
Widya sepanjang perjalanan pulang tersenyum. Ternyata rencananya untuk mendekati Anggi berjalan dengan lancar.
mereka lalu merencanakan pertemuan berikutnya
Sesampainya di rumah, Widya langsung bergegas ke dapur, memasak spagheti kesukaan Satria.
*****Seminggu kemudian*****
Hari ini Widya membuat janji dengan Anggi, mereka setuju bertemu di cafe tempat terakhir kali mereka bertemu
Kali ini Widya meminta izin Satria, beberapa hari sebelumnya Widya telah menceritakan prihal pertemuan mereka, dan Satria merasa lega atas perubahan sikap Widya yang lebih terbuka dan baik kepada Anggi.
Walau Satria tidak lagi memiliki perasaan cinta pada Anggi,namun Satria memiliki sedikit rasa sayang dan kasihan atas nasib yang menimpa mantan ke kasihnya tersebut.
Satria sangat mencintai Widya, ia tak mau jika Widya tersakiti karena salah paham tentang hubungan diantara Satria dan Anggi.
Setelah mengetik pesan kepada Satria, Widya langsung menuju cafe tempat pertemuannya dengan Anggi.
Jarak antara rumah Widya dengan mall tersebut sebenarnya bisa di katakan dekat, namun kemacetan ibukota membuatnya harus memakan waktu hingga hampir satu jam. Setelah memarkirkan kendaraannya Widya langsung menuju cafe
Anggi sudah datang terlebih dahulu, ia melambaikan tangan dengan senyum merekah
"Sorry Nggi tadi agak macet, kamu sudah datang dari tadi ya?
__ADS_1
"sama baru datang juga, kamu mau pesan apa? tanya Anggi ramah
"aku mau makan yang sedikit berat hehehe, maklum bumil bawaannya laper"ucap Widya menyeringai sambil membolak balik buku menu di tangannya
Anggi hanya bisa tersenyum melihat Widya yang sedang memesan makan siangnya
" eh kamu kenapa bengong Nggi, pesan apa jadinya?" tanya Widya menyodorkan buku menu
" aku SOP buntut ,minumnya orange jus" jawab Anggi
sambil menanti pesanan datang mereka berbincang-bincang di selingi Senda gurau.
jika orang yang baru kenal mungkin tak akan menyangka jika Anggi sosok yang hangat dan humoris
"jadi Nggi ceritain dong rumah tanggamu"pancing Widya
Anggi menghela nafas panjang mengingat semuanya membuatnya trauma.
"maaf kan aku, aku gak sengaja menyinggung kamu ya? It's ok , gak usah maksain cerita, aku ngerti kok” ucap Widya menepuk punggung tangan Anggi
Anggi melihat ketulusan dalam ucapan Widya,, sudah lama sejak ia menikah, baru kali ini ia memiliki teman bicara lagi
”tak ada yang istimewa dari pernikahanku, sekarang aku sudah bercerai, dan aku bahagia bisa menghirup kebebasanku lagi" ucap Anggi bergumam seperti berbicara pada dirinya
__ADS_1
Widya masih terdiam menunggu Anggi berbicara lagi
"cepat atau lambat, Widya akan tahu kondisinya, dan tak ada yang perlu di tutup-tutupi dari kehidupan rumah tangganya yang tragis" pikir Anggi dalam hati
”Rumah tanggaku berbanding 360 derajat dari kehidupan rumah tanggaku yang bahagia.
Aku menikahi seorang Psikopat sekaligus seorang sadisme. Pria tersebut mempunyai kelainan jiwa.
mantan suamiku sering melakukan tindak kekerasan kepadaku, bahkan aku di jadikan seperti tawanan baginya.
suatu ketika aku hamil anaknya, aku berfikir untuk mempertahankan rumah tangga kami, dan berharap mantan suamiku tersebut berubah" Anggi menghela nafas panjang. pikirannya melayang beberapa tahun lalu. Tak terasa air matanya menetes. Anggi buru-buru menghapusnya
"Sudah jangan di teruskan, maaf jika membuat kamu jadi mengenang hal buruk itu"ucap Widya prihatin
walau Widya tidak menyukai Anggi dan hanya ingin memanfaatkanya, namun jiwa perempuannya memberontak melihat penderitaan kaumnya.
selama ini ia selalu mendapat perlakuan yang baik, bahkan di perlakukan teramat baik oleh suaminya, Satria. ada rasa bersalah yang teramat dalam di hati Widya atas semua kelakuannya selama ini pada suaminya tersebut. Widya merasa wanita paling beruntung di dunia ini, jika saja anak dalam rahimnya adalah anak Satria, ia tak akan merasa kwartir jika Satria akan meninggalkannya suatu saat nanti dan kini Widya harus menjalani skenario yang di susun oleh Bobby. Widya muak dengan semua kebohongan ini, namun ia tidak mempunyai pilihan
”tak apa Wid, aku merasa kamu sahabatku, walau kita baru bertemu”ucap Anggi membuat hati Widya terenyuh, ia orang yang akan memanfaatkan kebaikan Anggi, namun Anggi begitu baik padanya., membuat Widya bimbang
"aku akan teruskan ceritaku sambil menunggu makanan kita datang”ucap Anggi tersenyum
”ku pikir dengan kehadiran calon anak kami, mantan suamiku akan berubah. Namun semua pemikiran ku salah, ia tetap menjadi pribadinya tanpa melihat kondisiku yang sedang berbadan dua. Ia menyiksaku sebelum memuaskan hasrat nya. hingga suatu ketika ia mendorongku , membuatku jatuh dengan posisi perut yang membentur ujung meja rias, aku menjerit kesakitan memegang perutku namun ia tetap menyeret ku dan melemparkan ku ke kasur.
__ADS_1
malang janin dalam tubuhku tak bisa bertahan, saat itu juga aku pendarahan hebat.aku jatuh pingsan tak sadarkan diri. keesokan paginya aku terbangun dengan kondisi selang infus yang menancap di tubuhku dan kehilangan anak dalam kandunganku.
Sejak kejadian itu papa mertuaku memberi ultimatum kepada suamiku akan mengadukan anaknya kepolisian atas tindakannya jika ia mengulangi kembali, dan papa mertuaku meyakinkan aku dan memohon agar aku memaafkan suamiku. Setelah kejadian, sikap suami ku sedikit berubah, namun ia masih orang yang kasar, untuk kebutuhan biologisnya ia lampiaskan kepada para wanita sewaannya karena ia belum bisa sembuh dari penyakit kejiwaannya. Aku tak pernah memprotes hal tersebut sampai kami akhirnya sepakat cerai” Anggi mengakhiri ceritanya dan berusaha tersenyum