
Tiba-tiba Ridwan muncul dan melihat apa yang di lakukan Anggi, ia lalu mendekati Satria untuk melihat kondisi Satria
”Satria ini kakak, boleh kakak memeriksa mu sebentar?" tanya Ridwan
Satria terdiam, ia sebenarnya menaruh dendam pada Ridwan karena membawa kabur istrinya dan menyembunyikannya. Namun kali ini ia harus membuang rasa kesalnya, karena ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan matanya
Satria mengangguk pelan. Ridwan mendekati Satria dan mulai memeriksa dengan detail, terlihat wajah Ridwan berubah muram
"Apa yang terjadi dengan mataku? apa ini bisa sembuh? katakan sejujurnya!!!!” teriak Satria karena Ridwan hanya diam
”Aku perlu beberapa test untuk memastikannya, kesimpulan ku adalah, kamu hanya mengalami kebutaan sementara karena benturan keras di kepalamu
Namun kamu gak perlu khawatir, sekarang teknologi sudah canggih” ucap Ridwan berusaha menenangkan Satria
Anggi menggenggam tangan Satria, ia berusaha membuat mantan suaminya itu tenang
”Mas Istighfar, dengan marah dan sedih tak bisa menyelesaikan masalah. Kamu percaya saja dengan perkataan kan Ridwan, beliau lebih paham tentang dunia kedokteran”ucap Anggi lembut sambil menepuk punggung tangan Satria,membuat Satria melemah
”Anggi maafkan mas, mas selama ini sangat tak adil padamu, mas mohon maaf, please”ucap Satria meraih tangan Anggi dan menggenggamnya
”Sekarang lebih baik mas fokus dengan penyembuhan mas, Anggi sudah memaafkan semuanya sebelum mas minta maaf”ucap Anggi pelan
Ia memang masih sedikit kecewa dengan Satria, namun ia tidak mau egois, Aisya butuh kasih sayang orangtua yang lengkap, Anaknya butuh kasih sayang dari papa nya juga, bukan hanya dari dirinya.
Saat ini Anggi tidak mau berfikir kemana arahnya nanti dia dengan Satria, apakah ia akan kembali dengan Satria atau mereka akan hidup masing-masing namun tetap berkomunikasi untuk perkembangan anak mereka, semua akan di pikirkan nanti, yang utama saat ini kesembuhan Satria
”Anggi mengapa kamu tidak membenciku? aku terima jika kamu membenciku, aku ingin kamu memberi kesempatan kedua untukku, aku mohon” ucap Satria dengan wajah memohon
”Mas, biasakah kita bicarakan masalah ini nanti, aku belum bisa berkata apa-apa, aku butuh waktu berfikir.
Aku hanya mu mengatakan satu hal, aku mau kembali karena anak kita butuh kamu juga”ucap Anggi berusaha menutupi perasaannya, walau jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Satria, namun kenangan buruk masa lalu seakan membuat langkahnya terhenti, Anggi terlalu takut kejadian masa lalu terulang lagi, ia sungguh tak sanggup
__ADS_1
”Baiklah, aku tak akan memaksamu, yang terpenting kamu sudah kembali, itu cukup bagiku”ucap Satria tersenyum samar, ia takut keegoisannya bisa membuat Anggi pergi lagi dan mungkin untuk selamanya, dan Satri tidak mau itu terjadi, pengalaman masa lalu membuatnya sadar jika bukan hanya dia yang mau di dengar, tapi pasangan kita juga butuh di dengar dan hargai.
Satria menjalankan beberapa pemeriksaan dan test untuk kondisi matanya, dan dengan setia Anggi menemaninya hingga menjelang malam, Anggi tak bisa terus berada di sisi Satria, ia masih memiliki balita yang membutuhkan ASI nya.
Di sela-sela menunggu Satria,Anggi juga menyempatkan menjenguk Kinar, anak itu sudah terbiasa dengan kedatangan Anggi, Kinar mulai membuka diri, walau sulit baginya berkata-kata, namun apa yang Anggi sampaikan ia mengerti.
Anggi membawakan beberapa mainan dan boneka untuk Kinar, membuat gadis kecil itu bersorak kegirangan,ekspresinya seolah tak pernah memperoleh hadiah.
Anggi membelai rambut Kinar yang panjang dan kusut, ia akan membawa Kinar ke salon dan memberikan ia beberapa pakaian, pasalnya pakaian yang ia beli nampak kebesaran di tubuhnya yang kurus
Anggi juga membantu Kinar memotong kan kukunya yang panjang dan hitam, gadis kecil yang malang.
