
Pagi ini udara terasa sesak, seakan sulit untuk bernafas. terlihat wajah-wajah tegang sedang duduk di ruang tunggu.
tak satupun bersuara, seolah suara mereka hilang tertekan kesenyapan di ruangan itu, hanya nampak wajah mereka yang muram seolah mewakili suasana hati mereka.
Satria meremas rambutnya, wajahnya terlihat sangat kusut dengan mata yang berkaca-kaca tak Tek berbeda dengan Bagus dan Ridwan yang berkali-kali melirik pintu ruang operasi, berkali juga terdengar mereka menghela nafas, kesunyian seolah membuat bernafas pun terdengar, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah dokter Abraham , tim dokter yang mengoperasi Ayu, yang juga merupakan sahabat Ridwan.
Matanya terlihat memandang Ridwan meminta Ridwan mendekat padanya
Ridwan segera menghampiri sahabatnya itu, ia langsung merasakan ada yang tak beres dari pandangan mata Abra
Mereka lalu berjalan masuk ke dalam ruang operasi.
Abra memandang sekilas pada pasiennya yang masih dalam operasi, urgent ia harus melakukan tindakan sebelumnya ia perlu izin pihak keluarganya yangbtaknlin adalah sahabatnya sendiri
”Kondisinya tak seperti yang kita duga, andai saja operasi ini di jalankan dua tahun lalu mungkin hasilnya tidak seperti ini.
Ada benjolan lain yang menekan pembuluh di otaknya. aku tak bisa mengoperasinya begitu saja, terlalu beresiko”ucap Abraham dengan bahasa Jerman ya(maaf ya Author pakai bahasa Indonesia aja hehehe)
"Katakan” ucap Ridwan singkat
”Benjolan itu melekat di syraf otak , sebagai dokter kamu juga tau konsekuensinya jika kita mengangkat nya maka kemungkinan mamamu akan lumpuh dan hilang ingatan, jika tak mengangkatnya ia akan kesakitan dan kemungkinan akan membesar dan lebih berbahaya,,
sebagai dokter ku sarankan untuk segera mengoperasinya. waktumu hanya 5menit dari sekarang, segera konsultasikan pada papamu dan kabari aku keputusanmu, Sorry bro ini memang sulit bagimu, aku sudah berusaha semaksimal mungkin”ucap Abraham menepuk punggung sahabatnya itu.Ridwan hanya mengangguk pelan
Ridwan segera keluar dan menghampiri papa dan saudaranya juga keponakannya , ia langsung menyampaikan kondisi Ayu, Putu terlihat sangat shock, ia sampi terhuyung kebelakang hendak terjatuh, beruntung Satria dengan sigap menopangnya dan mendudukkan kakeknya tersebut
”Lakukan yang seharusnya kamu lakukan nak, papa percaya dengan keputusanmu. Papa serahkan kesehatan mamamu padamu, cepat pergilah ,lakukan operasinya” ucap Putu dengan suara bergetar.
Mendengar keadaan istrinya yang ternyata separah itu, seolah membuat nyawa Putu pergi separuh, ia hanya terdiam bengong dengan air mata yang menetes.
Belahan jiwanya kini sedang berjuang dengan maut.
”Kek, istighfar, percayalah nenek kuat. kita sama-sam doakan agar operasi nenek berhasil dan nenek bisa pulih seperti sedia kalah”ucap Satria memeluk kakeknya yang seperti orang linglung
”Pa, papa harus kuat, Insha Allah mama bisa lewatin semua”ucap Bagus menambahkan
__ADS_1
Putu memandang cucu dan anaknya dengan wajah satunya
”Astgahfirullah, Ya Robb, selamatkan lah istri hamba”ucap Putu lirih, menghapus air matanya dengan jarinya
Ridwan tidak keluar dari ruang operasi, ia memilih tinggal disana dan menunggui mamanya menjalani operasi.
Satu jam setengah sudah sejak terakhir kali Ridwan masuk dan pintu ruang operasi itu belum juga terbuka. kini hari sudah siang, sejak pagi mereka menunggu dengan cemas di ruang tunggu kamar operasi, rasa lapar seakan hilang, mata mereka hanya menuju pada satu titik, pintu ruang operasi.
