Suami Sewaan

Suami Sewaan
Hidup Baru II


__ADS_3

”Maksud nak Satria???” tanya Bu Wawan penasaran


”Benar Widya memang istri saya dan dia berselingkuh dengan Bobby, setelah itu Bobby membawa kabur Widya yang saat itu sedang hamil hasil perselingkuhan mereka.


Setelah Widya melahirkan,. Bobby membuat Widya menjadi penjajah s*x, sedang ia tidak bekerja dan berpacaran lagi dengan wanita lain.


Kinar dalam penjagaan Bobby dan pacarnya, namun...” Satria menghela nafas panjang


Satria akan selalu emosi ketika mengingat cerita tentang Kinar dari Anggi beberapa waktu lalu.


Darahnya mendidih, jika saja Bobby masih hidup, ia pasti akan menghajar Bobby hingga hidup segan mati tak bisa, kematian terlalu mudah bagi Bobby.


”Astaghfirullah.... ”pekik Wawan dan istrinya bersamaan


Wajah Bu Wawan maupun suaminya nampak tak baik, mereka sangat malu dan marah atas perbuatan Anaknya itu, sungguh keji.


Mereka gagal sebagai orangtua, tidak bisa mendidik putra bungsu mereka dengan baik


Bu Wawan menangis dalam pelukan suaminya


”Teruskanlah nak, kami ingin mendengar semuanya”ucap Wawan lirih


”Kinar selalu di siksa oleh Bobby dan pacarnya, ketika kami menemukan Kinar karena permintaan Widya, kondisi Kinar sungguh amat memprihatinkan.


Kinar sampi tak bisa berjalan, tubuh penuh dengan luka akibat pukulan, cubitan, gigitan ataupun luka akibat penganiayaan lainnya seperti di ikat.


Anak itu sampai harus di rawat di rumah sakit selama dua Minggu dan meninggalkan trauma baginya”


”Ya Allah, ampuni hamba.


Anak hamba bukan manusia , lebih hina daripada binatang.


Binatang saja tak akan menyiksa anaknya sendiri”ucap Wawan menitikkan air mata, ia amat terpukul mendengar kenyataan ini, tak terkecuali Bu Wawan yang menangis tersedu-sedu hingga ia tak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat akhirnya suasana kembali tenang. Bu Wawan sudah sadar dari pingsannya, ia masih menangis lirih.


”Kami mohon maaf atas kesalahan almarhum anak saya, saya tahu kesalahannya sulit untuk di maafkan, namun saya sangat berharap masih ada pintu maaf itu untuk almarhum Bobby, terutama nak Satria yang amat di rugikan oleh almarhum” ucap Wawan parau.


Ia hanya berharap masih ada maaf untuk Bobby walau hanya sedikit.


”Saya sudah mengikhlaskan semua pak, Bu.


Allah punya rencana di balik semuanya”jawab Satria


”Terima kasih nak, saya semakin yakin bahwa nak Satria dan mba Anggi adalah yang terbaik untuk cucu saya. Kami tidak punya hak sama sekali.


Saya tidak akan menuntut hak asuh cucu saya, karena pada dasarnya Kinar tidak dianggap ada oleh Bobby.


Namun izinkan saya dan istri saya tetap menjadi nenek dan kakeknya Kinar, dan memperbolehkan kami menjenguknya jika kalian tidak keberatan.

__ADS_1


Karena bagaimanapun kami tetap kakek dan nenek kandung Kinar ” ucap Wawan setengah berharap


”Terima kasih atas pengertian pak Wawan dan ibu, sebentar saya panggilkan istri dan anak saya, maksud saya Kinar” ucap Satria pamit lalu meninggalkan ruang tamu menuju kamar bermain anaknya


Tok Tok Tok


Satria mengetuk pintu kamar bermain, lalu masuk ke dalam.


Terlihat Anggi, Prapti,dan neneknya sedang bermain dengan Kinar dan Aisya


Begitu melihat Satria masuk, Kinar berlari kearah Satria, merentangkan tangannya minta di gendong olehnya


sedangkan Kinar berteriak kencang seolah tak mau kalah dengan kakaknya


”Anak papa main sama nenek uyut dan Tante ya???, papa mau bicara sama mama sebentar”ucap Satria menurunkan Kinar setelah mendaratkan kecupan di kedua pipi cubbie Kinar


”Apa yang mas mau bicarakan, aku tak akan melepaskan Kinar walau nenek dan kakeknya sekalipun yang datang, keputusanku tidak akan pernah berubah.


