Suami Sewaan

Suami Sewaan
PASRAH. III


__ADS_3

Seminggu kemudian


"Anggi kita perlu bertemu" ketik widya mengirim pesan singkat kepada Anggi


"Ok. kapan" balas Anggi


"Besok, jam 1 siang di tempat biasa" ketik Widya


Anggi menghela nafas, kejadian beberapa waktu lalu masih menyisakan sakit hingga hari ini, namun ia juga harus mempertanggung jawabkan ya pada Widya, ia harus mempersiapkan mental jika Widya masih marah dan membencinya


Keesokan harinya


Widya masuk kedalam sebuah cafe, dari kejauhan Widya sudah melihat Anggi yang sedang menantinya. Ia terlihat lebih kurus dan pucat.


Matanya sedikit sembab, mungkin habis menangis atau kurang istirahat karena terdapat kantung mata di sana


" Sorry aku telat" ucap Widya langsung duduk di bangku depan Anggi


"Gak Apa-apa aku juga baru sampe, kamu pesan apa? " tanya Anggi melambaikan tangan, pelayan datang mencatat pesanan Widya Keduanya tak mengucapkan apapun, masih diam sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga tak beberapa lama kemudian pelayan tersebut datang membawa pesanan Widya


"Aku minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf Wid. Aku berani sumpah, aku gak bermaksud seperti itu, namun entah bagaimana kami bisa jadi seperti itu" ungkap Anggi menunduk, ia merasa sangat bersalah pada Widya


Ia memberanikan diri membuka percakapan, karena Widya masih saja diam membuatnya merasa serba salah


" Aku kemari bukan mau membahas hal itu, aku sudah maafkan kamu" ucap Widya singkat, Widya menyeruput minumannya tanpa melihat kearah Anggi, sementara Anggi sangat senang namun juga terkejut karena Widya begitu mudah memaafkannya, bukannya ia tak senang, namun rasanya ada yang janggal, jika ia di posisi Widya, ia akan sulit memaafkan wanita yang tidur dengan suaminya, namun Widya???? Melihat suami sendiri bersetubuh dengan wanita lain adalah kesalahan fatal, walaupun itu murni bukan karena di dasari keinginan Satria maupun dirinya, ada sesuatu yang terasa aneh, seperti ia meminum obat perangsang atau sejenisnya yang membuat akal sehatnya hilang namun dengan entengnya Widya memaafkan dirinya,


Sangat aneh, namun juga Anggi merasa bersyukur ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang


"Aku memahami kamu terkejut aku sudah memaafkan kamu? pasti kamu berfikir yang gak-gak. Tapi percayalah, aku memang sudah memaafkan mu" ucap Widya cuek sambil menyeruput minuman di depannya


"Makasih ya Wid, kamu baik banget. Aku akan lakukan apapun yang kamu minta untuk menebus kesalahanku." ucap Anggi memegang tangan Widya

__ADS_1


"Untuk saat ini aku gak perlu apapun darimu" ucap Widya singkat


"Aku bersungguh-sungguh Wid, tolong jangan tolak" ucap Anggi


"Ok akan aku pikirkan nanti, sekarang aku datang kesini untuk membicarakan tentang mas Satria" ucap Widya menatap Anggi serius


Anggi terkejut, namun ia buru-buru bersikap normal, berusaha menyembunyikan keterkejutannya


Widya berdehem lalu melanjutkan ucapannya


"Aku melihat mas Satria merasa bersalah padamu, dan aku tak mau mas Satria memikirkan kesalahannya padamu.