Anggi hanya bisa menerka-nerka bagaimana hidup Widya dan anaknya hingga untuk merawat anaknya saja Widya tak mampu atau mungkin tak bisa, ironis.
Anggi berharap kekasih Bobby yang bernama Dara bisa mendekam lama di penjara akibat perbuatan terkutuknya dan Anggi sangat senang Bobby menerima ganjaran yang setimpal, walau Anggi lebih senang menyuruh orang menggebuki Bobby hingga sekarat dan baru di masukkan ke dalam hotel prodeo.
Anggi selama ini tidak pernah berfikiran sejahat itu, namun melihat Bobby entah mengapa pikiran jahat itu timbul
Anggi berniat membawa Kinar bersenang-senang dan sekalian membawanya berbelanja baju untuknya dan ke salon merapihkan rambutnya.
Sesampainya di mall, Anggi sudah di tunggu oleh Bagus dan baby sitter yang membawa Aisya anaknya serta Prapti.
Terlihat wajah malu-malu Prapti yang membuat Anggi menahan senyum dan berusaha cuek tak melihat sorot mata kedua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Anggi mendukung Bagus mendekati Prapti, asisten sekaligus teman Anggi saat ia susah dan senang.
Orang yang selalu ada di sisi Anggi.
”Mba saya ikut”ucap Prapti malu-malu
” Sudah ayo kita shopping dan bersenang-senang, ingat kamu bukan bawahan ku, kamu saudariku, jadi jangan canggung denganku”ucap Anggi tersenyum membuat Prapti memeluknya dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
”Sudah jangan sedih, kita kesini buat happy" senggol Anggi tertawa
Anggi langsung mengangkat anaknya dari dalam stroller baby nya, menciumi pipinya yang tembam
”Aisya sayang, pasti kamu kangen sama mama ya? anak pintar”
Nampak Kinar penasaran, ia sedari tadi hanya berdiri bengong melihat Anggi sedang menggendong Aisya
”Kinar sayang, sini” panggil Anggi lembut, namun gadis kecil itu tak bergeming dari tempatnya
”Uhmm Kinar mau cium dedek bayi gak? nanti bisa main sama dedek bayi” rayu Anggi dengan senyum lebar
Kinar berjalan perlahan dengan senyum malu-malu, ia mengulurkan tangannya memegang tangan Aisya yang gemuk
Anggi mendekatkan kedua anak kecil itu, membantu Kinar mengulurkan tangan memegang pipi Aisya yang tembam
”Mau cium Dede bayi nya gak?” tanya Anggi yang di balas anggukan antusias Kinar, gadis kecil itu mencium pipi Aisya membuat Aisya tertawa senang
”Ini namanya Aisya, dia adik kamu, kamu senang kan punya adik?” tanya Anggi, Kinar mengangguk penuh semangat.
Anggi meletakkan Aisya ke dalam stroller nya lagi , lalu mengangkat tubuh mungil Kinar dan mendudukkannya di Stiller, awalnya ia tak mau, namun setelah ia membuka stroller Aisya, Kinar terdiam dan menurut.
Anggi sengaja memberi Stiller baru khusus buat bayi kembar, agar Kinar terbiasa dan nyaman dengan adanya Aisya di sampingnya, dan memudahkan Anggi untuk mengawasi keduanya. karena terkadang jika melihat keramaian Kinar akan menangis dan ketakutan.
Anggi berkeliling dari toko satu ke toko lainnya, membeli semua pakaian dan mainan untuk kedua buah hatinya, ia juga sudah merapihkan rambut Kinar, walau dengan usaha keras karena Kinar meronta ketakutan.
Dan berakhir bermain di arena anak, wajah Kinar terus tersenyum, nampak kebahagiaan di wajah polosnya itu, mungkin ini pertama kalinya ia bermain di tempat seperti ini,
"aku akan sering membawamu ketempat bermain, hingga kamu bisa lupa kepedihan hidupmu nak" ucap Anggi dalam hati, ia menyeka air mata yang tak sengaja merembes keluar
"Aku merasa mengadopsinya adalah keputusan paling tepat yang aku pernah ambil dalam hidupku, mba Widya, aku akan menyayangi dan merawat anak mu seperti anakku sendiri, aku janji. Semoga kamu tenang di alam sana mba”ucap Anggi lirih
__ADS_1