya lebih kepada ancaman terselubung, membuat Satria menelan Saliva nya sendiri
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengingatkan kak, tapi bisakah kau beritahu bagaimana anakku dengan Anggi, apa kau punya fotonya? mungkin dengan melihatnya aku bisa mengingat sesuatu” ucap Satria pelan
Bagus mengambil ponselnya dari dalam saku celana, ia mencari beberapa foto yang ia ambil saat bersama Aisya ,lalu mengirimkannya ke ponsel Satria
”Aku sudah mengirimnya ke ponselmu, kau bisa melihatnya sendiri, dia balita yang sangat menggemaskan dan cantik seperti mamanya, Anggi.
Jangan kau sia-siakan anakmu dan istrimu itu, mereka sudah menderita akibat keegoisan dan kebodohanmu.
Sebagai om mu aku hanya mengingatkan, jika kau belum bisa mengingat mereka, setidaknya beri perhatian pada mereka agar mereka bisa memotivasi dirimu untuk mengingat semuanya”
” Aku mengerti kak, terima kasih sudah memberitahuku”ucap Satria.
Bagus menepuk punggung Satria dan berjalan keluar menyusul Ridwan yang sedang menenangkan dirinya
Sementara di dalam ruangan, Satria memandangi foto balita kecil di dalam ponselnya
wajahnya yang cantik dengan pipi tembam merona merah, sangat menggemaskan dan benar saja, mata gadis kecil ini mirip dirinya, bulat dengan bola mata hitam dan bulu mata yang panjang menambah kecantikan balita itu
Entah mengapa ada sesuatu yang sulit Satria ungkapkan, ia merasa dekat dengan balita itu
”Aku merasa dekat dengan anak ini, apa benar ia anakku, perasaan macam apa ini yang kurasakan?" ucap Satria menyentuh foto Aisya dalam ponselnya
Assalamu'alaikum
Hai reader ku semuanya, semoga kita selalu sehat dan selalu bersyukur ya
Author ingin mengabarkan jika novel Suami Sewaan akan segera berakhir.
penasaran kan bagaimana akhir nasib Satria dan Anggi?
Ikuti terus ya kisahnya, jangan lupa tinggalkan like dan coment
Author ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para reader semua yang setia mengikuti karya author dari awal hingga akhir, silahkan mampir juga ke karya author lainnya yang tak kalah seru
Sampai berjumpa di karya author lainnya.
Wasalam
Pooh
__ADS_1