Aku mohon mas jangan memaksaku jauh dari Kinar.


Aku tak bisa”ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.


Satria tersenyum, ia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


”Mas belum bicara apapun , tapi kamu sudah menyimpulkan sendiri.


Aku tak akan membiarkan siapapun membawa Kinar, kamu tenang aja ya”


”Aku hanya takut mas, Kinar....” Anggi tercekat, ia tak mampu meneruskan kata-katanya


”Sayang, kamu hanya terlalu posesif.


Mereka telah menyerahkan hak asuh Kinar pada kita. Mereka hanya meminta izin tetap menjadi kakek dan nenek Kinar dan bisa mengunjungi Kinar jika kamu tidak keberatan”


”Benar mas? apa mereka berkata begitu?"tanya Anggi tak percaya


”Bener sayang, masa mas bohong????


Ayo bawa Kinar menemui kakek dan neneknya


Kinar juga harus mengenal mereka”ucap Satria lagi


”Kinar sayang, ayo ketemu nenek sama kakek di luar”panggil Anggi melebarkan tangannya, meminta Kinar datang kepelukan nya untuk ia gendong


Kinar berlari dan langsung memeluk Anggi, mereka lalu menuju ruang tamu.


Wawan dan istrinya nampak tak sabaran ingin melihat cucunya.


Tak lama kemudian Satria dan Anggi datang bersama Kinar dalam gendongan Anggi.

__ADS_1


Anggi lalu memperkenalkan diri, sementara Kinar melekat erat, ia masih sulit beradaptasi, ia akan ketakutan jika melihat orang baru yang tidak di kenalnya.


Kinar bersembunyi di dada Anggi, mengintip dari celah rambutnya


”Sayang, ayo kasih salam sama nenek dan kakek.


Mana anak mama yang cantik nih”ucap Anggi berusaha melumerkan ketegangan putrinya


”Kinar, ayo anak pintar, salim sama kakek dan nenek” rayu Satria lembut, namun Kinar malah mengulurkan tangannya berpindah dalam gendongan Satria


Satria lalu duduk di tengah-tengah Wawan dan istrinya, kedua ornagtua itu tak kuasa menahan haru melihat cucu mereka kini tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat.


Beberapa saat lalu, Putu menunjukkan beberapa foto yang diambil saat mereka baru saja merawat Kinar.


Kini Kinar terlihat sehat dan aktif.


Namun hati mereka hancur melihat trauma di mata cucu nya itu


”Kinar sayang, ini nenek dan kakek ”ucap Bu Wawan parau menahan tangis


Satria memberi tanda pada Wawan dan istrinya bersabar. Satria lalu menggoda Kinar, menggelitiknya dan menciumi pipi gembok Kinar hingga ia terkekeh dan sedikit relax, ia sudah tak bersembunyi lagi.


Kinar duduk diam dalam pangkuan Satria


Satria membantu Kinar mengulurkan tangannya menyalami kedua kakek dan neneknya.


Anggi juga sengaja memberikan Kinar Snack kesukaannya, sehingga ia makin bisa relax .


Beberapa saat kemudian, Satria mendudukkan Kinar di pangkuan Bu Wawan, awalnya Kinar ingin bangkit, namun Satria menenangkannya, hingga ia kini duduk menurut.


Bu Wawan menciumi dan membelai rambut Kinar penuh kasih sayang.


Cucu nya yang malang.


”Nenek jangan nangis”ucap Kinar mengelap air mata Bu Wawan dengan tangannya, membuat tangis Bu Wawan pecah


Sedang Kinar menatap bingung pada mama dan papanya seolah meminta penjelasan


Anggi menemani Kinar bermain dengan kedua kakek dan neneknya.


Anggi tak akan pernah menghalangi kedua orangtua itu bertemu dengan cucunya, karena walau bagaimanapun Kinar darah daging mereka.


Entah pertalian batin arau bagaimana, Kinar langsung lengket dengan kakek dan nenek nya. ia asik bermain kejar-kejaran.


Senyum dan tawa menghiasai wajah tua Wawan dan istrinya.


Memang benar, darah lebih kental dari air, se asing apapun seseorang akan merasa dekat dengan keluarga kandungnya.


Anggi sangat bersyukur Wawan dan istrinya bisa berbesar hati membiarkan Kinar dalam pengawasannya.

__ADS_1


__ADS_2