”Kek, makan dulu. Kakek belum mkn dari pagi.
jaga kesehatan kakek, kalau kakek sakit, nanti nenek sedih, kakek juga gak bisa rawat nenek kalau sakit” buku Satria membawa roti dan sebotol air mineral.
Putu memandang sekilas dan menggeleng lemah, jangankan makan, minum pun ia enggan.
pikirannya hanya di liputi oleh istrinya yang di dalam sana, dalam ruang operasi
”Pa, Bagus mohon papa isi sedikit ya makanan, Papa juga harus sehat untuk merawat mama” bujuk Bagus lirih
”Papa tidak selera nak, biarkan papa liat mamamu dulu baru papa makan, papa janji”ucap Putu pelan
Satria mengangguk pelan pada Bagus memberi kode agar menuruti ap kata kakeknya, karena percuma saja ia memaksa, pada akhirnya Putu tetap pada pendiriannya
Wajah Ridwan terlihat lelah, namun ia berusaha tersenyum melihat papanya yang terlihat khawatir
”Ba.... Bagaimana mamamu nak?" tanya Putu tak sabaran
”Operasinya sukses pa, mama masih diruang pemulihan, sebentar lagi akan di bawa ke ruang perawatan”
”Alhamdulillah” ucap semua orang lega
" Papa sebaiknya istirahat dulu, lihat wajah papa pucat sekali” ucap Ridwan khawatir
"Papa baik-baik saja"ucap Putu pelan, lalu...
Bruuuuuggghhh.....
Tubuh Putu oleng dan ia jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bagus, Satria dan Ridwan segera membawa Putu menuju ruangan , putu dengan sigap memeriksa kondisi papanya, pikirannya kalut, yang satu selesai operasi yang satunya lagi dehidrasi dan kelelahan
Tak lama kemudian putu siuman, ia mengerjakan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk, ditambah kepalanya yang terasa berat dan sakit membuatnya tak bisa bangkit dari tempat tidur, tubuhnya lemas tak bertenaga
Sudah dua hari sejak istrinya di rawat, ia kurang istirahat dan melewatkan makannya
”Dimana aku”lirih Putu sambil memegang keningnya
Selang infus menancap di tangannya
”Papa tadi pingsan, sekarang papa jadi di rawat juga”ucap Irine pelan
"Mamamu, bagaimana mamamu, papa mau lihat”ucap Putu berusaha bangkit
"Pa, tenangkan diri papa, papa dehidrasi parah , papa harusbtetap di tempat tidur demi kesehatan papa.
Mama sudah di ruang pemulihan sekarang, ma Ridwan dan yang lainnya juga di sana
”Papa harus menemui mamamu, Irine papa harus menemui mamamu, tolong nak”pinta Putu memohon
”Baiklah, tapi Papa tenang, Irine akan menelpon mas Ridwan"ucap Irine lalu segera meraih ponselnya begitu Putu mengangguk patuh
Irine langsung menelpon suaminya, Ridwan dan memberitahukan jika Putu sudah siuman dan bersikukuh ingin melihat mamanya
Lima belas menit kemudian Ridwan sampai, ia berjalan bersama seorang suster yang mendorong kursi roda
Ridwan membantu papanya naik keatas kursi roda, lalu mendorongnya menuju ruangan perawatan mamanya.
Ia juga sengaja mempersiapkan dua bed berdampingan di ruangan tersebut, dimana satunya buat papanya yang masih harus di rawat , agar memudahkan Putu juga jika ingin melihat istrinya, karena Ridwan tahu akan sulit meminta papanya beristirahat jika mereka dipisahkan kamar rawat
”Terima kasih nak” ucap Putu lirih, air matanya tak tertahankan
”Sudah kewajiban Ridwan pa.
papa harus kuat demi mama, demi kami semua.
sekarang papa masuk dan temui mama, beliau juga sejak tadi mencari keberadaan papa”ucap Ridwan parau.
__ADS_1
Ridwan mendorong kursi roda masuk ke dalam ruang perawatan, nampak wajah mamanya yang pucat masih menyunggingkan senyum bahagia melihat belahan jiwanya di dorong masuk oleh putranya, namun begitu dekat, terlihat Ayu memajukan bibirnya tak senang melihat selang infus di tangan Putu