Suami Sewaan

Suami Sewaan
kenyataan pahit


__ADS_3

”Mba Widya memiliki seorang anak , ia seorang gadis kecil yang cantik seperti mamanya”ucap Anggi berusaha membuat Jedah untuk Satria agar bisa mencerna kabar yang ia sampaikan


"Apa kamu tahu dimana anak itu?" tanya Satria penasaran, ia meletakkan sendok ditangannya, kemudian fokus pada Anggi


”Namanya Kinar , ia tinggal bersamaku, nanti ketika kamu kembali kerumah, kamu akan melihatnya, namun ia gadis yang sangat pemalu , ia masih belum terbiasa berinteraksi dengan orang” ucap Anggi


”Kinar? nama yang cantik, lalu bagaimana dengan mama anak itu? kemana dia? aku sudah hampir tiga Minggu di rumah sakit , tapi Widya tidak juga kelihatan batang hidungnya” dengus Satria kesal


”Iiituuu.... ah mba Widyaaa....” lidah Anggi keluh, ia bingung bagaimana harus menyampaikannya pada Satria, namun keberadaan Kinar di rumahnya pun nantinya akan membuat Satria bertanya.


Cepat atau lambat akhirnya Satria akan tahu kebenarannya juga, semua hanya soal waktu saja.


sampai semuanya terungkap


”Katakanlah, aku sudah siap mendengarkan”ucap Satria cuek kembali menyendok makanan ke mulutnya


”Aku akan mengatakan semuanya, namun aku mau kondisimu membaik dulu, kau takut akan berpengaruh pada ..”


”Aku mau mendengarnya, apa kamu coba menutupi sesuatu padaku” kembali tatapan Satria tajam menuntut kejujuran dari Anggi.


”Mba Widya tidak bisa menjenguk mu karena ia sudah tenang di alam sana” ucap Anggi lirih


Praaakkkk, sendok yang di pegang Satria jatuh.


Satria menatap Anggi dengan pandangan tak percaya, ia tak percaya Widya telah pergi untuk selamanya,


namun Anggi mengangguk lemah membenarkan perkataannya, hingga tubuh Satria serasa tak bertenaga, ia terdiam.


Satria terisak pelan, dalam ingatannya wanita itu istri yang paling ia cintai, namun entah mengapa, kesedihan yang terungkap malah hanya sebatas ini? Satria bingung dengan dirinya sendiri.


Memang ia menangis, namun bukan seperti seorang suami yang kehilangan istri tercintanya

__ADS_1


”Jadi...”tanya nya lirih


”Aku akan menceritakan semuanya perlahan mas, saat ini kondisimu tak memungkinkan, aku takut kenyataan yang mendadak membuat kamu nanti tersiksa”ucap Anggi pelan


Satria menutup matanya, ia memang sudah merasakan sakit di kepalanya, namun sudah kepalang tanggung, nanti atau sekarang sama saja baginya, ia tak mau mati penasaran karena rahasia ini


”Mas sebaiknya istirahat dulu, ayo mas tiduran dulu di kasur”ucap Anggi khawatir karena melihat Satria memijit kepalanya


Satria mengalah berjalan menuju ranjang tempat tidurnya, ia duduk bersandar.


”Tolong teruskan apa saja yang perlu aku ketahui”


”Mba Widya meninggal di rumah sakit ini, ia terkena Kanker servik yang sudah merambat ke semua organ tubuhnya”ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca mengenang betapa tragisnya hidup Widya


”Ba..bagaimana mungkin ia terkena penyakit itu?, bagaimana aku tidak tahu dia memiliki penyakit se gawat itu? suami macam apa aku?, katakan Anggi, suami macam apa yang tak tahu istrinya menderita penyakit parah?” ucap Satria meraup wajahnya sendiri frustasi


”Itu bukan salah mas, itu semua sudah suratan takdir, ia memilih jalannya sendiri.


mba Widya tak mungkin bisa sembuh karena ia juga menderita HIV”ucap Anggi lirih namun masih bisa di dengar oleh Satria


Anggi segera memanggil dokter , tak lama kemudian Satria pingsan


”Apa yang terjadi?" tanya Ridwan yang baru saja tiba melihat dokter sedang memeriksa kondisi Satria yang tak sadarkan diri