Aku juga berfikir apa yang sudah terjadi tak akan bisa diubah, kamu sudah di nodai oleh mas Satria, sebagai seorang istri aku tak mau suamiku memiliki beban di hatinya" tambah Widya


"Aku tak mengerti arah pembicaraanmu Wid? tanya Anggi menelaah perkataan Widya yang berputar-putar


"Aku akan membiarkan mas Satria bertanggung jawab pada hal yang telah di lakukan padamu, namun hanya untuk beberapa bulan saja, ia akan menikahi kamu.


di samping itu, Seperti yang kita tahu bersama kamu juga butuh laki-laki sebagai suamimu untuk membuat mantan suamimu menjauh, anggaplah mas Satria sebagai tameng mu menghadapi mantanmu itu"ucap Widya enteng seolah tanpa beban


"Apa kau sudah gila Widya??


Apa kau tau se benci apa mas Satria padaku setelah kejadian itu? aku tak mau Wid


Bisa-bisa mas Satria akan membenciku seumur hidup, dan aku tidak siap untuk itu" ucap Anggi menolak


"Kau serahkan semuanya padaku, toh aku hanya membantu kalian saling melengkapi"lagi-lagi Widya berkata seringan itu


"Widya biar ku sampaikan padamu satu hal yang harus kamu tahu.


Setelah aku sampai rumah pada hari itu, mas Satria menelpon ku dan memintaku untuk menjauh dari kehidupan kalian.

__ADS_1


Mas Satria membenciku dan mengutuk apa yang sudah terjadi antara kami, ia juga mengatakan meminta maaf padaku namun ia tak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mas Satria juga berkata aku hanya masa lalunya dan akan sellau jadi masa lalunya yang ingin ia lupakan" Anggi mulai menangis, hatinya sakit serasa di iris mengenang apa yang Satria ucapkan


Widya termangu, mendengar apa yang di sampaikan Satria. Ada rasa bangga, senang, tersanjung di cintai oleh suaminya sebegitu besar, namun mengingat kenyataan yang akan membuat Satria membencinya, Widya kembali sadar, ia melangkah mendekati Anggi, lalu memeluknya


"Aku yakin mas Satria bukan orang yang seperti itu. Mas Satria orang yang sangat lembut dan perhatian.


Mas Satria tidak pernah membenci siapapun terlebih kamu wanita yang pernah ia cintai, memang situasinya saat itu buruk, aku sedang marah pada kalian, terlebih mas Satria, jadi wajar saja jika pikirannya buntu dan di penuhi emosi, aku harap kamu jangan di masukkan ke hati. Aku tahu ia juga menyayangimu, namun ia tak mungkin melakukannya karena kami sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak. ucap Widya lirih


Setelah setengah Jam Akhirnya tangis Anggi reda, ia sudah kembali bisa mengontrol emosinya.


"Sebaiknya kamu pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya membantumu, walau bagaimanapun kamu adalah saudariku, aku tak memiliki sadari karena aku anak yatim piatu sama seperti mas Satria.


Serahkan padaku, mas Satria pasti mendengar perkataan ku"


"Tapi....?????”


"Aku bilang percaya padaku" ucap Widya tersenyum


" Makasih Wid, kamu teman terbaik yang aku punya. Aku beruntung mengenalmu.


Mas Satria pasti sangat bangga punya


istri sepertimu" ungkap Anggi


Mereka lalu berpelukan dan berpamitan pulang, sebelum pulang Anggi memberikan sebuah paper bag berisi tas limited edition keluaran brand ternama.


Anggi sengaja membeli itu sebelum menuju Cafe, tas itu tak seberapa harganya, itu ungkapan permohonan maaf Anggi yang terdalam, walau uang tak bisa membaur semua, setidaknya Widya bisa melihat ketulusannya.


Awalnya Widya pura-pura menolaknya, namun mata Widya yang berbinar melihat isi dalam paper bag itu tak bisa mengelabuhi Anggi, Anggi sangat tahu jika Widya menyukainya, dan Anggi memaksa dengan dalih permintaan maaf. Akhirnya Widya menerimanya Widya pun tersenyum penuh kemenangan dalam hati


Sepanjang perjalanan pulang, Widya memeluk erat tas dalam paper bag pemberian Anggi, ia memperlakukan tas tersebut layaknya bayi.

__ADS_1


__ADS_2