
Pesawat yang membawa Satria dan Anggi telah mendarat di bandara, Anggi sudah dj jemput asisten pribadi nya.
Satria sepanjang perjalanan hanya gelisah dan diam, tanpa berkata apapun, membuat hati Anggi terasa sakit karena diabaikan suami nya.
Setelah sampai tempat parkiran, Satria meminta supir Anggi untuk menyerahkan kunci padanya, Pak Jamal supir Anggi menatap majikannya meminta persetujuan, walau Satria sekarang sudah suami Anggi, namun pak Jamal sudab mengikuti Anggi sejak ia masih kecil
Anggi mengangguk, pak Jamal yang melihat itu lalu memberikan konci mobilnya pada Satria. Satria masuk ke dalam mobil, sebelum pak Jamal sempat membantu Anggi masuk ke dalam mobil, Satria sudah melajukan kendaraan nya meninggalkan Anggi dan pak Jamal di bandara.
Anggi maupun pak Jamal sangat terkejut, namun Anggi lebih terkejut di bandingkan pak Jamal, ia shock mendapati suaminya berprilaku seperti itu padanya.
Anggi sempoyongan, ia limbung dab hampir terjatuh, beruntung pak Jamal membantunya berdiri dab memapahnya ke pinggiran taman yang terdapat pembatas dari semen.
Pak Jamal tak mengetahui dengan jelas apa yang terjadi, namun ia tak memiliki keberanian untuk bertanya, terlebih ia melihat kondisi Anggi kini.
"Non, tunggu disini sebentar ya, bapak akan carikan taxi" ucap Pak Jamal yang di balas anggukan lemah Anggi.
Pak Jamal lalu berlari ke dalam Hall membeli sebotol air mineral dan memanggil Taxi
Sementara di tempat Anggi
Anggi menangis menutupi wajahnya
Terasa begitu hancur perasaanya saat ini, Bagaimana mungkin lelaki itu yang beberapa waktu lalu mengatakan mencintai nya akan melindungi nya dan membuat nya bahagia, kini malah memberikan luka yang teramat dalam di hati nya.
"Mas... apakah aku tak pernah ada di hatimu?
Apakah perkataanmu waktu itu hanya bohong belaka mas?
Jika kamu benar-benar tidak bisa mencintaiku maka jangan pernah mengatakannya padaku, jangan pernah memberikan aku harapan palsu, bila kamu tidak pernah bisa menepati nya, aku sakit mas, rasa ini lebih sakit daripada luka yang pernah aku terima dulu.
Kamu menyakitiku begitu dalam mas" ucap Anggi lirih sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Anggi meringkuk memeluk kakinya sendiri, ia terlihat sangat mengenaskan.
Jamal yang kembali ketempat Anggi melihat anak majikannya yang sudah seperti anaknya sendiri itu sampai menitik kan air mata,.
Jamal di penuhi amarah pada Satria namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Non, non Anggi? " panggil Jamal, namun Anggi diam tak menjawab
Jamal menyentuh punggung Anggi namun ia masih diam, terdengar nafas teratur Anggi tertidur karena kelelahan.
Pak Jamal membopong Anggi, ia meletakkan Anggi di kursi penumpang, lalu menutupi nya dengan Jaket nya.
Si supir Taxi terlihat ragu-ragu melihat Jamal membawa Anggi dengan kondisi seperti itu.
"Dia anak ku, pikirannya sedang tak baik, hari ini aku menjemputnya di bandara dan mendapati kondisinya seperti ini" ucap Jamal dengan suara bergetar
Si supir Taxi mengangguk mengerti, ia menepuk pungging Jamal, memberi dukungan untuknya.
Prapti memang sudah mengetahui permasalahannya setelah di beritah oleh pak Jamal, ia membantu pak Jamal membawa Anggi ke kamar nya dan membaringkan nya di sana.
Segelas teh hangat sudah di siapkan oleh Prapti, ia membantu Anggi meminum nya, lalu menyelimuti Anggi, hingga Anggi tertidur kembali.
Prapti sengaja memasukkan obat tidur dalam teh yang dibuatnya agar Anggi bisa sedikit tenang dan beristirahat.
#Flash Back
Satria melajukan kendaraan nya dengan kekuatan maksimal, keluar dari bandara.
Dipikirannya hanya Widya, ia harus segera menemukan keberadaan Widya dan anaknya.
Sebenar nya Satria tidak berniat meninggalkan Anggi dan pak Jamal di bandara, namun ia tak memiliku pilihan lain selain meninggalkan mereka, karena bagi Satria jika ia membawa mereka serta hanya akan memperlambat gerakan nya.
__ADS_1
Satria sampai di kediaman Anggi, Prapti membukakan pintu dan bertanya keberadaan Anggi dan pak Jamal, Namun Satria tak mengindahkan nya, ia langsung masuk ke dalam kamar Widya , tak lama kemudia terdengar suara teriakan Satria lalu pria iti memangis memanggil-manggik istrinya seperti orang yang hilang ingatan
Brak, Bruk sreaaaaakkkk
Suara gaduh berasal dari dalam kamar Widya.
Prapti tidak berani masuk ke dalam, ia hanya berdiam diri di luar dengan badan menggigil ketakutan, sudah beberapa kali ia berusaha menghubungi Anggi, namun tak juga diangkat.
Hingga akhirnya Satria keluar dari kamar Anggi dengan luka di tangannya, ia hanya membalut luka nya dengan Handuk kecil yang biasa ia gunakan saat olah raga.
Tak la terdengar suara deru mobil menjauh.
Prapti terus menghubungi Anggi, ia kwatir dengan keadaan Satria dan juga Anggi, Hingga terdengar suara seorang pria yang di kenalnya mengangkat panggilan telepon dari nya.
"Hallo, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam, ya Allah pak Jamal, kemana bu Anggi dari tadi saya telepon gak diangkat" cerocos Prapti
"Non Anggibsedang tidur, kami sedang dalam perjalanan pulang"
"Pak Satria sudah pulang dan mengamuk, lalu pergi lagi, bagaimana kalian masih di jalan? "ucap Prapti mengadu
"Dia meninggalkan kami bedua di bandara" geram Jamal
"Astaghfirullah"
"Nanti saja ceritanya, yang jelas sekarang non Anggi sedang shock, ia terus menangis hingga tertidur. "
"Ya Allah bu Anggi" ucap Prapti sedih
"Tolong buatkan minum hangat dan beri ia obat penenang agar bisa lebih lama beristirahat, saat ini ia perlu beristirahat yg cukup"
__ADS_1