”Tadi ia memaksa aku menceritakan mba Widya karena ia menanyakan mba Widya, maafkan aku”ucap Anggi merasa bersalah


”Sudahlah, ini bukan salahmu juga, ketika ia kembali dan melihat Kinar , kakak Pastikan aja juga akan bertanya tentang Kinar”ucap Ridwan santai


"Tapi kak, apakah berita ini bisa membahayakan mas Satria? " tanya Anggi khawatir, tak terasa air matanya menetes


”Kamu tenang saja, itu tak akan membunuhnya”ucap Ridwan tersenyum sinis menatap kearah Satria, ia masih sangat kesal dengan tingkah Satria beberapa waktu lalu

__ADS_1


”Dia tak akan mati hanya karena mendengar berita ini, namun setidaknya sakit kepala yang ia alami karena menerima kabar yang mengejutkannya bisa menyiksanya, mungkin juga ini hukuman baginya karena sudah menyakiti wanita soleha seperti Anggi” gumam Ridwan. dalam hati. Entah mengapa ia tak menaruh empati sama sekali pada Satria walau ia melihat Satria kesakitan, justru ia tersenyum sinis dan buru- buru menyembunyikannya takut Anggi melihatnya.


”Kak Ridwan kejam, aku gak suka kakak sepeti itu, bagaimanapun ia keponakan kak Ridwan, walau ia buat salah , namun ia sudah meminta maaf sama Anggi kak”ucap Anggi tak suka dengan perkataan Ridwan


"Ok, ok kakak minta maaf ya, udah jangan ngambek lagi. Mantan suamimu itu tak apa-apa, dia hanya perlu istirahat, lagi pula besok ia sudah boleh pulang”ucap Ridwan menenangkan


Para dokter dan suster sudah meninggalkan ruangan itu, kini hanya tinggal Anggi, Ridwan dan Satria yang tertidur pulas karena pengaruh obat penenang yang disuntikkan padanya.


Hingga sore hari, Satria belum juga bangun sehingga Anggi meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan dengan Satria. Anggi tak mau terlalu lama meninggalkan Aisya dengan pengasuhnya.


Keesokan harinya


Hari ini Satria akan pulang, Anggi sengaja tidak menjemput Satria, ia lebih memilih memasak makanan kesukaan Satria, sementara ia menyerahkan semua pada Ridwan untuk menyelesaikan urusan kepulangan Satria di rumah sakit


Sejak pagi Anggi sudah sibuk di dapur,sementara Aisya sedang bermain dengan uyut nya bersama Kinar.


Puti dan Ayu awalnya tidak menyukai Kinar, namun setelah mengenal gadis kecil ini mereka sadar bahwa anak ini tidak bersalah, ia adalah korban dari sebuah ambisi dan keserakahan papanya.


Kinar kecil juga lebih dewasa dari usia nya, ia tak pernah menangis walaupun beberapa hari lalu terjatuh sampai berdarah, membuat Anggi malah khawatir dengan kejiwaan Kinar, ia sampai berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembang Kinar


Kinar kecil juga sudah bisa mandi sendiri dan berpakaian , walau ada seorang baby sitter yang membantunya, ia lebih suka melakukan semuanya sendiri.


Seorang gadis kecil yang terpaksa harus dewasa karena keadaan.


harusnya usia 2 tahun 5 bulan adalah usia anak masih manja dan tak tahu apa-apa, namun Kinar berbeda.


Berkat Terapy kini Kinar sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan jelas, walau semua jauh dari yang di harapkan , namun perkembangannya perlu diacungi jempol


Ridwan sudah sampai di rumah, ia langsung menuju dapur dimana bau harum rendang menggoda perutnya yang keroncongan, dan Satria mengekor di belakangnya, Satria mengucapkan salam dan langsung mencium punggung tangan kakek dan neneknya, dan pandangannya tertuju pada dua gadis kecil yang sedang bermain.


Kinar yang belum pernah melihat Satria langsung berlari sambil menangis menuju Anggi yang sedang memasak, untuk pertama kalinya ia memanggil mama pada Anggi.

__ADS_1


Kinar bersembunyi di balik tubuh Anggi sambil menutupi wajahnya dengan pakaian yang Anggi kenakan


Dengan lembut Anggi menggendongnya , Kinar mendekap Anggi erat, membenamkan wajahnya di bahu Anggi


__ADS_2